Sering dianggap sebagai pembeda identitas, perbedaan doa iftitah Muhammadiyah dan NU sebenarnya adalah keragaman yang indah. Keduanya bersumber dari tuntunan Rasulullah SAW yang sahih.
Kita sering menjumpai dua jenis doa iftitah atau doa pembuka salat di masyarakat. Secara lahiriah, terdapat perbedaan redaksi antara doa iftitah Allahu Akbar Kabira dengan doa iftitah Allahumma Baid. Versi pertama berisi kalimat yang murni memuji dan mengagungkan Allah. Sementara itu, versi kedua fokus pada permohonan hamba agar Allah menjauhkan dirinya dari dosa.
Sayangnya, perbedaan ini terkadang menciptakan jarak psikologis. Sebagian orang menganggap bacaan Kabira sebagai ciri khas warga NU. Di sisi lain, bacaan Allahumma Baid dianggap sebagai identitas warga Muhammadiyah. Padahal, perbedaan ini hanyalah “bungkus” luar saja. Jika kita membedah isinya, kedua teks tersebut memiliki hakikat yang sama.
Autentisitas Bacaan Doa Iftitah
Mari kita telusuri asal-usul kedua teks tersebut. Doa iftitah Allahu Akbar Kabira bermula dari inisiatif seorang makmum saat salat bersama Rasulullah. Nabi tidak sekadar merekomendasikan bacaan ini. Beliau bahkan takjub menyaksikan keajaiban di baliknya. Seorang makmum mengucapkan doa tersebut, dan Nabi melihat pintu-pintu langit terbuka karenanya.
Perhatikan teks hadis berikut:
بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَاَل رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ اَللهُ أَكْبِرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ الْقَائِلِ كَلِمَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ أنَاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاِء
(Dari Ibnu Umar dia berkata: Ketika kami salat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seseorang mengucapkan Allâhu Akbar kabîrawwalḩamdulillâhi kaṡîrrawwasubḩânallâhi bukratawwaaṣîlâ. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi? Seorang sahabat menjawab: Saya wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi, sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu – HR Muslim: 943).
Hadis ini berstatus taqririyyah atau ketetapan Nabi. Kualitasnya sahih. Di sisi lain, teks doa iftitah Allahumma Baid juga memiliki sanad yang sahih langsung dari petunjuk Rasulullah. Artinya, kedua sumber ini sama-sama autentik. Kita tidak perlu mempertentangkannya. Mengingkari salah satu versi sama saja dengan menolak petunjuk Nabi. Kita bebas memilih salah satunya.
Menemukan Titik Temu Makna
Jika kita kaji lebih dalam, kedua teks ini memiliki tujuan yang satu. Dalam doa iftitah Allahu Akbar Kabira, hamba menyatakan pasrah total. Orang Jawa menyebutnya “pasrah bongkokan”. Kita menyerahkan salat, ibadah, hidup, dan mati hanya untuk Allah. Hal ini selaras dengan ayat:
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(Sesungguhnya, salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya semata-mata untuk Allah, penguasa alam semesta).
Siapapun yang menyerahkan diri secara total, Allah akan menyambutnya dengan hangat. Allah akan menjamin kebutuhan hamba-Nya. Simak firman Allah berikut:
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ
(Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya – QS. Ath-Thalaq: 3).
Sementara itu, doa iftitah Allahumma Baid mengandung pesan kesucian diri. Hamba sadar bahwa ia harus bersih dari dosa untuk mendapat respon positif dari Allah. Dengan kesucian itu, ia bisa berada dalam dekapan Allah sepenuhnya.
Kesucian Hati sebagai Kunci
Nabi mengingatkan kita tentang pentingnya kesucian ini melalui sabdanya:
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ
(Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik [indah, suci]. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik [indah, suci] pula. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul – HR Muslim).
Kedua jenis bacaan doa iftitah ini mengajarkan esensi yang sama. Kita berusaha masuk ke dalam rengkuhan Allah dengan jiwa yang pasrah, bersih, dan suci. Hukum alam mengajarkan bahwa kotoran tidak bisa menyatu dengan kebersihan. Begitu pula dalam salat.
Entah kita menggunakan redaksi Kabira atau Allahumma Baid, poin utamanya adalah kebersihan hati. Jika badan, pakaian, dan hati kita masih kotor, tentu kita sulit menyatu dengan Dzat yang Maha Suci. Jiwa yang kotor akan terhalang untuk mendekat kepada Allah yang Thayyib.
Kesimpulannya, berdoa iftitah adalah peristiwa spiritual menyatunya hamba dengan Allah. Kita menghadap Sang Pencipta dalam keadaan suci lahir batin. Setelah proses iftitah ini tuntas, barulah kita memohon perlindungan dari godaan setan (taawuz) dan membaca Al-Fatihah dengan tenang.
Baca juga:
Beda Tarekat NU dan Irfani Muhammadiyah: Satu Tuhan, Dua Jalan Menuju Kesalehan
Tuntunan Bacaan Sholat Menurut Pemahaman Muhammadiyah
Panduan Praktis Fiqih Kunut Subuh: Cara Makmum Berbeda Mazhab Mengikuti Imam (Bagian 1)