Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Datangkan Syekh Timur Tengah, RS Roemani Semarang Banjir Ratusan Jemaah Idul Adha!

27 Mei 2026, 08:58 WIB 3 menit baca
Foto dokumentasi Syekh Hamdi Al Misri yang mengenakan jubah putih bersih dan penutup kepala tradisional Timur Tengah senada sedang berkhutbah dengan mantap dari atas mimbar kayu. Tangan kanan beliau tampak terangkat dengan telapak terbuka untuk menekankan pesan khutbahnya. Di barisan depan bawah, tampak bagian belakang jemaah pria berkopiah dan berpeci yang sedang duduk bersila menyimak materi secara khusyuk saat pelaksanaan shalat Idul Adha 2026 di halaman luar ruangan yang teduh.
Syekh Hamdi Al Misri saat menyampaikan khutbah selepas mengimami pelaksanaan shalat idul adha 2026 di halaman parkir utama RS Roemani Muhammadiyah Semarang, Rabu pagi. Kehadiran ulama asal Timur Tengah yang fasih berbahasa Indonesia ini sukses memikat perhatian ratusan jemaah yang memadati area rumah sakit guna mematangkan nilai ketaatan dan kesabaran di hari kemenangan.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Ratusan jemaah memadati halaman parkir utama Rumah Sakit (RS) Roemani Muhammadiyah Semarang untuk menunaikan ibadah Shalat Idul Adha 2026 pada Rabu (27/5/2026) pagi. Pihak manajemen rumah sakit menghadirkan langsung ulama asal Timur Tengah, Syekh Hamdi Al Misri, yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib.

Langkah RS Roemani ini sukses memikat antusiasme tinggi dari warga sekitar yang ingin merasakan kekhusyukan ibadah secara langsung. Meskipun berasal dari tanah Arab, sang khatib justru menyampaikan seluruh isi ceramahnya menggunakan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Hal ini tentu membuat ratusan pasang mata jemaah menyimak pesan khutbah dengan begitu mudah dan mendalam.

Syekh Hamdi mengawali khutbah dengan mengutip Surat Yusuf ayat 111 mengenai pentingnya mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu. Oleh karena itu, sang syekh menyoroti keteladanan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai sosok “Abul Anbiya” atau ayah para nabi yang mendapat gelar imam bagi seluruh manusia.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji Nabi Ibrahim dengan beberapa ujian yang sangat besar dan berat. Namun, Nabi Ibrahim mampu menyempurnakan seluruh perintah tersebut dengan kepasrahan total,” ujar Syekh Hamdi menggunakan bahasa Indonesia yang lancar di hadapan jemaah.

Kisah Pasrah Total Keluarga Nabi Ibrahim

Lebih lanjut, khatib asal Timur Tengah ini mengupas tiga fase ujian ekstrem yang menimpa kehidupan Nabi Ibrahim. Mulai dari ancaman hukuman bantai saat masih muda, perintah khitan sendiri pada usia 80 tahun, hingga keharusan meninggalkan anak-istri di padang pasir yang tandus.

Ulama ini juga menggambarkan ketangguhan Siti Hajar yang ikhlas melepas kepergian suaminya demi menjalankan perintah pencipta semesta. Maka dari itu, keteguhan iman Siti Hajar berbuah manis dengan kemunculan mata air Zamzam yang abadi hingga hari ini.

Puncak ujian terberat terjadi saat Nabi Ibrahim menerima perintah lewat mimpi untuk menyembelih sang anak kandung, Nabi Ismail. Meskipun demikian, kepatuhan luar biasa dari sang anak justru membuat Allah SWT menggantinya dengan seekor domba besar sebagai kurban.

“Keluarga luar biasa ini mendapat kemuliaan besar dari Allah karena kepatuhan mereka. Oleh sebab itu, tidak ada nikmat dunia yang lebih besar setelah Islam selain memiliki istri yang shalihah,” tambah sang khatib.

Pesan Tegas Mulai dari Jilbab Hingga Larangan Putus Silaturahim

Sementara itu, Syekh Hamdi menarik relevansi kisah tersebut dengan kehidupan muslim modern saat ini. Pengkhutbah mengingatkan para pendakwah dan muslim yang ingin istikamah di jalan sunnah untuk selalu memupuk rasa sabar menghadapi omongan miring dari lingkungan sekitar.

Sang ulama juga memberikan teguran keras terkait kewajiban menutup aurat bagi anak perempuan yang sudah menginjak usia baligh. Bahkan, khatib ini mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan alasan budaya lokal sebagai pembenaran untuk melanggar syariat agama.

Pada bagian akhir, pengkhutbah menyelipkan pesan sosial yang sangat menohok bagi pasangan suami istri yang sudah bercerai. Maka, ia melarang keras mantan suami atau istri menahan akses anak untuk bertemu dengan orang tua kandungnya.

“Melarang anak menemui ibunya atau ayahnya setelah perceraian adalah dosa besar yang memutus tali silaturahim. Oleh karena itu, mari kita jaga amanah titipan Allah ini,” pungkas Syekh Hamdi mengakhiri khutbah Shalat Idul Adha 2026 yang menggetarkan jiwa tersebut.

Kontributor: Afida Nur dan Muhammad Fahrezi
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: