Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Belajar Ihsan dalam Islam: Rahasia Abu Bakar Tetap Sedekah Meski Difitnah

6 April 2026, 08:02 WIB • 2 menit baca
Ustadz Sukendar memberikan ceramah tentang makna Ihsan dan kisah Abu Bakar di Masjid At-Taqwa Ngaliyan Semarang.
Ketua Majelis Tarjih PDM Kota Semarang, Ustadz Sukendar, saat membedah rahasia karakter Ihsan dalam Islam di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Ahad (5/4/2026).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Ustadz Sukendar mengungkap keajaiban sikap Ihsan dalam Islam melalui kisah inspiratif Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam kajian Muhammadiyah Semarang di Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates.

Suasana teduh menyelimuti masjid yang berlokasi di Wates tersebut pada Ahad pagi (4/5/26). Jamaah mengikuti kajian Halalbihalal dengan antusias demi mendengarkan pesan-pesan kesejukan dari Ketua Majelis Tarjih PDM Kota Semarang tersebut.

Ustadz Sukendar menekankan bahwa menjadi sosok mulia tidak menuntut kesempurnaan tanpa cela. Menurut pemateri, standar kebaikan seseorang justru terlihat saat ia berani mengakui kesalahan. Sosok pendidik ini kemudian menjelaskan cara bertaubat Nabi Adam AS sebagai teladan bagi setiap manusia untuk segera memohon ampunan.

“Cetak biru manusia memang berisi potensi kesalahan, namun kuncinya adalah kemauan untuk memperbaiki diri,” tutur Ustadz Sukendar menenangkan.

Melampaui Keadilan dengan Karakter Ihsan

Selanjutnya, narasumber membedah secara mendalam mengenai perbedaan Adil dan Ihsan. Jika adil bermakna membalas setimpal, maka Ihsan dalam Islam menuntut hamba-Nya untuk memberi lebih dari kewajiban.

Ia mencontohkan kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq bersedekah kepada kerabat yang telah menyebar fitnah keji. Alih-alih membenci, Abu Bakar justru memilih jalan kemuliaan demi mengharap ridha Sang Pencipta.

Selain itu, Ustadz Sukendar juga mengingatkan jamaah agar menjaga keharmonisan sosial. Salah satu poin penting dalam kajian tersebut adalah hukum mendiamkan saudara lebih dari 3 hari yang dilarang keras dalam agama.

Ustadz Sukendar menegaskan bahwa sosok yang paling mulia adalah orang yang pertama kali mengulurkan tangan untuk berdamai.

Implementasi Fiqih Lingkungan melalui Green Kurban

Semangat menebar manfaat ini pun mewujud dalam gerakan Green Kurban di Masjid At-Taqwa. Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan Takmir Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates, yakni Hasan Pardjojo selaku Bendahara Takmir Masjid. Ia menjelaskan bahwa panitia kini beralih menggunakan besek bambu daging kurban sebagai langkah nyata penerapan Fiqih Lingkungan untuk mengurangi sampah plastik.

Hasan Pardjojo menegaskan komitmen masjid dalam menjaga ekosistem melalui ibadah. “Kami ingin ibadah kurban tahun ini tidak hanya suci secara ritual, tetapi juga bersih bagi alam dengan meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai,” ungkap Hasan Pardjojo dengan penuh keyakinan.

Selain ramah lingkungan, panitia juga memperluas jangkauan sosial melalui penyaluran daging kurban ke Lapas Wanita di Bulu. Bagi warga yang ingin bergabung, Masjid At-Taqwa telah menetapkan harga patungan sapi kurban sebesar Rp3.500.000 per orang. Program ini menjadi bukti bahwa ketakwaan yang kuat akan selalu menghasilkan manfaat besar bagi sesama dan alam semesta.

Baca juga :

Dari Ngaliyan untuk Dunia: Pesan Umat Islam dan Kemanusiaan Global di Momen Idulfitri

Ini Perbedaan Zikir Lisan dan Zikir Hati, Mana yang Menyelamatkan?

Kontributor: Gahthan
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: