Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Beda Tarekat NU dan Irfani Muhammadiyah: Satu Tuhan, Dua Jalan Menuju Kesalehan

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Beda Tarekat NU dan Irfani Muhammadiyah: Satu Tuhan, Dua Jalan Menuju Kesalehan
Drs. H. Danusiri, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus, saat mengulas realitas sosiologis fenomena Munu dalam praktik keagamaan warga Muhammadiyah dan NU. (Foto: Dok. Pribadi/Istimewa)

Banyak orang mengira perbedaan dua ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, hanya sebatas masalah fikih atau jumlah rakaat tarawih. Padahal, esensi perbedaan mereka terletak pada konsep spiritualitas yang lebih dalam, yakni antara Tarekat NU dan Irfani Muhammadiyah.

nilah dua jalan berbeda menuju Tuhan yang satu. Jika NU menempuh jalan sunyi melalui tarekat untuk mencapai ma’rifat, Muhammadiyah memilih jalan ramai melalui aktivisme sosial sebagai wujud irfani. Keduanya berangkat dari iman yang sama terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, namun memilih lorong berbeda dalam mengekspresikan kesalehan.

Artikel ini akan membedah titik temu dan titik simpang spiritualitas dua sayap garuda penjaga NKRI ini.

Tarekat NU: Jalan Mendaki Menuju Langit

Bagi warga Nahdliyin, spiritualitas adalah sebuah pendakian vertikal untuk mencapai wuṣûl ilallâh (sampai kepada Allah). Dalam tradisinya, NU melembagakan jalan ini melalui al-Jam’iyyah ath-Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah.

Proses ini tidak ditempuh sendirian. Di sinilah letak vital peran seorang Mursyid (guru spiritual). Logika yang dibangun adalah logika sanad keilmuan; sebagaimana kita butuh pemandu saat mendaki gunung agar tidak tersesat, seorang salik (pencari Tuhan) butuh guru yang silsilah keilmuannya sambung-menyambung hingga Rasulullah SAW.

Ritual seperti dzikir yang melibatkan hati, rasa, dan pikir, hingga tradisi ziarah kubur para Wali, bukanlah bentuk pengkultusan. Itu adalah manifestasi dari tawasul—membangun konektivitas batin. Tradisi ini membentuk hierarki spiritual dari Mursyid, Khalifah, hingga jamaah awam untuk menjaga disiplin spiritual. Tujuannya satu: membersihkan hati dari kotoran duniawi melalui riyadhah (latihan rohani) yang ketat dan terpimpin.

Irfani Muhammadiyah: Membumikan Tuhan dalam Amal Usaha

Di sisi lain, sering muncul anggapan keliru bahwa Muhammadiyah “kering” dari aspek spiritual. Padahal, Muhammadiyah menghayati irfani (gnostisisme/pemahaman mendalam) dengan cara yang berbeda. Bagi Muhammadiyah, puncak spiritualitas bukanlah menarik diri dari keramaian (asketisme), melainkan melayani makhluk Tuhan secara nyata.

Berlandaskan Teologi Al-Ma’un yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan, zikir Muhammadiyah adalah zikir eksistensial. Muhammadiyah tidak mengukur kesalehan dari seberapa lama seseorang duduk di atas sajadah, tetapi dari seberapa besar dampak manfaatnya bagi kemanusiaan.

Data membuktikan keberhasilan jalan “spiritualitas amal” ini. Muhammadiyah tidak mencetak figur yang sekadar kaya harta, tetapi membangun sistem filantropi raksasa. Hingga saat ini, Muhammadiyah mengelola ribuan sekolah, ratusan rumah sakit, dan perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Klaim mengenai peran globalnya pun bukan isapan jempol. Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lazismu, organisasi ini telah mendapatkan pengakuan internasional. Salah satunya, WHO telah memverifikasi Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah sebagai tim medis dengan standar operasional kelas dunia dalam penanganan bencana global. Ini adalah bukti bahwa bagi warga Muhammadiyah, bekerja keras mengurus urusan umat adalah bentuk zikir yang paling nyata.

Harmoni Dua Sayap: Kesalehan Ritual dan Sosial

Membandingkan NU dan Muhammadiyah bukanlah untuk mencari siapa yang lebih unggul, melainkan untuk melihat kekayaan khazanah Islam Indonesia.

NU menjaga “gawang” spiritualitas batin bangsa melalui tahlilan, manaqiban, dan istighosah yang menenangkan jiwa masyarakat di akar rumput. Sementara itu, Muhammadiyah menjaga “gawang” akal sehat dan fisik bangsa melalui lembaga pendidikan dan kesehatan yang modern serta terukur.

Jalan menuju kesempurnaan beragama terbentang luas. Anda bisa memilih jalan tarekat yang berpuncak pada ketenangan batin (wuṣûl), atau jalan aktivisme yang berpuncak pada perbaikan peradaban (ihsan).

Pada akhirnya, Indonesia membutuhkan tarekat NU dan Irfani Muhammadiyah. Kita butuh dzikir NU agar bangsa ini tidak kehilangan jiwa, dan kita butuh amal usaha Muhammadiyah agar bangsa ini tidak tertinggal zaman. Keduanya adalah dua jalan berbeda menuju Tuhan yang satu.

Baca juga:

Perbedaan NU dan Muhammadiyah: Rahasia Satu Kamar yang Menjaga Indonesia

Akar Persatuan NU dan Muhammadiyah: Menelusuri Jejak Intelektual KH Sholeh Darat

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: