Setiap 21 April pada peringatan Hari Kartini, negeri ini seperti panggung besar yang serempak memainkan satu lakon: mengenang Raden Ajeng Kartini. Masyarakat mengenakan kebaya, membacakan pidato, dan menggelar berbagai lomba. Publik mengeluelukan nama Kartini sebagai simbol perlawanan tokoh perempuan Indonesia terhadap gelapnya zaman.
Namun, di tengah gegap gempita Hari Kartini tersebut, kita jarang berani mengajukan satu pertanyaan kritis: Apakah kita benar-benar merawat semangat perjuangan, atau sekadar merayakan simbolnya?
Simbol Perlawanan
Memang benar! Kartini, tanpa ragu, adalah sang pembuka jalan. Ia menggugat zaman yang mengurung perempuan dalam sunyi, membatasi pendidikan hanya untuk segelintir orang, dan mengabaikan suara perempuan. Dari balik dinding keterbatasan, ia menulis, mengirimkan gagasan yang melintasi batas, dan menyalakan kesadaran sejarah perempuan di Nusantara.
Tetapi sejarah tak berhenti pada siapa yang pertama bersuara. Waktu menguji sejarah pada siapa yang berani mewujudkan gagasan tersebut. Di titik itulah, nama tokoh perempuan Indonesia lain seharusnya ikut menggema. Dialah Siti Walidah.
Senyap dan Tepat
Siti Walidah mungkin tidak mengawali narasi besar yang masyarakat rayakan secara meriah setiap tahun. Namun langkahnya senyap, terukur, dan berdampak nyata bagi sekitarnya.
Jika Kartini adalah suara yang menggugat, maka Siti Walidah adalah tangan yang bekerja. Ia tidak berhenti pada tataran kesadaran, tetapi langsung mengorganisirnya. Bersama denyut Aisyiyah, ia menggerakkan perempuan keluar dari bayang-bayang ketidakberdayaan menuju ruang-ruang pemberdayaan.
Ia bukan sekadar bermimpi tentang pendidikan, tetapi langsung mendirikan sekolah-sekolah. Ia bukan sekadar menabur harapan tentang kesejahteraan, tetapi membangun rumah sakit, panti asuhan, dan layanan sosial yang hidup dan melayani masyarakat hingga hari ini.
Ini bukan romantisme sejarah. Ini adalah kerja peradaban.
Mabuk Kuantitas, Lupa Kualitas
Ironisnya, masyarakat negeri ini terkadang lebih gemar mengenang tulisan daripada mewujudkan tindakan nyata. Kita hafal kutipan, tetapi lupa melanjutkan gerakan. Kita bangga pada masa lalu, tetapi abai pada warisan sejarah yang masih bernapas di depan mata.
Padahal, tanpa kerja-kerja sunyi dari tokoh seperti Siti Walidah, gagasan luar biasa pada Hari Kartini hanya akan tinggal sebagai arsip. Tanpa keberanian membangun, kesadaran hanya akan menjadi wacana yang berulang setiap tahun tanpa perubahan berarti.
Bukan Retorika, Melainkan Realita
Di sinilah kita perlu jujur. Kita tidak cukup hanya mengenang tokoh perempuan sebagai simbol perjuangan. Kita harus melihat mereka sebagai aktor perubahan yang terus bekerja.
Kartini telah menyalakan api. Siti Walidah memastikan api itu menjadi cahaya yang menerangi jalan panjang umat.
Maka, memperingati Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada nostalgia. Momen ini harus menjadi pemicu untuk menagih komitmen. Apakah kita hanya ingin menjadi bangsa yang pandai merayakan, atau bangsa yang sungguh-sungguh melanjutkan perjuangan?
Karena sejatinya, sejarah bukan hanya milik mereka yang namanya tercetak dalam buku. Sejarah juga milik mereka yang diam-diam menulisnya dengan kerja nyata yang tak pernah berhenti.
Dan di sanalah, ketokohan Siti Walidah berdiri kokoh. Meski masyarakat tidak selalu menyebutnya, jejak nyatanya tak pernah benar-benar hilang dari sejarah perempuan Indonesia.