Kabar Haji Terkini: Dari Pegadaian ke Mimbar Makkah, Pesan Ustaz Aminudin Soal Kematian yang Getarkan Jemaah
MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org– Ustaz Aminudin Thoha mungkin biasa bicara soal nilai agunan di kantornya di Semarang. Namun, di hadapan jemaah haji yang bersimpuh di depannya pada Rabu (13/5), ia bicara tentang satu-satunya ‘jaminan’ yang pasti terjadi pada setiap manusia: panggilan pulang ke haribaan Tuhan. Momen haru ini menjadi salah satu sorotan kabar haji terkini yang menyentuh relung hati paling dalam.
Pendar lampu hotel yang remang seolah menjadi saksi betapa tubuh-tubuh renta itu mencoba berdamai dengan lelah. Di atas karpet biru musala dadakan tersebut, jemaah haji Muhammadiyah merapatkan saf sembari menunggu fajar benar-benar pecah di langit Makkah. Ini bukan sekadar ritual rutin, melainkan siasat cerdas merawat batin di tengah jarak penginapan yang tak lagi dekat dengan Masjidil Haram.
Di depan jemaah, berdiri Ustaz Aminudin. Sehari-hari, ia berkutat dengan angka di Kanwil Pegadaian Semarang. Namun subuh itu, perannya selaku Ketua Rombongan 4 dari Kloter 28 SOC jauh lebih luhur: ia menjadi penunjuk arah bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari jalan pulang. Suaranya tenang, namun setiap kata yang meluncur seakan memiliki berat yang mampu menggetarkan dada.
Refleksi ‘Panggilan Terakhir’ yang Menggetarkan
“Ada tiga panggilan dari Allah yang pasti menyapa kita,” bisik Ustaz Aminudin, membelah keheningan kultum subuh haji tersebut. Panggilan pertama adalah azan yang mengajak bersujud. Panggilan kedua adalah undangan haji yang saat ini tengah mereka jalani dengan peluh keringat. Lalu, ia berhenti sejenak sebelum menyebutkan panggilan ketiga yang membuat napas beberapa jemaah tertahan: kematian.
Suasana seketika berubah magis. Untaian kabar haji terkini mungkin sering kali berkutat pada urusan logistik atau cuaca, namun di ruang tertutup ini, pembicaraan berpindah murni ke alam keabadian.
Beberapa jemaah lansia tertunduk lesu. Ada isak kecil yang tenggelam di balik masker saat merenungi nasib di penghujung usia. “Jika panggilan ketiga datang saat kita berada di sini, apakah bekal kita sudah cukup?” tanya sang ustaz retoris, menatap satu per satu wajah yang bersimpuh.
Momen refleksi ini menjadi oase penyejuk. Tradisi kultum subuh haji bergilir ini membuktikan bahwa kedekatan dengan Sang Pencipta tak melulu diukur dari langkah kaki menuju Ka’bah. Di bawah naungan atap hotel, jemaah haji Muhammadiyah yang tergabung dalam Kloter 28 SOC Semarang ini menemukan ketenangan sejati; menyadari bahwa puncak ibadah bukanlah saat menatap Baitullah, melainkan ketika hati benar-benar siap menjawab panggilan-Nya.
Inilah catatan kabar haji terkini yang paling hakiki, sebuah bekal kepulangan yang akan terus bergaung di sanubari mereka.
Pantau terus laporan terkini dan terlengkap setiap hari, kabar jemaah haji Muhammadiyah Kloter 28 SOC Semarang, langsung dari Tanah Suci. Hanya di Muhammadiyahsemarangkota.org