Tak Ingin Mereka Pulang dalam Sunyi, Bangun Pesantren Lansia demi Bekal Husnul Khatimah
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Hati Fajar Arifin teriris melihat banyak orang tua masih terbata-bata mengeja Al-Qur’an di sisa usia mereka. Berangkat dari kegelisahan itu, Ketua Lembaga Pengembangan UMKM Pimpinan Daerah Muhamammdiyah (PDM) Kota Semarang ini tengah menyiapkan lahan satu hektar di Karangmalang, Mijen, untuk menjadi pelukan hangat bagi lansia. Melalui Yayasan Zaenal Abidin Jamil, ia merajut mimpi agar tak ada lagi orang tua yang harus “pulang” dalam kondisi sepi iman.
Rencana besar ini ia awali dengan menimba ilmu hingga ke lereng Gunung Merbabu pada Senin (11/5/2026). Di sana, Fajar mendaki menuju Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat demi mempelajari rahasia memuliakan para lansia secara tulus. Hal itu terasa kian mendesak karena fakta di lapangan menunjukkan hampir 90 persen lansia binaannya ternyata belum mampu menjalankan ibadah dengan sempurna.
“Kami ingin membekali para orang tua agar bisa bersowan kepada Allah dalam keadaan husnul khatimah,” tutur Fajar Arifin dengan penuh ketulusan.
Jembatan Ibadah: Perbaiki Salat dan Bacaan Al-Qur’an
Meskipun fisik pondok sedang dipersiapkan, program bimbingan intensif bagi jemaah tetap berjalan. Yayasan memberikan edukasi mulai tata cara bersuci hingga pemahaman fikih dasar. Skema pendidikannya pun fleksibel, mulai dari kelas harian hingga rencana menginap. Program ini sengaja dirancang terbuka bagi semua golongan masyarakat tanpa memandang latar belakang.
Suasana kekeluargaan yang kental dibangun agar para orang tua merasa sejuk batinnya. Kurikulum disusun seringan mungkin supaya tidak membebani fisik santri lanjut usia. Dengan cara tersebut, Fajar memastikan setiap lansia merasa dihargai dan didampingi. Fokus utamanya adalah menjadikan setiap detik di pondok sebagai tabungan pahala yang berharga.
“Tempat ini menjadi jembatan pendidikan untuk membantu bapak dan ibu kita menyempurnakan ibadahnya,” ungkap Fajar optimis.
Oase Sejuk: Belajar Agama Sambil Menikmati Alam
Kelak, lahan di Mijen ini akan dilengkapi area pertanian bibit tanaman hias yang asri. Kehadiran kebun hijau diharapkan membuat para santri bisa melepas penat sambil mengaji. Lingkungan yang tenang memang menjadi kunci utama menjaga kesehatan mental jemaah. Udara segar di lokasi ini akan membuat masa senja mereka jauh lebih bermakna.
Persiapan pembangunan sarana pondok ini menjadi bukti nyata kasih sayang yang konkret. Fajar beserta tim terus bekerja cepat merampungkan infrastruktur demi menyambut para “pemburu surga”. Besar harapannya, setiap jemaah yang hadir akan merasa lebih siap dan tenang. Mereka bisa lebih bahagia dalam mendekatkan diri kepada Sang Khalik di rumah masa tua ini.
“Kami hanya perantara, selebihnya kita berjuang bersama demi kemaslahatan umat,” pungkasnya menutup perbincangan.