Tanpa Drama Tarik Tambang, Masjid Ini Pakai Alat Canggih Agar Sapi Rebah Instan!
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Proses merobohkan hewan kurban berukuran besar seringkali menguras tenaga fisik panitia dan memicu risiko cedera di lapangan. Oleh karena itu, sebuah takmir masjid di wilayah pesisir Kota Semarang sukses menerapkan metode antimainstream yang sangat efisien. Panitia Kurban Masjid At-Taqwa Kelurahan Bandarharjo kini memanfaatkan alat sembelih modern untuk menjinakkan hewan kurban secara instan.
Dalam perayaan Iduladha 1447 Hijriah ini, panitia menyembelih total empat ekor sapi dan sembilan ekor kambing pada Rabu (27/5/2026). Menariknya, kehadiran alat bantu mekanis khusus berkontribusi besar dalam mempercepat durasi pemotongan seluruh hewan kurban tersebut. Penggunaan teknologi ini sekaligus meminimalkan stres pada hewan kurban sebelum pisau jagal menyentuh urat leher mereka.
Saat mengawali proses pemotongan, Ketua Panitia Kurban Masjid At-Taqwa, Sutamam, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas meningkatnya partisipasi warga. Pasalnya, tingkat kepercayaan masyarakat sekitar untuk menyalurkan hewan kurban melalui takmir masjid terus mengalami tren kenaikan. Melalui pengelolaan yang rapi, tim lapangan langsung bergerak cepat mendistribusikan daging kurban kepada 450 kepala keluarga.
“Alhamdulillah tahun ini amanah dari para pekurban meningkat. Total ada 4 sapi dan 9 kambing. Semua sudah disembelih dan didistribusikan kepada 450 kepala keluarga di lingkungan masjid At-Taqwa Bandarharjo,” ujar Sutamam penuh syukur.
Rahasia Rebah Tanpa Drama Tarik Tambang yang Menguras Tenaga
Lebih lanjut, inovasi alat bantu mekanik berupa portabel penahan tubuh sapi tersebut menjadi bintang utama sepanjang pelaksanaan kurban. Sebab, petugas lapangan tidak perlu lagi melakukan ritual tarik tambang yang melelahkan untuk menjatuhkan sapi ke tanah. Kondisi tersebut terjadi karena alat modern ini mampu mengunci posisi tubuh sapi secara stabil, lalu merebahkannya secara perlahan.
Berdasarkan catatan internal panitia, penggunaan teknologi portabel ini terbukti mampu memangkas waktu kerja secara signifikan sebesar 25 hingga 30 menit untuk setiap ekor sapi. Bahkan, penerapan alat mekanis tersebut sukses menurunkan tingkat bahaya kerja secara drastis. Panitia mengklaim perbandingan risiko cedera di lapangan kini mencapai rasio 1 banding 3 jika bersanding dengan metode konvensional.
Koordinator Lapangan, Ustad Sumardi, menambahkan bahwa teknologi ini lahir untuk menjaga keselamatan para relawan di area penyembelihan. Pasalnya, sapi yang meronta-ronta seringkali menendang atau menyeruduk petugas akibat mengalami kepanikan massal. Oleh sebab itu, penerapan mekanisasi ini berhasil menciptakan atmosfer kerja yang jauh lebih kondusif, higienis, dan ramah terhadap hewan.
Selain faktor keselamatan kerja, panitia juga mengejar nilai syariat Islam yang menekankan kasih sayang terhadap makhluk hidup. Artinya, proses penyembelihan wajib berlangsung secepat mungkin agar hewan kurban tidak merasakan sakit yang berkepanjangan. Melalui pemanfaatan alat modern, Masjid At-Taqwa sukses menyelaraskan tuntunan agama dengan perkembangan teknologi mutakhir di era modern.
“Dengan alat ini, prosesnya lebih cepat, lebih aman bagi petugas, dan insyaAllah lebih sesuai prinsip ihsan dalam menyembelih,” ungkap Ustad Sumardi dengan mantap.
Rangkul Puluhan Relawan Remaja Demi Distribusi Kilat Sebelum Zuhur
Di sisi lain, kesuksesan agenda kemanusiaan di kawasan Semarang Utara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak eksternal. Sebab, Sekretaris Takmir Achmad Nuryadi Spd MM menjelaskan bahwa panitia menjalin kemitraan strategis dengan beberapa korporasi besar. Dampaknya, kehadiran dana CSR dari Pelindo Regional 3, TGB Tower, hingga PT Sarana Patra Hulu Cepu (SPHC) memperluas daya jangkau manfaat kurban.
Berkat sokongan dana tersebut, panitia mampu menyasar kelompok masyarakat yang lebih luas di sekitar kelurahan. Artinya, paket daging kurban tidak hanya mengalir ke rumah jemaah muslim semata. Sebaliknya, pengurus takmir membagikan jatah daging secara adil kepada warga dhuafa, anak yatim, hingga keluarga non-muslim sebagai simbol toleransi beragama.
Guna menyukseskan distribusi kilat, sebanyak 60 relawan gabungan remaja masjid dan warga sekitar turut ambil bagian secara aktif. Hasilnya, kerja keras pasukan pemotong daging ini mendapat apresiasi langsung dari Sekretaris Kelurahan Bandarharjo, Erick Wicaksono. Pada akhirnya, seluruh paket kurban berhasil mendarat di dapur warga secara merata tepat sebelum kumandang azan zuhur bergema.
“Sinergi dengan CSR sangat membantu kami menjangkau lebih banyak mustahik. Daging qurban tidak hanya untuk jamaah, tapi juga warga dhuafa, yatim, dan warga non-muslim sekitar masjid sebagai wujud kepedulian sosial,” pungkas Achmad Nuryadi.