Pada artikel sebelumnya, kita telah mendiskusikan betapa pentingnya meluruskan niat sebelum berangkat menuju Baitullah. Oleh karena itu, tulisan kali ini hadir untuk menyambung dan melengkapi panduan spiritual tersebut.
Menunaikan ibadah haji terbukti bukan sekadar melakukan perjalanan fisik ke Tanah Suci belaka. Lebih dari itu, kewajiban ini merupakan sebuah perjalanan ruhani yang mendalam menuju ridha Allah.
Selanjutnya, tujuan tertinggi dari seluruh rangkaian ibadah suci ini tentu saja menggapai kemabruran. Predikat mulia ini bermakna bahwa Allah menerima amal ibadah hamba-Nya secara utuh. Oleh karena itu, kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri sejak dini dan mempelajari cara meraih haji mabrur.
Melalui pemahaman yang tepat, kita pasti bisa menjalankan seluruh rukun Islam kelima ini dengan jauh lebih khusyuk.
Memahami Tujuan dan Perintah Ibadah Haji
Pertama-tama, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menyempurnakan pelaksanaan rukun Islam ini semata-mata karena-Nya. Anda dapat merenungkan firman Allah yang sangat tegas berikut ini:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)
Berdasarkan kandungan ayat tersebut, kesempurnaan ibadah seorang jemaah sangat bergantung pada tingkat ketakwaannya. Bahkan, pencapaian takwa itu sendiri menjadi tujuan haji yang paling fundamental dalam ajaran Islam. Allah kembali memperkuat prinsip pokok ini melalui firman-Nya:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Jadi, membawa sekadar bekal materi yang melimpah tidak akan pernah cukup. Kita wajib menjadikan takwa sebagai pondasi utama demi meraih kelancaran prosesi ibadah. Dengan demikian, hati kita akan selalu siap menerima bimbingan-Nya selama berada di Tanah Suci.
Langkah Nyata dan Cara Meraih Haji Mabrur
Lalu, bagaimana langkah praktis yang bisa jemaah lakukan? Langkah pertama, Anda harus membulatkan keikhlasan hanya untuk Allah. Hal ini sangat sesuai dengan peringatan di dalam Al-Qur’an:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Selain itu, prinsip keikhlasan ini berjalan selaras dengan sabda Nabi ﷺ mengenai urgensi sebuah niat:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Langkah kedua, Anda wajib mempelajari dan mencontoh tata cara manasik haji sesuai anjuran Rasulullah ﷺ. Beliau berpesan secara langsung kepada seluruh umatnya:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian.” (HR. Muslim)
Langkah ketiga, Anda harus sungguh-sungguh menjauhi segala bentuk dosa maupun kemaksiatan. Allah telah memberikan batas dan peringatan yang tegas mengenai larangan ini:
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…”. (QS. Al-Baqarah: 197)
Langkah keempat, jemaah sangat dianjurkan untuk terus memperbanyak lantunan zikir dan doa. Rasulullah ﷺ bersabda tentang momentum doa yang paling utama:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi)
Bekal Kehalalan dan Akhlak Mulia
Langkah kelima, Anda wajib menggunakan harta yang berstatus halal untuk membiayai perjalanan suci ini. Pasalnya, Allah itu Maha Baik dan senantiasa hanya menerima amalan dari sumber yang suci pula.
Oleh sebab itu, bekal dana yang bersih dari unsur haram pasti mempercepat turunnya keberkahan. Alhasil, Allah akan lebih mudah mengabulkan serta menerima serangkaian ibadah hamba-Nya tersebut.
Langkah keenam, Anda mutlak harus melatih tingkat kesabaran dan selalu menunjukkan akhlak yang mulia. Proses pelaksanaan ibadah di sana kerap menghadirkan berbagai ujian kesabaran yang cukup berat.
Ujian ini sering kali menguras daya tahan fisik sekaligus stabilitas emosi para jemaah. Maka dari itu, Anda jangan pernah merespons dengan kemarahan ketika berhadapan dengan situasi keramaian yang luar biasa padat.
Selanjutnya, Anda juga harus mampu menahan diri apabila melihat fasilitas ibadah haji yang mungkin kurang sesuai harapan. Di samping itu, Anda harus terus mengunci lisan agar terhindar dari ucapan buruk atau perdebatan sia-sia.
Terakhir, Anda wajib memuliakan serta menghormati jemaah lain yang berkumpul dari seluruh penjuru dunia. Melalui kesabaran dalam mempraktikkan seluruh cara meraih haji mabrur ini, semoga kita semua dapat kembali pulang dengan membawa rida-Nya yang sempurna.