Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Makna Tradisi Ruwahan: Beda Cara, Satu Tujuan Mulia

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Fungsionaris MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Makna Tradisi Ruwahan: Beda Cara, Satu Tujuan Mulia
Sebuah keluarga Muslim melakukan ziarah kubur sebagai bagian dari Tradisi Ruwahan untuk mendoakan leluhur di bulan Sya'ban.

Di tengah perbedaan tata cara ibadah, tradisi ruwahan hadir mempersatukan umat dalam satu tujuan: birrul walidain. Baik melalui tahlil maupun doa sunyi, inti dari tradisi ini tetaplah memohon ampunan Allah bagi para pendahulu.

Semangat persatuan dalam memuliakan momentum ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang kuat. Sejak masa awal Islam, umat Muslim memberikan apresiasi tinggi terhadap keutamaan bulan Sya’ban. Mereka beribadah jauh lebih giat di bulan ini dibanding bulan lainnya.

Kita bisa melihat indikatornya dari riwayat sejarah. Rasulullah SAW tercatat banyak melakukan puasa sunnah di bulan ini (HR Muslim: 2565). Semangat beliau kemudian diikuti oleh para Ahlul Qurra’ (para ahli Al-Qur’an). Mereka sangat giat mendaras kitab suci di bulan ini, sebagaimana ungkapan klasik:

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء

(Dahulu, bulan Sya’ban disebut pula bulan membaca Al-Qur’an).

Tidak hanya itu, Bunda ‘Aisyah RA juga memanfaatkan bulan ini untuk mengqadha puasa wajib (HR Muslim: 1146). Bahkan, tokoh salaf seperti ‘Amr bin Qais rela menutup tokonya demi fokus membaca Al-Qur’an. Artinya, aura sosial keagamaan dengan ragam amalan bulan Sya’ban sudah semarak sejak zaman Rasulullah.

Akulturasi Budaya Menjadi Tradisi

Tradisi kebaikan dari Madinah ini terus berkembang laksana bola salju ke seluruh wilayah Islam. Sesuai hukum sosial, sebuah tradisi pasti akan berinteraksi dengan budaya setempat saat melintasi suatu wilayah. Tradisi murni Madinah (Great Tradition) akhirnya bergumul dengan kearifan lokal (Little Tradition). Proses inilah yang kemudian melahirkan tradisi ruwahan di Indonesia.

Meskipun berakar dari semangat ibadah era awal Islam, pelaksanaan tradisi ini di tanah air memiliki corak unik. Secara umum, kita bisa melihat tiga kecenderungan utama di masyarakat.

Pertama, kelompok Nahdlatul Ulama (NU) menyeimbangkan tradisi lokal dan nilai Islam, contohnya tradisi arwah jamak. Kedua, Muhammadiyah memilih jalan mempertahankan kemurnian ibadah sesuai contoh Nabi (purifikasi). Ketiga, kelompok abangan lebih menonjolkan unsur lokal seperti ritual kenduren.

Kendati berbeda ekspresi, ketiga kelompok ini menyatu dalam tujuan mulia. Mereka sama-sama ingin berbakti melalui doa arwah untuk orang tua yang telah berpulang ke alam baka.

Masyarakat lokal mengenal istilah kenduren (dari bahasa Arab: khuḍuri, kehadiran). Filosofinya sederhana. Mereka berharap rahmat Allah hadir dan para leluhur mendapatkan keberkahan. Secara antropologis, momen ini menjadi titik temu ingatan antara yang masih hidup dan yang meninggal menuju keselamatan bersama.

Membedah Hukum Kirim Doa dalam Tradisi Ruwahan

Perbedaan teknis dalam tradisi ruwahan tak jarang memicu diskusi mengenai hukum kirim doa untuk orang meninggal.

Warga NU biasanya mewujudkan bakti ini melalui rangkaian tahlilan dan doa arwah. Ritual ini berisi pembacaan ayat Al-Qur’an, zikir, dan doa. Intinya mencakup tiga hal utama. Pertama, menghadiahkan Al-Fatihah. Kedua, memohon agar Allah menerima pahala bacaan tersebut. Ketiga, memohon agar pahala itu sampai kepada roh arwah, mulai dari Rasulullah hingga keluarga sendiri.

Rumus doanya sering berbunyi: “Allâhumma taqabbal wa aushil tsawaba mâ qara’nâ…” (Ya Allah, terimalah dan sampaikanlah pahala apa yang kami baca…).

Istilah “kirim doa” terkadang menimbulkan kerancuan makna. Namun, jika kita telaah lebih dalam, esensinya adalah permohonan kepada Allah. Manusia tidak punya kuasa mentransfer pahala secara langsung. Oleh karena itu, kita memohon kepada Sang Pemilik Pahala. Jadi, inti dari tahlilan sejatinya adalah doa itu sendiri. Cakupan doa ini sangat luas, seluas hajat manusia kepada Tuhannya.

Di sisi lain, Muhammadiyah mengambil pendekatan yang lebih lugas (simple). Prinsipnya tegas. Jika Rasulullah tidak mencontohkan ritual pengiriman pahala secara spesifik, maka warga Muhammadiyah tidak melakukannya.

Namun, bukan berarti mereka tidak peduli. Dalam suasana tradisi ruwahan ini, warga Muhammadiyah tetap memanjatkan doa ampunan bagi para mayit. Doa ini bersifat universal. Isinya melintasi batas mazhab dan geografi, sebagaimana firman Allah:

Rabbanaghfirlanâ wali ikhwâninallaẕîna sabaqûna bil Ĭmân. Walâ taj’al fî qulûbinâ ghillan lillaẕîna âmanû Rabbanâ innaka RaûfurRaḩîm.

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).

Kesimpulan

Pada akhirnya, semangat di balik tradisi ini adalah sama. Semua merupakan perwujudan bakti anak kepada orang tua. Masyarakat Jawa memiliki filosofi “Mikul dhuwur mendhem jero”. Artinya, kita harus mengangkat tinggi kebaikan orang tua dan menutup rapat kesalahan mereka semasa hidup.

Cara terbaik melakukannya adalah dengan memanjatkan doa arwah untuk orang tua. Kita memohonkan ampunan dan surga-Nya untuk mereka. Mari jadikan momentum Sya’ban ini untuk saling mentoleransi perbedaan. Pererat ukhuwah islamiyah, bukan mempertajam perdebatan yang tak berujung.

Baca juga;

Menghidupkan Amalan Bulan Sya’ban

Perbedaan Doa Iftitah Muhammadiyah dan NU: Ternyata Satu Hakikat!

Beda Tarekat NU dan Irfani Muhammadiyah: Satu Tuhan, Dua Jalan Menuju Kesalehan

Perbedaan NU dan Muhammadiyah: Rahasia Satu Kamar yang Menjaga Indonesia

Akar Persatuan NU dan Muhammadiyah: Menelusuri Jejak Intelektual KH Sholeh Darat

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: