Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Nikmatnya Tahajud di Rooftop Masjid Nabawi, Kisah Spiritual Kloter 28 SOC Semarang

6 Mei 2026, 18:22 WIB 4 menit baca
Puluhan jemaah haji laki-laki Kloter 28 SOC Semarang berseragam biru duduk bersila melaksanakan salat tahajud di rooftop Masjid Nabawi pada dini hari dengan latar belakang pilar dan lampu pelataran masjid.
KHUSYUK DI SEPERTIGA MALAM: Jemaah haji dari Kloter 28 SOC yang tergabung dalam KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang menembus dinginnya angin malam demi melaksanakan salat tahajud di rooftop Masjid Nabawi, Madinah, Rabu (6/5/2026) dini hari. (Foto: Dok. KBIHU Muhammadiyah)

MADINAH, muhammadiyahsemarangkota.org Pukul tiga dini hari, saat sebagian besar penduduk bumi masih terlelap, pergerakan sunyi menyelimuti Kota Madinah. Cuaca Madinah terkini yang menyajikan hembusan angin dingin menusuk tulang sama sekali tidak menyurutkan langkah puluhan pria bermantel biru. Mereka menapaki anak tangga demi anak tangga, membawa kerinduan spiritual menuju satu titik eksklusif: rooftop Masjid Nabawi.

Di bawah hamparan langit malam yang pekat dan gemerlap lampu pelataran masjid, jemaah merajut kesyahduan perlahan.

Bagi sebagian besar jemaah, menjejakkan kaki di lantai atap atau rooftop Masjid Nabawi merupakan pengalaman pertama yang memantik getar di dada.ecara teknis, Presidensi Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi merancang area atap ini untuk menampung luapan jemaah saat musim puncak.

Hamparan marmer putihnya yang dingin, berpadu dengan udara terbuka tanpa sekat, menyuguhkan sensasi ruang yang jauh berbeda dari area utama masjid di lantai bawah. Suasana hening seketika menyergap, membuat hembusan angin malam terasa lebih dominan.

Nikmatnya Tahajud di Bawah Atap Langit Madinah

Namun, alih-alih menggigil dan merapatkan jaket, hembusan alam tersebut justru membakar kehangatan iman rombongan asal Jawa Tengah ini. Ustadz Drs. H. Nurbini, MSI, memandu langsung langkah rombongan pada Rabu (6/5/2026) dini hari waktu setempat. Ia bertugas sebagai Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) sekaligus pembimbing KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang.

“Kegiatan jemaah haji KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang yang tergabung di Kloter 28 SOC hari ini, diawali jam 3 dini hari jemaah berkumpul dan menuju ke rooftop atau lantai atas Masjid Nabawi untuk melaksanakan salat tahajud,” tutur Ustadz Nurbini melaporkan langsung kepada muhammadiyahsemarangkota.org dari Madinah, Rabu (6/5/26).

Dalam keheningan yang pekat, setiap jemaah tenggelam dalam dialog batin yang paling intim dengan Sang Pencipta. Mereka melangitkan doa masing-masing di bawah atap langit Madinah yang syahdu. Aturan tata ruang masjid mendasari keputusan Ustadz Nurbini membawa jemaah ke area ini.

“Salat tahajud sendiri-sendiri tapi dalam waktu bersamaan. Ini hanya khusus untuk laki-laki karena jemaah wanita tidak diperbolehkan naik ke rooftop atau lantai atas Masjid Nabawi,” jelas Ustadz Nurbini mempertegas regulasi setempat.

Dari Ketinggian Rooftop Masjid Nabawi Menuju Harunya Makam Baqi

Ustadz Nurbini yang mengenakan baju krem memimpin rombongan jemaah haji laki-laki Kloter 28 SOC Semarang berseragam biru berjalan meninggalkan pelataran usai salat tahajud di rooftop Masjid Nabawi menuju Makam Baqi.
MENUJU MAKAM BAQI: Ustadz Drs. H. Nurbini, MSI (berbaju krem depan kiri), memimpin rombongan jemaah haji Kloter 28 SOC Semarang melangkah menuju Makbarah Baqi. Rombongan melanjutkan perjalanan spiritual ini sesaat setelah menunaikan salat tahajud yang syahdu di rooftop Masjid Nabawi dan salat Subuh berjemaah, Rabu (6/5/2026) pagi.

Usai fajar menyingsing, rombongan menunaikan salat Subuh berjemaah bersama Imam Masjid Nabawi. Setelah itu, perjalanan spiritual mereka terus berlanjut. Rombongan melanjutkan pengembaraan batin menuju Makbarah Baqi (Jannatul Baqi), kompleks pemakaman suci yang terletak persis di sebelah timur Masjid Nabawi.

Jemaah menata niat, rela menempuh rute memutar yang cukup jauh demi mendoakan para pendahulu agama. Ziarah ke Baqi memiliki nilai emosional yang sangat tinggi bagi jemaah haji. Secara historis, Kementerian Agama RI mencatat bahwa hamparan tanah ini menyimpan jasad lebih dari 10.000 sahabat Nabi. Khalifah Utsman bin Affan, para istri Nabi (Ummahatul Mukminin), Fatimah az-Zahra, hingga Hasan bin Ali beristirahat di sini.

Menatap pusara tanpa nisan berukir tersebut mengingatkan para jemaah akan kefanaan dunia sekaligus keagungan perjuangan Islam di masa lampau.

Perjuangan untuk mencapai area ini pun membutuhkan fisik dan kesabaran ekstra. Sama seperti aturan di atap masjid, area pemakaman ini hanya mengizinkan peziarah laki-laki untuk masuk demi menjaga ketertiban sesuai syariat setempat.

“Antriannya cukup panjang dan jalannya cukup jauh karena harus memutar,” ujar Ustadz Nurbini menceritakan dinamika ziarah pagi itu.

Ketika rangkaian ziarah usai dan matahari mulai meninggi membasuh Kota Madinah, rombongan kembali mengayunkan langkah menuju penginapan. “Kegiatan pagi hari ini ditutup dengan ziarah Baqi, kemudian setelah keluar dari Makam Baqi jemaah kembali ke hotel masuk ke kamar masing-masing untuk sarapan kemudian beristirahat,” tutup Ustadz dosen Fakuktas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo itu.

Rona kelelahan fisik mungkin membayang di wajah mereka. Namun, kelegaan spiritual memancar terang dari sorot mata jemaah. Rombongan sukses mengubah dinginnya angin malam Nabawi menjadi rida Ilahi. Lelahnya langkah menuju Baqi pun terbayar lunas.

Pantau terus laporan terkini jemaah haji Muhammadiyah, Kloter 28 SOC Semarang, langsung dari Tanah Suci. Hanya di Muhammadiyahsemarangkota.org

Kontributor: KBIHU Muhammadiyah Semarang
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: