Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Lulus “Madrasah” Ramadan, Strategi Menjaga Takwa Pasca Ramadan ala Muhammadiyah Semarang

27 Maret 2026, 15:12 WIB 3 menit baca
Ustadz Aliun, Ketua KMM PWM Jateng, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang tentang menjaga takwa pasca Ramadan.
Ustadz Aliun, Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PWM Jateng, saat menyampaikan khutbah Jumat dengan tema "Menjaga Takwa Pasca Ramadan" di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Jumat (27/3/2026).

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org Gema takbir mungkin telah berlalu, namun ujian sesungguhnya baru dimulai saat kita berupaya menjaga takwa pasca Ramadan dalam hiruk-pikuk rutinitas harian di Kota Semarang. Suasana khusyuk menyelimuti saat salat jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang siang ini pada Jumat (27/3/2026) . Para jamaah tampak khidmat menyimak pesan penting tentang keberlanjutan spiritualitas setelah bulan suci usai.

Dalam khutbahnya, Ustadz Aliun selaku Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PWM Jawa Tengah menegaskan bahwa Ramadan bukanlah sekadar ritual tahunan yang datang dan pergi. Sebaliknya, sang dai menyebut bulan suci tersebut sebagai sebuah “madrasah” atau sekolah karakter. Oleh karena itu, kelulusan seorang Muslim sejati justru terlihat dari keteguhannya dalam menjaga takwa pasca Ramadan.

Konsistensi Adalah Kunci Utama

Banyak orang sering kali merasa semangat ibadahnya menurun drastis setelah Idulfitri. Menanggapi fenomena ini, Ketua KMM PWM Jateng tersebut mengajak jamaah untuk membangun konsistensi ibadah yang kokoh. Ia menekankan bahwa kualitas seorang hamba tidak hanya bergantung pada aktivitas di dalam masjid. Lebih dari itu, takwa harus tercermin saat seseorang berinteraksi dengan dunia luar.

“Ramadan telah mendidik kita selama satu bulan penuh. Maka, jangan biarkan semangat itu padam. Jadikan momen ini sebagai motivasi untuk terus beribadah,” ujar sosok yang akrab disapa Ustadz Aliun ini dengan nada menggugah.

Selain itu, ia menambahkan bahwa ibadah setelah lebaran merupakan cerminan dari ketulusan niat seseorang. Jika kita mampu mempertahankan kebiasaan baik tersebut, maka kita telah berhasil menyerap esensi dari puasa itu sendiri secara sempurna.

Bekal Hidup di Era Modern

Dalam perjalanan hidup yang penuh tantangan, manusia memerlukan kompas moral yang jelas. Ustadz Aliun merujuk pada pesan abadi dalam Al-Qur’an bahwa bekal hidup terbaik adalah takwa. Hal ini sangat relevan bagi warga Muhammadiyah Semarang yang aktif dalam berbagai amal usaha serta kegiatan sosial.

Takwa bukan sekadar urusan ritual pribadi. Nilai ini mencakup kejujuran dalam bekerja dan kepedulian terhadap sesama manusia. Dengan menjaga takwa pasca Ramadan, setiap individu diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya secara berkelanjutan.

Menutup dengan Perubahan Nyata

Sebagai penutup yang menyentuh, khutbah tersebut mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Namun, nilai-nilai kebaikan harus tetap menetap dalam sanubari. Ustadz Aliun mengajak seluruh jamaah agar tidak membiarkan Ramadan hanya menjadi kenangan indah di masa lalu.

“Mari kita jaga hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia, karena itulah hakikat dari takwa,” pungkas Ketua KMM PWM Jateng tersebut.

Kini, tugas mulia menanti di depan mata. Mari kita buktikan bahwa semangat madrasah Ramadan tetap hidup dalam setiap langkah kaki kita menyusuri jalanan Kota Semarang.

Baca juga :

Menjaga Istiqamah Setelah Ramadan di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

Bolehkah Puasa Syawal dan Qadha Digabung? Menjaga Kemurnian Niat

Kontributor: Halim Junior
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: