Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Khutbah Idulfitri 2026 di Semarang: Hilang Nurani Memanusiakan Manusia, Derajat Jatuh bak Binatang

20 Maret 2026, 14:47 WIB 2 menit baca
Profil seorang pria Muslim lansia Indonesia dengan peci hitam, duduk di sajadah di halaman Masjid As Salam Wonodri, Semarang Selatan, merenung dengan khidmat di tengah ribuan jemaah Shalat Idulfitri 2026.
Ilustrasi seorang jemaah pria Muslim lansia merenungkan pesan khutbah Idulfitri tentang pentingnya menjaga nurani dan memanusiakan manusi

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org– Umat Islam mendapat peringatan keras untuk terus menjaga nurani dan sikap memanusiakan manusia seusai menjalani ibadah puasa Ramadan. Tokoh Muhammadiyah sekaligus akademisi Undip, Drs. H. Suparno, M.Si., menegaskan peringatan moral ini kala ia menyampaikan khutbah Idulfitri 2026 di halaman Masjid As Salam Wonodri, Semarang Selatan, pada Jumat (20/3/2026).

Esensi Kemanusiaan dalam Beragama

Ibadah puasa Ramadan sejatinya tidak hanya membangun kedekatan vertikal dengan Sang Pencipta. Namun, ibadah puasa juga harus memperkuat dimensi horizontal antar sesama manusia. Oleh karena itu, makna Idulfitri yang sesungguhnya wajib melahirkan kembali rasa cinta kemanusiaan di tengah dinamika masyarakat.

“Pembeda manusia dengan makhluk lainnya adalah sifat kemanusiaan,” ujar Sekretaris Umum Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Drs. H. Suparno, M.Si.

“Jika manusia masih bisa memanusiakan manusia, maka ia masih layak disebut manusia,” lanjutnya.

Akademisi Universitas Diponegoro (Undip) ini kemudian mengingatkan sebuah pesan tegas dari Al-Qur’an. Ia merujuk pada Surat Al-A’raf ayat 179 tentang bahaya hilangnya nurani. Menurutnya, wujud fisik semata tidak cukup untuk mendefinisikan kemuliaan seseorang.

“Tetapi jika sifat kemanusiaan hilang dari manusia, walau fisiknya manusia, ia tidak layak disebut manusia,” tegas Ustadz Suparno.

Ia menambahkan bahwa sosok tak bernurani tersebut justru memiliki kedudukan lebih hina daripada binatang ternak di mata Allah SWT.

Merajut Persaudaraan Pasca-Ramadan

Selanjutnya, Ustadz Suparno menggarisbawahi pentingnya menjaga kerukunan usai Ramadan berakhir. Pesan ini mengajak seluruh umat Islam untuk terus mempererat tali persaudaraan atau ukhuwah insaniyah. Sikap saling menghargai menjadi landasan utama dalam membangun kedamaian bangsa.

Selain itu, wujud nyata dari upaya memanusiakan manusia tampak pada semangat berbagi. Ustadz Suparno menjelaskan bahwa umat Islam baru mencapai kebajikan sejati ketika mereka mau menginfakkan harta yang paling mereka cintai. Langkah nyata ini membuktikan kepedulian sosial umat Islam.

Sebagai penutup pesan khutbah Idulfitri 2026 ini, ia mengajak jemaah untuk konsisten beramal saleh. Amal yang baik niscaya akan membawa umat pada kehidupan yang lebih damai atau hayatan thoyyibah.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu,” pungkas Ustaz Suparno mengutip Surat Al-Hujurat ayat 10.

Kontributor: Tim MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: