Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Stop Fanatik Buta! Kenali Ciri Muslim Moderat yang Bikin Hidup Tenang

22 Maret 2026, 14:51 WIB 3 menit baca
Foto close-up dari arah bawah yang memperlihatkan seorang pria Muslim mengenakan peci hitam, kemeja putih, jas abu-abu tua, dan syal batik kuning keemasan yang diselempangkan di bahu kirinya. Ia sedang berdiri tegak di atas podium kayu berukir yang menampilkan logo matahari putih Muhammadiyah dengan latar belakang daun pohon beringin besar yang rimbun dan langit pagi yang cerah. Wajahnya menatap ke depan dengan ekspresi serius saat memberikan khotbah, dan terdapat mikrofon kecil yang terpasang di kerah kemejanya.
PESAN WASATHIYYAH: Ust. Yuliansah Masyhar, S.T. (Komandan Kokam PDM Kota Semarang), saat menyampaikan khotbah Idul Fitri 1447 H di hadapan ribuan jemaah di Alun-Alun 1 Jepara, Jumat (20/3/2026). Dalam pesannya, ia menekankan pentingnya menjadi Muslim moderat yang adil dalam bersikap melalui penguasaan ilmu pengetahuan, menanggalkan fanatisme buta, serta fokus menebar manfaat tanpa harus ekstrem guna menjaga harmoni dan kedamaian bangsa.

Jepara, muhammadiyahsemarangkota.org — Ribuan warga memadati Alun-Alun 1 Jepara dengan balutan pakaian putih bersih untuk merayakan kemenangan pada Jumat (20/3/2026). Buktinya, suasana khidmat begitu terasa saat jemaah menyimak pesan mendalam mengenai pentingnya menjadi muslim moderat di tengah gempuran zaman yang serba ekstrem. Alhasil, momen Idul Fitri 1447 H ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang refleksi diri untuk kembali ke jalan tengah yang penuh rahmat.

Prinsip hidup yang seimbang atau wasathiyyah merupakan kunci utama agar umat Islam tidak terjebak dalam sikap berlebih-lebihan. Pasalnya, Rasulullah SAW telah memberikan teladan sempurna tentang bagaimana menjaga harmoni antara urusan duniawi dan ukhuwah keagamaan. Khotib mengajak setiap individu untuk menanggalkan sikap fanatisme buta dan mulai mengedepankan kebijaksanaan dalam setiap interaksi sosial.

Ciri Utama: Menebar Manfaat Tanpa Harus Ekstrem

Selanjutnya, Komandan Kokam PDM Kota Semarang, Ust. Yuliansah Masyhar, S.T., memaparkan lima identitas penting bagi seorang muslim moderat. Buktinya, identitas pertama adalah menjadi pribadi terbaik yang paling banyak memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Dampaknya, kehadiran umat Islam akan selalu menjadi penyejuk dan pemberi solusi di tengah berbagai kekacauan atau kemaksiatan yang terjadi.

Seorang muslim yang bijak harus mampu menempatkan segala sesuatu pada porsinya dengan bantuan penguasaan ilmu pengetahuan yang mumpuni.

“Muslim yang moderat itu adil dalam bersikap, karena keadilan hanya bisa kita raih melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang benar,” tegas Ust. Yuliansah Masyhar.

Ternyata, konsep hidup moderat juga menuntut adanya keseimbangan antara mengejar sukses di dunia dan mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dampaknya, umat tidak akan terjebak pada sifat materialisme yang rakus maupun spiritualisme yang menjauh dari realitas sosial kemasyarakatan. Sikap proporsional dalam beribadah sesuai sunnah namun tetap inovatif dalam urusan sosial menjadi ciri khas yang harus terus melekat.

Esensi Wasatha: Menjaga Keadilan di Tengah Perbedaan

Kemudian, khotib menjelaskan bahwa makna wasatha dalam Al-Qur’an mencakup aspek keadilan, pilihan terbaik, dan paling bijaksana. Buktinya, kajian kitab suci menunjukkan bahwa berada di posisi tengah bukan berarti lemah, melainkan posisi paling strategis untuk melihat kebenaran secara utuh. Alhasil, pemahaman ini membekali jemaah agar tetap konsisten menjaga waktu sholat dan amanah sebagai wakil Tuhan di muka bumi.

Umat Islam wajib memahami bahwa perbedaan pandangan merupakan kekayaan khazanah keilmuan yang tidak perlu memicu perpecahan atau permusuhan.

Ust. Yuliansah Masyhar berharap momentum Idul Fitri menjadikan umat Islam sebagai penyebar rahmat yang gigih menghalau setiap kemudaratan bagi bangsa.

Rangkaian sholat ied tersebut ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan kedamaian seluruh rakyat Indonesia. Sejatinya, menjadi muslim moderat adalah panggilan jiwa untuk terus menebar nilai kejujuran dan tanggung jawab di mana pun kaki berpijak. Mari kita jadikan semangat hari fitri ini sebagai bahan bakar untuk menjadi pribadi yang lebih adil dan peduli terhadap sesama sepanjang tahun!

Baca Juga :

Wasatiyyat Islam, Diplomasi Muhammadiyah di Panggung Global

Toleransi Natal 2025: Menjaga Akidah dan Etika Moderasi Beragama

Kontributor: Yuliansah Masyhar
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: