Dalam pelaksanaan tata cara sholat tarawih, umat Islam sering menemui perbedaan kebiasaan. Sebagai contoh, warga Muhammadiyah terpecah dalam hal ini. Sebagian jamaah mematuhi fatwa tarjih dengan formasi 4, 4, dan 3. Sementara itu, sebagian lainnya mengikuti metode Salafi. Mereka menambah sholat iftitah dua rakaat pada awal sholat. Oleh karena itu, jumlah rakaat totalnya mencapai 13 rakaat.
Secara formal, jumlah rakaat tersebut memang benar. Formasi ini merujuk langsung pada petunjuk Nabi. Akan tetapi, kedua metode ini sama-sama memiliki kekurangan. Keduanya belum mempraktikkan sunnah Nabi secara penuh dalam sholat malam.
Sebagai buktinya, pelaksanaan sholat malam saat ini masih berada di awal malam. Gerakan tarawih di seluruh dunia umumnya terjadi pada waktu sore. Padahal, Rasulullah SAW melaksanakan ibadah ini pada tengah malam. Beliau melakukannya di masjid hanya dua atau tiga kali seumur hidup.
Fakta ini tertulis jelas dalam sebuah hadis. Kutipan hadis tersebut menyebutkan: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ Artinya: (bahwa SAW pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat Rasulullahat di masjid – HR Bukhari: 872, 1873, Muslim: 1271).
Menyelami Sunnah Nabi dalam Sholat Malam
Selanjutnya, mari kita bahas kelompok yang menggunakan sholat iftitah. Praktik 13 rakaat ini berdasar pada riwayat Muslim. Hadis ini menjelaskan tata cara sholat tarawih Rasulullah SAW secara rinci. Berikut adalah redaksi hadisnya.
لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى. رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً +
Artinya: Sungguh aku perhatikan salat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari, ternyata beliau memulai dengan salat dua rakaat yang ringan. Kemudian beliau salat dua rakaat dengan bacaan yang panjang sekali. Kemudian salat dua rakaat, bukan dari rakaat sebelumnya. kemudian salat dua rakaat, bukan salat dua rakaat sebelumnya. Kemudian salat dua rakaat lagi, bukan salat sebelumnya. Kemudian salat dua rakaat bukan salat dua rakaat dari sebelumnya. Kemudian salat dua rakaat selain dua rakaat sebelumnya. Kemudian beliau salat witir sehingga semua menjadi 13 raka’at (HR. Muslim, no. 765).
Hadis ini memberikan petunjuk yang sangat tegas. Sholat pendahuluan dua rakaat harus berlangsung ringan. Jamaah hanya membaca surat pendek dengan ruku dan sujud yang singkat. Sebaliknya, rakaat-rakaat selanjutnya wajib terasa berat dan lama.
Sayangnya, praktik saat ini sering melenceng. Banyak jamaah melaksanakan iftitah, tetapi rakaat sesudahnya tetap ringan. Kondisi ini tentu tidak sesuai dengan sunnah Nabi. Umat baru mengikuti sunnah jika mempraktikkan hadis tersebut apa adanya.
Modifikasi Formasi 11 Rakaat dan Sikap Toleransi
Di sisi lain, sebagian umat memilih formasi 4, 4, dan 3. Mereka menjadikan riwayat Aisyah sebagai rujukan utama. Hadis ini berbunyi: عَنْ عَائِشَةَ حِيْنَ سُئِلَتْ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً +
Artinya: Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ketika ia ditanya mengenai salat Rasulullah saw di bulan Ramadhan. Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan salat sunnat di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat (HR Bukhari: 1079, 1874, 3304, Muslim: 1219).
Namun, praktik ini juga sering mengalami kekurangan. Jamaah sering kali hanya membaca surat pendek. Padahal, Nabi selalu membaca surat panjang seperti al-Baqarah, Ali Imran, dan an-Nisa’.
Pada kenyataannya, kedua kelompok telah memodifikasi ibadah ini. Mereka menyesuaikan bacaan dengan kemampuan para ulama dan masyarakat awam. Biasanya, mereka membaca dua surat pendek pada setiap rakaat.
Bahkan, ada modifikasi lanjutan berdasarkan riwayat Aisyah. Riwayat itu berbunyi: عَنْ عَائِشَةَ وَفيهِ: كُلُّ سُورَةٍ فِي ركْعَةٍ،. (Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan di dalamnya, Masing-masing surah untuk satu rakaat). Jika imam membaca satu ayat di luar juz 30, itu dianggap kebablasan. Praktik semacam itu tidak pernah Nabi lakukan.
Kesimpulannya, setiap kelompok pasti memiliki kelemahan. Oleh karena itu, kita sebaiknya saling menyadari keterbatasan masing-masing. Kita tidak perlu saling menyalahkan atas kesalahan ini. Sebaliknya, warga Muhammadiyah dan Salafi harus saling mentoleransi.
Lebih dari itu, kita wajib memohon ampunan kepada Allah. Kita belum mampu melaksanakan sunnah Nabi khususnya dalam tata cara sholat tarawih secara utuh. Sebagai solusinya, perbanyaklah doa Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibul ‘afwa fa’fu ‘annî. Doa di sela-sela salam ini sangat penting untuk menutupi kekurangan sholat kita.
Baca juga:
Makna Sebenarnya Niat Shalat Tarawih di Bulan Ramadan
Panduan Lengkap: Variasi Jumlah Rakaat Shalat Tarawih dan Witir yang Jarang Diketahui
Cari Lokasi Tarawih Muhammadiyah Semarang? Cek Daftar Lengkapnya di Sini