Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Cara Hidup Bahagia: Mengubah Lelah Menjadi Lillah dengan Kekuatan Syukur

10 Mei 2026, 11:07 WIB • 2 menit baca
Foto yang menampilkan H. Suparno, S.Ag., M.Si. sedang duduk di balik mimbar kayu berwarna cokelat tua yang memiliki ukiran kaligrafi Arab di bagian atasnya. Beliau mengenakan kemeja batik bermotif dominan oranye dan cokelat, peci hitam, serta kacamata. Di depan beliau terdapat sebuah kitab hijau. Di latar belakang sebelah kiri, tampak sebuah bingkai besar berisi kaligrafi berwarna emas dengan dasar hitam, menciptakan suasana ruang ibadah yang khidmat dan religius
Sekretaris PDM Kota Semarang, H. Suparno, S.Ag., M.Si., saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan (8/5/2026). Beliau menekankan bahwa cara hidup bahagia yang hakiki dapat dicapai dengan menyelaraskan akidah tauhid yang lurus dengan kemanfaatan nyata bagi sesama manusia.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Memiliki ketenangan batin dan hidup yang penuh keberkahan merupakan impian besar setiap insan di tengah hiruk-pikuk dunia. Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, H. Suparno, S.Ag., M.Si., mengupas tuntas formula tersebut pada Jumat (8/5/2026). Beliau menekankan bahwa iman dan amal saleh adalah kunci utama untuk membuka pintu kebahagiaan yang hakiki.

Pesan menyentuh ini tersampaikan secara mendalam saat sosok tokoh Muhammadiyah tersebut bertindak sebagai khatib di Masjid At Taqwa Ngaliyan. H. Suparno menjelaskan bahwa janji Allah dalam Al-Qur’an bukan sekadar teks, melainkan jaminan nyata bagi setiap mukmin. Beliau menawarkan cara hidup bahagia melalui empat kriteria fundamental yang harus menjadi pegangan setiap muslim setiap harinya.

“Janji Allah dalam Al-Qur’an merupakan jaminan nyata bagi setiap mukmin yang mampu menyelaraskan keyakinan dengan perbuatan nyata,” tegas H. Suparno di hadapan jemaah.

Landasan Tauhid dan Menebar Kemanfaatan bagi Sesama

Pilar pertama yang menjadi dasar adalah membangun hubungan vertikal yang kuat melalui akidah tauhid yang lurus. H. Suparno mengajak jemaah untuk memasrahkan seluruh dimensi kehidupan, mulai dari ibadah hingga urusan hidup dan mati, hanya kepada Allah. Penyerahan diri secara total ini diyakini mampu menciptakan ketenangan batin yang tidak tergoyahkan oleh ujian dunia.

Selain hubungan vertikal, cara hidup bahagia juga menuntut kehadiran individu yang memberikan dampak positif bagi sesama manusia. Pengurus PDM Semarang ini mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Kehadiran seorang muslim harus mampu menjadi solusi dan pemberi warna positif bagi masyarakat di mana pun ia berada.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama, karena kehadiran kita harus memberi warna positif bagi lingkungan,” ungkap H. Suparno penuh makna.

Integritas Rezeki Halal dan Dahsyatnya Kekuatan Syukur

Pilar ketiga yang menjadi syarat mutlak keberkahan hidup adalah menjaga integritas dalam mencari nafkah yang halal. H. Suparno mengingatkan jemaah untuk menjauhi cara-cara terlarang dalam menjemput rezeki karena hal itu menentukan kualitas ketenangan keluarga. Rezeki yang berkah dan bersih akan menjadi energi positif dalam membentuk keharmonisan rumah tangga yang bahagia.

Sebagai penutup, pilar keempat yang menyempurnakan kebahagiaan adalah senantiasa menghidupkan rasa syukur dan sikap qanaah. Sekretaris PDM Semarang ini mengajak warga untuk selalu merasa cukup dengan pemberian Tuhan dan menjauhi sifat kufur nikmat. Sikap syukur yang konsisten menjadi magnet yang akan menarik lebih banyak nikmat dan kebahagiaan ke dalam hidup manusia.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, maka hiduplah dengan rasa syukur yang tinggi,” pungkas H. Suparno menutup khutbahnya.

Kontributor: Lukman
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: