Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Cara Terbaik Bersyukur di Malam Lailatul Qadar

14 Maret 2026, 10:05 WIB 2 menit baca
Siluet seorang pria sedang berdoa dengan khusyuk di dalam masjid yang tenang di bawah pancaran cahaya ilahi, merepresentasikan suasana Malam Lailatul Qadar. (Fungsi: Menjelaskan isi gambar kepada mesin pencari dan pembaca layar bagi tunanetra).
Suasana refleksi dan ibadah di penghujung Ramadan, mengajak jamaah untuk senantiasa Bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan. (Fungsi: Teks yang muncul di bawah gambar pada artikel untuk memberikan konteks kepada pembaca).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Mengejar Lailatul Qadar tak hanya soal iktikaf, tapi juga soal hati yang Bersyukur. Inilah pesan mendalam Ustadz Rifai di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Semarang, saat menyampaikan Kultum Malam ke-22, Kamis (12/03/26). Suasana masjid seketika bergetar hebat ketika sang ustadz menguraikan makna syukur di penghujung bulan suci.

Kekuatan dalam Keringkasan

Ustadz Rifai membuktikan bahwa materi padat tidak membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyentuh jiwa. Kultum Penghujung Ramadan ini hadir sebagai sarana edukasi yang efisien bagi jamaah. Ia sengaja mengemas pesan dalam durasi 5 hingga 15 menit agar poin-poin penting langsung meresap ke dalam hati.

“Maka selaku orang yang beriman, marilah kita senantiasa Bersyukur atas segala nikmat yang kita terima,” tegas Ustadz Rifai dengan nada tenang. Selanjutnya, sosok pendakwah ini mengingatkan bahwa setiap tarikan napas adalah titipan berharga. Oleh karena itu, kita harus menghargai setiap rezeki dan kesehatan sebelum waktu di dunia benar-benar habis.

Struktur Dakwah yang Mengalir

Meskipun penyampaiannya singkat, ceramah ini memiliki struktur yang sangat rapi. Ustadz Rifai memulai dengan doa pembuka, kemudian langsung masuk ke inti topik mengenai perbaikan niat. Selain itu, ia menggunakan bahasa yang ringan agar jamaah dari berbagai kalangan mudah mencerna pesan teologis tersebut.

Menariknya, ia juga menyinggung tentang beberapa warga yang baru saja berpulang ke Rahmatullah. Hal ini menjadi pengingat nyata bahwa kematian bisa datang kapan saja tanpa memandang usia.

“Seolah-olah beberapa tahun ke depan kita tidak bertemu lagi dengan Ramadan. Maka, perbuatan baik dan sikap Bersyukur itu sebenarnya untuk keselamatan diri kita sendiri,” tambah sang ustadz dengan penuh penekanan.

Refleksi di Ambang Perpisahan

Tujuan utama dari metode dakwah ini adalah memberikan tadzkirah atau pengingat rutin bagi umat. Melalui pendekatan yang langsung pada sasaran, kultum berhasil menjadi jembatan edukasi yang efektif. Akhirnya, ia menutup ceramah dengan ajakan sederhana untuk menyebarkan senyum sebagai sedekah. Pesan tersebut mengingatkan kita bahwa cara terbaik Bersyukur adalah dengan membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Baca juga :

Amalan Paling Dicintai Allah: Mengapa Harus Istiqamah di Akhir Ramadan?

Esensi Puasa Ramadan: Mengapa Manajemen Jiwa Lebih Penting dari Menahan Lapar?

Kontributor: Gahthan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: