Tafsir: Pemberdayaan Umat, Kunci Muhammadiyah Tetap Hidup di Akar Rumput
SUKOREJO, muhammadiyahsemarangkota.org – Ketua PWM Jateng KH. Ahmad Tafsir, M.Ag menegaskan bahwa program pemberdayaan umat harus menjadi prioritas utama agar eksistensi organisasi tidak hanya menjadi catatan sejarah semata. Pesan ini ia sampaikan dalam Pengajian Senin Sore (PSS) di kediaman Drs. Fauroni, Jalan Dewi Sartika Raya, Senin (19/01/26).
Puluhan jamaah Muhammadiyah dan Aisyiyah tampak antusias memadati lokasi acara. KH Ahmad Tafsir mengingatkan bahwa kekuatan persyarikatan terletak pada gerak aktif jamaahnya. Jika anggota berhenti bergerak, maka organisasi akan kehilangan arah perjuangannya.
Menghidupkan Jantung Gerakan
Ahmad Tafsir membedah tiga pilar utama gerakan: jamaah, jam’iyah, dan jariyah. Ia menilai pemberdayaan umat Muhammadiyah harus bermula dari penguatan basis anggota di tingkat ranting. Baginya, jamaah yang hidup adalah fondasi bagi organisasi yang sehat dan profesional.
“Muhammadiyah lahir sebagai gerakan, bukan sekadar organisasi. Jika jamaah berhenti bergerak, jam’iyah akan rapuh dan jariyah kehilangan arah,” tegas Ketua PWM Jateng Ahmad Tafsir dalam tausiyahnya.
Oleh karena itu, pengajian rutin menjadi instrumen penting. Melalui pembinaan rutin, semangat dakwah Islam berkemajuan tetap terjaga di tengah masyarakat.
Transformasi Ekonomi Syariah dan AUM
Selain aspek spiritual, ia juga menyoroti pentingnya kemandirian melalui ekonomi syariah. Selama ini, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) telah menunjukkan taji di sektor pendidikan dan kesehatan. Namun, Ahmad Tafsir mendorong penguatan pilar ekonomi agar manfaatnya lebih luas bagi jamaah.
Sinergi antara organisasi dan amal usaha harus menciptakan ekosistem yang mandiri. Dengan begitu, Muhammadiyah tidak hanya besar secara struktur, tetapi juga kuat secara finansial.
“Jamaah menguatkan jam’iyah, jam’iyah menggerakkan jariyah, dan jariyah kembali memberikan manfaat kepada jamaah. Inilah siklus pemberdayaan umat yang harus kita rawat,” tambahnya.
Sinergi di Akar Rumput
Tokoh-tokoh seperti Ustadz Gunarto Muchsin (Majlis Tabligh PDM Kota Semarang) dan Aminah Kurniasih (Ketua PDA Kota Semarang) turut hadir memberikan dukungan. Kehadiran mereka mempertegas soliditas pimpinan dalam mengawal program pemberdayaan di tingkat bawah.
Acara berakhir khidmat menjelang waktu Magrib. Seluruh jamaah kemudian melaksanakan salat berjamaah di Masjid Al Falah yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Momen ini membuktikan bahwa pemberdayaan umat yang efektif selalu bermula dari kebersamaan dan aksi nyata di lapangan.
Baca juga :
Menggapai Ridha Ilahi Melalui Keuntungan Amal Usaha Muhammadiyah
Amanah Berharga untuk Masa Depan Amal Usaha di Mijen
Terobosan Pendanaan PDM Semarang: AUM Wajib Sokong Operasional Majelis dan Lembaga Pelayanan