Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Istiqamah Ibadah Setelah Ramadan: Tips Anti “Loyo” Spiritual

27 Maret 2026, 20:05 WIB 2 menit baca
Ustadz Ananto Tri Prasetia berkhutbah tentang istiqamah di mimbar kayu Masjid At-Taqwa, Ngaliyan, Semarang.
Momentum Khutbah Jumat: Ustadz Ananto Tri Prasetia saat memaparkan materi mengenai menjaga istiqamah ibadah setelah Ramadan di Masjid At-Taqwa Ngaliyan.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org Masih merasa semangat ibadah turun drastis setelah Lebaran? Jangan biarkan jiwa Anda gersang, mari pelajari cara menjaga istiqamah ibadah setelah Ramadan agar tetap on fire.
Banyak orang merasa kehilangan ritme ibadah begitu bulan suci berlalu. Masjid yang tadinya sesak kini perlahan mulai renggang kembali.

Padahal, kualitas iman seseorang justru terlihat pada konsistensi batinnya setelah bulan puasa usai. Fenomena penurunan semangat ini menjadi bahasan utama dalam khutbah Jumat Syawal terpopuler di Masjid At-Taqwa Ngaliyan (27/3/2026).

Ustadz Ananto Tri Prasetia hadir mengingatkan jamaah agar tidak membiarkan jiwa kembali kosong. Sang ustadz menekankan pentingnya menjaga iman pasca lebaran di tengah euforia Syawal yang masih terasa kental.

Filosofi Bergerak Tanpa Henti

Ustadz Ananto membuka ceramahnya dengan mengupas Filosofi Faidza Faraghta Fanshab. Mengutip Surah Al-Insyirah ayat 7, ia menjelaskan bahwa seorang Mukmin tidak mengenal kata “libur” dalam beramal.

“Istiqamah itu sebenarnya adalah perpindahan dari satu ketaatan ke ketaatan lainnya. Selesai satu urusan, kita harus segera bersiap menuju ibadah berikutnya,” tegas Ustadz Ananto dalam kutipan langsungnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan jamaah untuk segera menyambung momentum dengan amalan sunnah Syawal. Melaksanakan puasa enam hari menjadi langkah nyata bagi setiap Muslim untuk membuktikan bahwa istiqamah ibadah setelah Ramadan bukanlah hal yang mustahil.

Memperluas Makna Ibadah

Selain ritual formal, pria ini juga membedah kembali makna ibadah dalam Islam yang sangat luas. Ibadah mencakup setiap perkara yang Allah cintai, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang tersembunyi. Hal ini berarti, aktivitas harian seperti mencari nafkah pun bisa bernilai pahala besar.

Prinsip ini mengubah pandangan duniawi “Waktu adalah Uang” menjadi “Waktu adalah Pahala”. Bagi seorang Mukmin, setiap menit merupakan kesempatan emas untuk meraih ridha Allah melalui niat yang benar.

Menjadi Anak Akhirat

Sebagai penutup, Ustadz Ananto berpesan agar jamaah tidak menjadi “anak dunia” yang menghalalkan segala cara. Sebaliknya, ia mengajak audiens menjadi anak akhirat yang selalu menggantungkan harapan hanya kepada Sang Pencipta.

Tanda diterimanya amalan seseorang adalah munculnya kebaikan yang terus bertambah meskipun Ramadan telah berlalu. Dengan menjaga istiqamah ibadah setelah Ramadan, kita memastikan api spiritual dalam diri tetap menyala sepanjang tahun.

Baca juga :

Lulus “Madrasah” Ramadan, Strategi Menjaga Takwa Pasca Ramadan ala Muhammadiyah Semarang

Menjaga Istiqamah Setelah Ramadan di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

Kontributor: Lukman Al Hakim
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: