Kita sering mencari cara mengatasi kesedihan urusan dunia. Manusia amat mudah merasa kecewa hingga putus asa saat menghadapi realita. Terkadang rezeki terasa sempit. Harapan menyimpang jauh dari kenyataan dan impian tak kunjung terwujud.
Mari kita mengingat kembali hakikat penciptaan manusia. Kita hanyalah musafir atau tamu sementara di atas tanah ini. Hidup di dunia sama sekali tidak kekal. Tidak ada satu pun kemegahan yang abadi kecuali amal saleh.
Pandangan Muhammadiyah Mengatasi Kesedihan
Gerakan Islam Muhammadiyah menawarkan pandangan yang menyejukkan. K.H. Ahmad Dahlan merintis gerakan puritan dan modernis ini pada tahun 1912. Gerakan ini membawa semangat tajdid al-din atau pembaruan agama. Ajaran ini bersumber murni pada Al-Qur’an dan Sunah untuk merespons tantangan zaman secara tepat.
Muhammadiyah mengajak umat menjaga sikap ikhlas, sabar, dan syukur. Ketiga hal ini adalah kunci untuk mencapai ketenangan hidup Islami. Prinsip amar ma’ruf nahi mungkar dan tauhidul af’al sangat mencerminkan nilai tersebut.
Persyarikatan sama sekali tidak menolak kemajuan duniawi. Mereka hanya mengingatkan umat. Gemerlap dunia tidak boleh sampai merampas dan mendominasi hati manusia.
Pelajaran Berharga dari Kejernihan Air
Kita bisa mengambil pelajaran dari sifat air jernih. Air jernih tidak terlihat mewah, berwarna, maupun beraroma. Akan tetapi, kehadirannya menjadi penopang utama kehidupan seluruh makhluk. Alam semesta pasti mati tanpa keberadaan air.
Karakteristik air mewujudkan konsep hidup sederhana. Sikap ini memancarkan rasa syukur dan rida dalam menerima ketetapan Allah Swt. Nilai ini sangat selaras dengan ajaran zuhud terhadap dunia. Ulama pendahulu kita telah mempraktikkan hidup sederhana ini dengan konsisten.
Muhammadiyah tegas menolak gaya hidup bermewah-mewahan (israf). Organisasi ini mengajak umat menanamkan sifat qana’ah atau merasa cukup. Himpunan Putusan Tarjih juga memberi panduan yang sangat jelas. Umat wajib menyeimbangkan pembangunan fardu kifayah dan ibadah fardu ain.
Semangat ini persis seperti filosofi air putih. Air itu esensial, tak ternilai, namun jauh dari kesombongan. Lewat filosofi inilah Muhammadiyah ikhlas membangun ribuan fasilitas publik. Mereka fokus menebar manfaat, bukan sekadar mencari tepuk tangan dunia.
Menghadapi Tantangan Zaman Modern
Tokoh pembaru K.H. Muhammad Abduh mengingatkan bahwa Islam adalah agama fitrah. Agama ini menyejukkan jiwa layaknya air zamzam. Muhammadiyah mengajarkan warga untuk hidup hemat melalui gerakan dakwah bil hal. Tujuannya agar umat bisa rutin berinfak. Tumpukan materi sekadar amanah yang menuntut pertanggungjawaban.
Dinamika zaman modern kerap memicu tekanan batin. Inflasi ekonomi dan kegagalan bisnis sering mendatangkan duka. Muhammadiyah memandang masalah ini secara holistik. Berbagai amal usaha berdiri tegak untuk membekali mental generasi muda. Kita maju untuk menciptakan maslahah atau kemaslahatan umat.
Mari kita meneladani kesabaran K.H. Ahmad Dahlan. Beliau tidak meratap sedih ketika menerima cibiran tajam. Beliau justru mengubah ujian menjadi energi positif untuk mendirikan ‘Aisyiyah.
Saat krisis moneter 1998, Muhammadiyah juga langsung merapatkan barisan. Baitul Mal menggalang kekuatan zakat untuk menyelamatkan umat yang terdampak krisis.
Meraih Kebahagiaan Akhirat
Langkah tersebut membuktikan bahwa himpitan sesulit apa pun justru membuka pintu surga. Infak dan sedekah menjadi jalan pintasnya. Kita harus menjadikan nikmat sebagai jalan syukur. Sementara itu, jadikan musibah sebagai cara bersabar dan bersyukur guna menempa keimanan.
Jangan membiarkan diri tenggelam terlalu lama saat mengatasi kesedihan urusan dunia. Jadikan setiap kegagalan sebagai pelajaran pendewasaan yang berharga. Kegagalan bukanlah rantai yang membelenggu langkah kita menuju masa depan. Yakini bahwa Allah selalu membersamai orang-orang yang sabar.
Dunia fana ini pasti akan kita tinggalkan suatu saat nanti. Jangan biarkan kekecewaan sesaat merampas kebahagiaan sejati di akhirat kelak. Mari berlomba beramal saleh tanpa mengikat hati pada materi. Jadilah seperti air jernih yang mengalir membawa keteduhan hidup.