Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Iman Sering Goyah? Ini Alasan Mengapa Takwa Harus Jadi “Pakaian” Setiap Saat

28 April 2026, 15:09 WIB • 3 menit baca
Foto yang menunjukkan Ust. Dr. Fachrur Rozi, M.Ag. sedang memberikan tausiyah dalam posisi duduk di sebuah kursi kantor berwarna hitam. Beliau mengenakan kemeja batik bermotif cokelat tua dan peci hitam, berbicara melalui mikrofon di sebuah ruangan yang memiliki dinding putih bersih. Di sebelah kanan beliau, terdapat dekorasi dinding berupa kaligrafi Arab menyala yang membentuk tulisan "Allah". Di depan beliau, terlihat bagian belakang kepala seorang jemaah yang mengenakan kemeja biru, serta sebuah meja kayu yang dilapisi taplak batik cokelat dengan tumpukan buku dan perangkat ponsel yang diletakkan di atas tripod untuk mendokumentasikan kajian.
Ketua PDM Kota Semarang, Ust. Dr. Fachrur Rozi, M.Ag., saat memberikan kajian rutin di Masjid Al-Kautsar PT Telkom Semarang, Selasa (28/4/2026). Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjadikan takwa sebagai "pakaian" atau sikap hidup yang konsisten, baik saat berada di tempat suci maupun saat menjalankan rutinitas profesional di kantor agar batin tetap waspada terhadap godaan.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang mengira bahwa ibadah hanya perlu dilakukan saat berada di dalam masjid saja. Padahal, godaan setan justru seringkali muncul saat seseorang sedang sibuk bekerja atau berada di tengah keramaian. Kesadaran untuk selalu merasa diawasi oleh Tuhan menjadi kunci utama agar manusia tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang fatal.

Pesan mendalam ini mengemuka dalam kajian rutin di Masjid Al-Kautsar PT Telkom Semarang pada Selasa (28/4/2026). Ust. Dr. Fachrur Rozi, M.Ag. yang juga merupakan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang hadir untuk mengingatkan para karyawan dan warga sekitar mengenai esensi menjadi pribadi yang bertakwa. Menurut Ust. Fachrur Rozi, takwa adalah sikap hidup yang harus melekat dalam setiap langkah, kapan pun dan di mana pun.

Ust. Fachrur Rozi menyoroti alasan mengapa khatib salat Jumat selalu mengulang wasiat takwa setiap minggunya. Hal ini terjadi karena setiap manusia memiliki potensi besar untuk melakukan kekhilafan di antara jeda waktu dua Jumat tersebut. Oleh karena itu, pengingat rutin menjadi sarana efektif agar batin tetap waspada terhadap segala bentuk godaan.

“Kenapa setiap Jumat khatib selalu berwasiat tentang takwa? Karena dari satu Jumat ke Jumat berikutnya, setiap manusia sangat berpotensi melakukan kesalahan dan tergoda oleh godaan setan,” jelas Ust. Fachrur Rozi.

Takwa di Kantor Maupun di Rumah

Kebutuhan akan nilai takwa ternyata tidak terbatas oleh ruang suci seperti masjid saja. Ust. Fachrur Rozi menegaskan bahwa di tempat paling suci seperti Masjidil Haram sekalipun, manusia tetap membutuhkan pengingat ini. Apalagi saat seseorang berada dalam rutinitas pekerjaan yang penuh tekanan dan godaan duniawi.

Ust. Fachrur Rozi kemudian mengutip pesan Rasulullah SAW, “Ittaqillah haitsuma kunta”, yang berarti bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Pesan ini menekankan bahwa spiritualitas harus sejalan dengan profesionalitas saat bekerja di kantor. Integritas yang kuat lahir dari rasa takut kepada Allah yang dibawa hingga ke meja kerja.

Ketaatan tersebut harus tetap kokoh, baik saat seseorang sedang diawasi oleh pimpinan maupun saat sedang sendirian. Dengan menjadikan takwa sebagai gaya hidup, seseorang akan lebih mudah mengendalikan diri dari perbuatan yang merugikan. Langkah ini menjadi benteng pertahanan paling ampuh di tengah kerasnya tantangan zaman modern.

Konsistensi Beribadah dalam Aktivitas Harian

Kajian yang berlangsung khidmat ini membawa harapan agar jamaah mampu mengubah cara pandang terhadap rutinitas harian mereka. Iman tidak boleh hanya aktif di saat sujud, tetapi juga harus tercermin dalam kejujuran dan etika kerja. Harapan besarnya, nilai-nilai ketuhanan mampu mewarnai setiap interaksi sosial dan profesional para jemaah.

Ust. Fachrur Rozi mengajak seluruh hadirin untuk menganggap setiap tempat sebagai “masjid” dalam arti menjaga perilaku. Jika setiap muslim membawa nilai takwa ke pasar, kantor, dan rumah, maka kedamaian akan tercipta dengan sendirinya. Kajian pun berakhir dengan doa agar setiap langkah kehidupan senantiasa mendapatkan bimbingan dan rida dari-Nya.

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Pesan ini menegaskan bahwa takwa harus menjadi sikap hidup yang melekat dalam setiap kondisi,” pungkas Ust. Fachrur Rozi.

Baca Juga :

Belajar Ihsan dalam Islam: Rahasia Abu Bakar Tetap Sedekah Meski Difitnah

Istiqamah Ibadah Setelah Ramadan: Tips Anti “Loyo” Spiritual

Kontributor: Mustaghfirin
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: