Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Gebrakan Nasyiatul Aisyiyah: Rajut Ukhuwah Demi Cetak Keadaban Perempuan Dunia

5 April 2026, 17:00 WIB 3 menit baca
Foto suasana hangat di dalam Masjid Al Muhajirin Dondong yang menunjukkan puluhan kader perempuan Nasyiatul Aisyiyah sedang melakukan tradisi mushofahah (bersalam-salaman). Mereka berbaris memanjang membentuk antrean yang tertib, mengenakan jilbab seragam berwarna biru muda dan hijau toska, serta pakaian muslimah bermotif batik. Di latar belakang, tampak sebuah banner biru bertuliskan "HALAL BI HALAL" dengan logo Nasyiatul Aisyiyah dan Aisyiyah yang terpasang di dinding masjid berwarna hijau muda. Ruangan masjid terlihat bersih dengan lantai keramik putih dan pilar besar di sisi kanan. Di ujung antrean, terlihat beberapa anak kecil ikut mendampingi ibunya dalam suasana yang penuh keakraban.
RAJUT UKHUWAH: Para kader Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Wonosari dan Mangkang melakukan sesi mushofahah (bersalam-salaman) dalam acara Halal bi Halal di Masjid Al Muhajirin Dondong, Ahad (5/4/2026). Momentum yang bertepatan dengan 17 Syawwal 1447 H ini menjadi pijakan awal untuk memperkuat fondasi persaudaraan seiman layaknya saudara kandung, guna mencetak keadaban perempuan sebagai penggerak utama perubahan sosial dan peradaban masa depan.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Peradaban manusia di masa depan akan sangat bergantung pada peran maksimal dan kontribusi nyata dari sosok wanita. Buktinya, Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Wonosari dan Mangkang menggelar momentum HalalbiHalal sebagai pijakan awal untuk merajut persaudaraan yang lebih kuat. Alhasil, kegiatan di Masjid Al Muhajirin Dondong pada Ahad (5/4/2026) ini sukses menegaskan posisi keadaban perempuan sebagai penggerak utama perubahan sosial.

Ketua PRNA Wonosari, Nif’ah Sholihah, mengajak segenap pengurus dan anggota untuk mengeratkan kembali tali ukhuwah yang sempat merenggang. Pasalnya, kesetiaan anggota dalam menghadiri pengajian rutin menjadi modal utama bagi organisasi untuk terus tumbuh dan memberikan manfaat luas. Kehadiran para kader Nasyiatul Aisyiyah dalam momen 17 Syawwal 1447 H ini sekaligus menandai pembukaan lembaran baru perjuangan dakwah di wilayah Ngaliyan.

Persaudaraan Kandung: Fondasi Kokoh Membangun Peradaban

Selanjutnya, Ustad Asep Jauharudin, S.Ag. memberikan pesan mendalam mengenai esensi hubungan antar sesama muslim yang harus menyentuh hingga ke dalam hati. Buktinya, ia mengutip surat Al Hujurat ayat 10 yang mengibaratkan persaudaraan seiman layaknya hubungan saudara kandung yang sangat erat. Dampaknya, pemahaman ini mendorong setiap anggota untuk menjauhkan diri dari sikap saling mencela demi menjaga martabat dan keadaban perempuan dalam organisasi.

Ustad Asep Jauharudin menegaskan bahwa persaudaraan yang kuat tidak boleh hanya bersifat lahiriah atau tampak di permukaan saja.

“Hendaknya kita membangun sikap taawun atau tolong-menolong terhadap saudara seiman sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Ustad Asep penuh penekanan.

Ternyata, sikap saling mendukung antar kader menjadi bahan bakar utama bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk mewujudkan visi besar mereka dalam membangun peradaban manusia. Dampaknya, setiap anggota kini merasa memiliki tanggung jawab moral untuk saling menjaga kehormatan sesama saudara sefirkah. Hal ini membuktikan bahwa keadaban perempuan yang solid bermula dari ketulusan hati dalam menjalin silaturahmi yang tanpa sekat.

Implementasi Al-Qur’an: Menjadi Warga yang Penuh Keadaban

Kemudian, sang ustad memaparkan bahwa bukti nyata dari sebuah peradaban terletak pada tingkah laku manusia yang sesuai dengan norma-norma berlaku. Buktinya, ia mendorong para anggota NA untuk terus mengamalkan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, setiap langkah kader diharapkan mampu mencerminkan nilai-nilai luhur yang memperkuat identitas keadaban perempuan Muhammadiyah di mata dunia.

Ustad Asep Jauharudin mengingatkan bahwa semua perilaku manusia dari dulu hingga sekarang menjadi catatan sejarah bagi tegaknya sebuah peradaban.

“Hendaklah anggota Nasyiatul Aisyiyah berusaha mengamalkan ajaran Islam agar menjadi manusia yang beradab dan warga yang penuh keadaban,” pesan sang ustad menutup tausiyahnya.

Kegiatan yang penuh inspirasi ini berakhir dengan sesi mushofahah dan ramah tamah yang hangat antara pengurus serta anggota. Sejatinya, masa depan peradaban memang berada di tangan mereka yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kelembutan akhlak. Mari kita dukung penuh langkah nyata ini agar keadaban perempuan terus bersinar dan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan agama!

Baca Juga :

Prof. Abdul Mu’ti hadiri Halalbihalal FOKAL IMM Jateng: Kader Jangan Jago Kandang!

Pereda Politik Panas! Kisah Harmoni Warga di Balik Tradisi HalalbiHalal

Kontributor: Pujiyanto
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: