Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Strategi Lansia Tangguh: Mengubah Persiapan Masa Pensiun Jadi Lebih Bermakna

8 Februari 2026, 14:30 WIB • 3 menit baca
Pembina Sekolah Lansia menyampaikan materi Lansia Tangguh di depan spanduk Pesantren Lansia Semarang Masjid At-Taqwa Ngaliyan.
Ir. Tegoeh Triadijanto, MM, saat memberikan pembekalan mengenai konsep 7 Dimensi Lansia Tangguh kepada peserta Pesantren Lansia di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Semarang.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Persiapan masa pensiun tak melulu soal finansial, tapi juga soal kesiapan mental. Di Semarang, puluhan peserta antusias mempelajari cara menjadi Lansia Tangguh agar tetap sehat dan aktif meski usia terus bertambah.

Semangat luar biasa terpancar dari wajah 34 peserta di Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates, Sabtu hingga Ahad (07-08/02/26). Mereka hadir mengikuti program Pesantren Lansia Semarang untuk memperkuat kemandirian di usia senja.

Kegiatan ini menjadi jawaban nyata bagi masyarakat yang mencari tips bahagia masa tua. Peserta tidak hanya duduk diam, tetapi terlibat aktif dalam diskusi mengenai kualitas hidup masa depan.

Menerapkan Konsep 7 Dimensi Lansia

Pembina Sekolah Lansia Ki Hadjar Dewantara, Ir. Tegoeh Triadijanto, MM, hadir sebagai pemateri utama. Ia membagikan strategi khusus mencapai kebahagiaan melalui konsep 7 dimensi lansia secara mendalam.

Ketujuh dimensi tersebut meliputi aspek spiritual, intelektual, fisik, sosial, emosional, vokasional, dan lingkungan. Keseimbangan seluruh aspek ini menjadi kunci utama untuk membentuk sosok Lansia Tangguh yang mandiri.

“Kita perlu mempraktikkan dimensi ini secara holistik untuk menjaga kebahagiaan lahir dan batin,” ujar Tegoeh. Ia menekankan bahwa gaya hidup sehat lansia harus tumbuh dari kesadaran diri sendiri.

Selain itu, Tegoeh menjelaskan pentingnya olahraga rutin seperti senam untuk menjaga dimensi fisik tetap prima. Aktivitas sosial di pesantren juga membantu para peserta tetap terhubung dengan komunitasnya.

“Para orang tua kita harus memahami posisinya, apakah masih lansia muda atau sudah lansia paripurna. Dengan mengenali diri sendiri, kita bisa mengantisipasi tantangan kesehatan maupun sosial lebih dini,” ungkap Ir. Tegoeh Triadijanto.

Menanamkan Kemandirian Sejak Usia Prateransia

Sejalan dengan hal itu, Ketua Panitia Sholikul Hadi mencatat tren menarik pada angkatan kali ini. Rata-rata peserta berusia 55 tahun, yang berarti kesadaran persiapan masa pensiun kini tumbuh lebih awal.

Sholikul menjelaskan bahwa jumlah lansia terus meningkat seiring membaiknya kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, kesiapan fisik dan sosial menjadi modal utama agar tidak menjadi beban bagi keluarga.

“Pesantren lansia ini menjadi tempat untuk membimbing dan mengarahkan mereka menuju Lansia Tangguh. Kami ingin setiap peserta pulang dengan spiritualitas yang mandiri,” jelas Sholikul Hadi.

Melalui perpaduan pengajian dan aktivitas fisik, program ini membuktikan bahwa masa tua bukanlah akhir produktivitas. Para peserta belajar untuk terus bergerak dan berpikir positif setiap hari.

Pada akhirnya, menjadi tua yang bahagia memerlukan investasi waktu dan kemauan untuk terus belajar. Dengan menerapkan 7 dimensi lansia, setiap orang bisa menikmati masa senja dengan penuh martabat dan keceriaan.

Baca juga :

Tawa dan Air Mata di Pesantren Lansia Semarang: Mengupas Satu-Satunya Bekal Abadi Menuju Liang Lahat

Ludes dalam 24 Jam! Pesantren Lansia Semarang Naik Kelas, Target 50 Santri Awal 2026

Kontributor: Tim Media Masjid At Taqwa Ngaliyan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: