Gebrakan Nasyiatul Aisyiyah: Rajut Ukhuwah Demi Cetak Keadaban Perempuan Dunia
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Peradaban manusia di masa depan akan sangat bergantung pada peran maksimal dan kontribusi nyata dari sosok wanita. Buktinya, Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Wonosari dan Mangkang menggelar momentum HalalbiHalal sebagai pijakan awal untuk merajut persaudaraan yang lebih kuat. Alhasil, kegiatan di Masjid Al Muhajirin Dondong pada Ahad (5/4/2026) ini sukses menegaskan posisi keadaban perempuan sebagai penggerak utama perubahan sosial.
Ketua PRNA Wonosari, Nif’ah Sholihah, mengajak segenap pengurus dan anggota untuk mengeratkan kembali tali ukhuwah yang sempat merenggang. Pasalnya, kesetiaan anggota dalam menghadiri pengajian rutin menjadi modal utama bagi organisasi untuk terus tumbuh dan memberikan manfaat luas. Kehadiran para kader Nasyiatul Aisyiyah dalam momen 17 Syawwal 1447 H ini sekaligus menandai pembukaan lembaran baru perjuangan dakwah di wilayah Ngaliyan.
Persaudaraan Kandung: Fondasi Kokoh Membangun Peradaban
Selanjutnya, Ustad Asep Jauharudin, S.Ag. memberikan pesan mendalam mengenai esensi hubungan antar sesama muslim yang harus menyentuh hingga ke dalam hati. Buktinya, ia mengutip surat Al Hujurat ayat 10 yang mengibaratkan persaudaraan seiman layaknya hubungan saudara kandung yang sangat erat. Dampaknya, pemahaman ini mendorong setiap anggota untuk menjauhkan diri dari sikap saling mencela demi menjaga martabat dan keadaban perempuan dalam organisasi.
Ustad Asep Jauharudin menegaskan bahwa persaudaraan yang kuat tidak boleh hanya bersifat lahiriah atau tampak di permukaan saja.
“Hendaknya kita membangun sikap taawun atau tolong-menolong terhadap saudara seiman sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Ustad Asep penuh penekanan.
Ternyata, sikap saling mendukung antar kader menjadi bahan bakar utama bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk mewujudkan visi besar mereka dalam membangun peradaban manusia. Dampaknya, setiap anggota kini merasa memiliki tanggung jawab moral untuk saling menjaga kehormatan sesama saudara sefirkah. Hal ini membuktikan bahwa keadaban perempuan yang solid bermula dari ketulusan hati dalam menjalin silaturahmi yang tanpa sekat.
Implementasi Al-Qur’an: Menjadi Warga yang Penuh Keadaban
Kemudian, sang ustad memaparkan bahwa bukti nyata dari sebuah peradaban terletak pada tingkah laku manusia yang sesuai dengan norma-norma berlaku. Buktinya, ia mendorong para anggota NA untuk terus mengamalkan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, setiap langkah kader diharapkan mampu mencerminkan nilai-nilai luhur yang memperkuat identitas keadaban perempuan Muhammadiyah di mata dunia.
Ustad Asep Jauharudin mengingatkan bahwa semua perilaku manusia dari dulu hingga sekarang menjadi catatan sejarah bagi tegaknya sebuah peradaban.
“Hendaklah anggota Nasyiatul Aisyiyah berusaha mengamalkan ajaran Islam agar menjadi manusia yang beradab dan warga yang penuh keadaban,” pesan sang ustad menutup tausiyahnya.
Kegiatan yang penuh inspirasi ini berakhir dengan sesi mushofahah dan ramah tamah yang hangat antara pengurus serta anggota. Sejatinya, masa depan peradaban memang berada di tangan mereka yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kelembutan akhlak. Mari kita dukung penuh langkah nyata ini agar keadaban perempuan terus bersinar dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan agama!
Baca Juga :
Prof. Abdul Mu’ti hadiri Halalbihalal FOKAL IMM Jateng: Kader Jangan Jago Kandang!
Pereda Politik Panas! Kisah Harmoni Warga di Balik Tradisi HalalbiHalal