Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Makna Sebenarnya Niat Shalat Tarawih di Bulan Ramadan

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Makna Sebenarnya Niat Shalat Tarawih di Bulan Ramadan
ekhusyukan dan kehadiran hati adalah kunci utama dalam melafalkan niat shalat tarawih, bukan sekadar ucapan di lisan.

Bulan suci Ramadan selalu identik dengan ibadah malam yang penuh berkah. Namun, tahukah kita bahwa masih banyak orang yang keliru dalam memahami niat shalat tarawih?

Oleh karena itu, mari kita bedah tuntas tata cara shalat tarawih beserta makna sebenarnya. Hal ini sangat penting agar ibadah kita tidak sekadar menjadi rutinitas tanpa ruh.

Hakikat Niat dalam Beribadah

Pemahaman umum masyarakat terkait niat shalat tarawih sering kali bersandar pada sebuah hadis masyhur. Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini dengan saksama.

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: “Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR Bukhari: 1, 6195, 6439, Muslim, 3530, Turmuzi: 1571, Abu Dawud: 1882, Nasai: 74, 3383, 3734, Ibnu Majah: 4217, Ahmad: 163).

Dalam konteks historisnya, pesan hadis tersebut sebenarnya berkaitan erat dengan komando seruan hijrah ke Madinah. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan agama Islam dari kekejaman kaum kuffar pada masa itu. Jadi, sabda ini pada awalnya bukan secara spesifik tertuju untuk ibadah mahdhah seperti shalat.

Ratusan tahun setelah generasi Rasulullah, barulah ulama mulai menjadikan petunjuk hadis ini sebagai dalil ibadah. Dari sinilah sebagian ulama mulai merumuskan hukum niat dalam shalat secara lebih terperinci. Sebagai contoh, kalangan Syafi’iyyah mewajibkan niat itu ada di dalam hati. Selain itu, mereka juga menganjurkan pelafalan bacaan niat shalat tarawih menggunakan lisan.

Keselarasan Makna Tarawih dan Hati

Ketika kita melaksanakan ibadah ini, kita perlu mengkaji makna dari kata “tarawih” itu sendiri. Terkait hal ini, Ibnu Hajar memberikan penjelasan ahli yang sangat mencerahkan. Mari kita cermati kutipan penjelasan beliau berikut ini.

وَالتَّرَاوِيحُ جَمْعُ تَرْوِيحَةٍ، وَهِيَ المَرَّةُ الوَاحِدَةُ مِنَ الرَّاحَةِ، كَتَسْلِيمَةٍ مِنَ السَّلَامِ، سُمِّيَتِ الصَّلَاةُ فِي الجَمَاعَةِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ التَّرَاوِيحَ، لِأَنَّهُمْ أَوَّلَ مَا اجْتَمَعُوا عَلَيْهَا كَانُوا يَسْتَرِيحُونَ بَيْنَ كُلِّ تَسْلِيمَتَيْنِ

Artinya: Tarâwîḩ adalah jamak dari tarwîḩah yaitu istirahat satu kali, seperti kata taslimah berasal dari kata salâm. Salat berjamaah di malam-malam bulan Ramadhan disebut sebagai tarawih karena pada awalnya salat tarawih dilakukan secara berjamaah. Para sahabat beristirahat diantara setiap dua kali salam (Ibnu Ḫajar, Fatḩul Bari, Juz IV, h. 250)..

Teks tersebut jelas menunjukkan bahwa pelaksanaan shalat ini memiliki dua unit kegiatan pokok: shalat dan istirahat. Akibatnya, menerjemahkan niat shalat tarawih secara harfiah bisa sangat mereduksi maknanya.

Pemaknaan kasarnya bisa sekadar berubah menjadi “Aku niat shalat istirahat”. Oleh sebab itu, kesadaran dan kehadiran hati menjadi kunci yang paling utama.

Kita tentu tidak dianjurkan melakukan ibadah malam ini dengan laju sangat cepat ibarat sebuah mesin. Apalagi, Rasulullah SAW selalu mengingatkan tentang pentingnya kondisi hati dalam setiap amalan.

Berikut adalah sabda beliau yang patut kita jadikan bahan renungan bersama.

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَل ّ َى اللهُ عَلَيْهِ وَسَل ّ َمَ يَقُوْلُ إِن ّ َمَا الْأَعْمَالَ كَالْوِعَاءِ إِذَا طَابَ أَسْفَلَهُ طَابَ أَعْلَاهُ وَإِذَا فَسَدَ أَسْفَلَهُ فَسَدَ أَعْلَاهُ

Artinya: “Sesungguhnya amalan seseorang itu bagaikan tempat minum, Jika bawahnya jernih maka atasnya pun ikut jernih, namun jika bawahnya keruh maka permukaannya pun ikut keruh.” (HR Ibnu Majah: 4189).

Hadis ini secara umum menggambarkan betapa pentingnya suasana hati saat kita sedang berbuat sesuatu. Jika ucapan kita tidak sinkron dengan hati, ibadah shalat kita bisa masuk kategori keruh. Padahal, secara hukum fikih ibadah tersebut mungkin sudah dinilai sah seratus persen.

Jaga Esensi Niat Shalat Tarawih

Lebih jauh lagi, nilai akhir dari sebuah amalan juga sangat bergantung pada bagian penutupnya. Oleh karena itu, esensi niat shalat tarawih harus terus kita jaga hingga salam terakhir. Rasulullah SAW secara tegas mengingatkan hal ini dalam riwayat hadis berikut.

فَقَالَ الن ّ َبِي ّ ُ صَل ّ َى اللهُ عَلَيْهِ وَسَل ّ َمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِن ّ َ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الن ّ َارِ وَإِن ّ َهُ مِنْ أَهْلِ الْجَن ّ َةِ وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَن ّ َةِ وَإِن ّ َهُ مِنْ ِأَهْلِ الن ّ َارِ وَإِن ّ َمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ

Artinya: “Sungguh ada seorang hamba yang melakukan amalan-amalan penghuni neraka, namun berakhir menjadi penghuni surga, dan ada seorang hamba yang mengamalkan amalan-amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka, sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupan.” ( HR Bukhari: 6012, 6117, Ahmad: 21768).

Tradisi jeda istirahat saat melafalkan niat shalat tarawih berjamaah juga memiliki dasar sejarah yang sangat kuat. Praktik ini merupakan bentuk peneladanan langsung terhadap kekhusyukan ibadah shalat malam Nabi SAW. Saking khusyuknya jeda istirahat beliau, Aisyah bahkan sempat menyangka Rasulullah sedang tertidur.

Mari kita simak kesaksian Aisyah di bawah ini.

ثُم ّ َ يُصَل ّ ِي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوْتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةَ إِن ّ َ عَيْنَيْ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِيْ

Artinya: “Beliau salat tiga raka’at. ‘Aisyah berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir? Beliau menjawab: Wahai ‘Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur.” (HR Bukhari: 1079, 1874).

Meraih Kesadaran Penuh

Pada akhirnya, mari kita bersama-sama mengembalikan kemurnian niat shalat tarawih pada kesadaran batin yang seutuhnya. Awal mula shalat selalu ditandai dengan kekhusyukan mengucap takbiratul ihram. Pada momen vital itulah, kesatuan fungsional antara batin dan gerakan badan pasti terjadi.

Melafalkan bacaan untuk membantu kekhusyukan tentu saja tidak pernah ada larangannya. Namun, syarat mutlak utamanya adalah hati kita benar-benar menyadari esensi ibadah tersebut.

Baca juga:

Panduan Lengkap: Variasi Jumlah Rakaat Shalat Tarawih dan Witir yang Jarang Diketahui

Stop Keliru! Ternyata Shalat Tarawih 4 Rakaat Gak Perlu Pakai Tahiyat Awal

Cari Lokasi Tarawih Muhammadiyah Semarang? Cek Daftar Lengkapnya di Sini

Semoga seluruh rangkaian salat tarawih di bulan Ramadan tahun ini senantiasa penuh dengan keikhlasan yang nyata.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: