Khutbah Iduladha Semarang Mengguncang: “Kemuliaan Bukan Milik Nasab, Melainkan Takwa”
SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org – Semangat perayaan kurban mengguncang Lapangan Lansia Rejomulyo, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang Timur. Ratusan jamaah laki-laki dan perempuan memadati arena salat Iduladha pada Rabu (27/05/26).
Pengurus Cabang Muhammadiyah (PCM) Semarang Timur menyelenggarakan acara ini pada Jumat pagi. Di bawah langit yang teduh, gema takbir bersahut-sahutan. Suasana ini tidak sekadar menjadi perayaan rutin. Khutbah Idul Adha Semarang ini justru meledakkan kesadaran tentang hakikat manusia di hadapan Allah.
Rektor Unimus, Prof. Dr. H. Masruki, M.Pd., bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Ia menyampaikan pesan Idul Adha yang tajam dan emosional. Pesan tersebut menghantam kesombongan sosial yang selama ini tumbuh diam-diam di tengah umat. Melalui khutbahnya, ia membawa jamaah seolah berdiri langsung di Padang Arafah.
“Tepat 9 Dzulhijjah kemarin, jutaan manusia berkumpul di Arafah. Mereka memakai pakaian yang sama, yaitu ihram putih. Tidak ada jabatan, gelar, maupun kasta. Semuanya sama di hadapan Allah,” ungkap Prof. Masruki.
Selanjutnya, ia menggambarkan suasana Padang Arafah. Tempat yang biasanya panas dan tandus itu justru terasa sejuk. Saat jamaah memulai wukuf, jutaan manusia dari berbagai bangsa melebur. Mereka mengucapkan satu kalimat yang sama: Subhanallah, Alhamdulillah, Labbaikallahumma Labbaik.
Seketika, tangis pun pecah di mana-mana. Para jamaah haji meneteskan air mata. Mereka mengenang tumpukan dosa dalam hidup selama ini. Manusia tidak bisa membanggakan apa pun lagi. Mereka hanya berharap Allah masih berkenan memberi ampunan.
“Wukuf Arafah itu begitu suci. Bahkan, Rasulullah memerintahkan umatnya memakamkan orang yang wafat saat ihram lengkap dengan pakaian tersebut. Kelak saat bangkit kembali, orang itu akan mengucapkan: Labbaikallahumma Labbaik. Seolah-olah ia masih berdiri di Arafah,” tambahnya.
Pesan Kesetaraan dalam Khutbah Idul Adha PCM Semarang Timur
Lebih lanjut, narasi khutbah berubah menjadi tamparan keras. Sasaran utamanya adalah mentalitas feodal di tengah masyarakat. Prof. Masruki menyebut kain ihram putih sebagai simbol kemanusiaan sejati. Kain itu melucuti semua atribut duniawi manusia. Akibatnya, pejabat dan rakyat jelata berdiri sejajar. Si kaya dan si miskin tidak lagi memiliki dinding pembatas.
Sebagai penguat, ia kemudian mengutip khutbah monumental Rasulullah SAW saat Haji Wada’.
“Wahai manusia, Tuhan kalian satu. Nenek moyang kalian satu, yakni Nabi Adam. Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab. Tidak ada kemuliaan kulit putih atas kulit hitam. Hal yang membedakan hanyalah takwa dan amal saleh.”
Kalimat itu seketika menghantam kesadaran para jamaah. Khatib mengirimkan pesan yang sangat tegas. Darah keturunan tidak mewariskan kemuliaan. Nasab Arab, status anak kiai, maupun kedudukan sosial bukanlah penentu derajat manusia.
“Orang biasa pun punya hak mulia di sisi Allah,” tegas Rektor Unimus tersebut.
Oleh karena itu, ia menekankan takwa bukan sekadar simbol religius di bibir. Takwa merupakan wujud keberanian umat menjaga syariat Allah setiap hari.
Memahami Makna Kurban, Takwa, dan Amal Saleh
Sementara itu, amal saleh memiliki dimensi makna yang sangat luas. Pelajar yang sungguh-sungguh menuntut ilmu sedang beramal saleh. Ibu-ibu yang membagikan pencerahan dalam kegiatan PKK juga melakukan amal saleh. Begitu pula para pekerja yang mencari nafkah dengan jujur.
“Semua aktivitas bernilai amal saleh asalkan tidak menabrak syariat. Umat harus mengerjakannya dengan ikhlas karena Allah,” ujarnya memotivasi para jamaah.
Pesan ini sekaligus menegaskan wajah Islam yang utuh. Islam bukan sebatas agama ritual, melainkan juga agama sosial. Salat, zikir, dan membaca Al-Qur’an memang ibadah mahdhah atau hubungan vertikal dengan Allah. Namun, membantu masyarakat dan mengabdi kepada lingkungan juga bermakna ibadah. Pahala dari kegiatan sosial ini akan terus mengalir.
Di penghujung acara, khatib kembali mengajak jamaah merenungi hakikat kurban. Ia mengingatkan penyembelihan hewan bukanlah inti utama peringatan Iduladha.
“Allah tidak membutuhkan darah dan daging kurban kita. Hal yang benar-benar sampai kepada Allah adalah ketakwaan kita,” tandasnya.
Kalimat penutup itu sukses membungkam keramaian. Suasana lapangan mendadak hening. Dunia modern saat ini kerap memuja jabatan, garis keturunan, dan kemewahan. Di tengah situasi itu, khutbah Idul Adha PCM Semarang Timur berfungsi bak alarm keras.
Peringatan ini membangunkan kesadaran dasar manusia. Kelak di hadapan Allah, semua topeng duniawi akan runtuh. Manusia hanya akan menyisakan jejak takwa serta amal saleh.