Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Rahasia Kesegaran Daging Ramah Lingkungan Lewat Praktik Green Kurban di Semarang

28 Mei 2026, 17:53 WIB 4 menit baca
Tumpukan wadah besek bambu ramah lingkungan dengan stiker Green Kurban di Masjid At-Taqwa Ngaliyan Semarang untuk distribusi daging kurban tanpa plastik.
Deretan besek bambu beralaskan daun jati siap pakai dalam program Green Kurban di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Semarang, Kamis (28/5/2026). (Foto: muhammadiyahsemarangkota.org/Dok. Panitia)

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org Lembaran daun jati ternyata memiliki kemampuan alami untuk menyerap cairan berlebih yang biasanya memicu pertumbuhan bakteri pada daging sapi dan kambing. Karakteristik unik inilah yang mendasari gerakan masif pembagian daging dengan konsep Green Kurban di Masjid At – Taqwa Wates, Semarang. Gerakan ini secara khusus mengampanyekan penggunaan wadah daging kurban ramah lingkungan guna mengedukasi masyarakat tentang cara menyimpan daging kurban yang paling sehat dan aman.

Langkah taktis ini diambil karena anyaman bambu atau besek terbukti bebas dari kandungan kimia sintetis. Penggunaan alas daun jati di dalam besek juga bukan tanpa alasan kuat, melainkan didasarkan pada fungsi biologis daun tersebut yang mampu mempertahankan higienitas pangan.

Keunggulan Alami Daun Jati untuk Daging

“Green Kurban yang kita pahami dan kita praktikkan di Masjid At-Taqwa Wates adalah pengelolaan kurban yang memperhatikan kebersihan lingkungan dan kelestarian. Satu, Green Kurban itu diwujudkan dalam bentuk distribusi yang sebisa mungkin menghindari penggunaan plastik,” ujar Prof. Ahwan Fanani M.Ag selaku guru besar UIN Walisongo Semarang dan Ketua Takmir masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates pada Kamis (28/05/2026).

Ia menjelaskan bahwa plastik merupakan salah satu bahan yang sangat susah diurai oleh alam. Terlebih lagi, penggunaan plastik hitam sangat dihindari karena mengandung banyak zat yang dipandang berbahaya bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, pihak takmir telah beralih menggunakan wadah besek sejak dua tahun yang lalu.

“Kita bersyukur berada di tempat yang masih banyak pepohonan, di mana jati ini menjadi media yang bisa dipakai di dalam pendistribusian daging karena jati menyerap cairan. Kedua, kita tersedia banyak daun jati yang mungkin tidak seluruhnya termanfaatkan, sehingga ketika dipakai dia benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur Ahwan.

Sistem Manajemen Limbah dan Kebersihan Lingkungan

Selain fokus pada wadah pembungkus, pihak takmir juga menerapkan manajemen kebersihan pascapenyembelihan secara ketat. Langkah tersebut diambil agar limbah hewan tidak mencemari lingkungan pemukiman warga sekitar masjid. Seluruh sisa darah dan kotoran hewan dialirkan langsung ke tanah yang telah disiapkan secara khusus.

“Kedua, kita memanajemen pengelolaan di mana kita menggunakan lahan untuk pengaliran darah, kotoran itu di tanah yang dia akan terurai menjadi tanah atau yang pastinya tidak di tempat-tempat yang memungkinkan itu menyebar, seperti di selokan. Kita hindari pembuangan di selokan,” kata Ahwan menegaskan.

Ia menambahkan bahwa langkah ketiga dari konsep ini adalah memastikan lokasi penyembelihan kembali bersih seperti sedia kala. Pihak panitia tidak ingin meninggalkan jejak kotoran apa pun setelah acara usai. Melalui cara ini, lingkungan fisik di sekitar masjid tetap terjaga dengan damai dan sejuk.

Distribusi Luas hingga ke Lapas Perempuan

Gerakan ramah lingkungan ini kemudian disempurnakan dengan sistem distribusi sosial yang inklusif dan menyasar kelompok rentan. Pihak panitia memprioritaskan penyaluran daging kepada ratusan warga sekitar yang benar-benar membutuhkan uluran tangan. Selain itu, warga dan elemen masyarakat juga terlibat aktif dalam seluruh prosesi.

Pihak panitia juga menjalin kerja sama dengan MCA (Mualaf Center Aisyiyah ) Kota Semarang dan LDK (Lembaga Dakwah Komunitas) Kota Semarang untuk memperluas jangkauan distribusi. Melalui kolaborasi tersebut, sebagian paket daging kurban dapat disalurkan langsung kepada warga binaan di Lapas Putri (Lapas Perempuan) Semarang. Alokasi lainnya juga dikirimkan ke panti asuhan dan panti jompo terdekat.

“Dalam hal ini kita mewakili panitia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Takmir Masjid At-Taqwa Wates Ngaliyan berupa amanah hewan kurban yang alhamdulillah pada hari ini kita sudah selesai menyembelih pagi hari, dan ini proses pendistribusian masih berlangsung,” ungkap perwakilan panitia kurban, Yusuf Isnan selaku koordinator panita.

Seruan PDM Kota Semarang untuk Masa Depan

Inovasi hijau dari kawasan Wates ini mendapat apresiasi positif dari Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Suparno BM. Ia memandang model pengelolaan ini sebagai preseden baik yang harus segera ditiru oleh masjid-masjid lainnya. Tradisi lama menggunakan daun jati terbukti memberikan dampak yang jauh lebih baik bagi kualitas pangan.

“Jadi memang ini bagus sekali ya, dan sebenarnya sudah dimulai agak lama. Di masjid saya sendiri di Al-Iman itu udah pakai gitu,” jelas Suparno saat memantau lokasi kegiatan.

Praktik Green Kurban juga terpantau dipraktikan oleh panitia penyembelihan kurban Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan di lokasi MI Wonosari. Panitia setempat membagikan daging kurban dalam besek bahan organik

Suparno menyambut baik gerakan ini dan berharap agar seluruh umat Islam bisa kembali ke alam dalam menyelenggarakan ibadah kurban, Penggunaan bahan alami diyakini dapat menekan ledakan sampah plastik yang biasanya terjadi pasca-Iduladha. Langkah ini dinilai berdampak sangat bagus untuk menjaga kualitas daging sekaligus melindungi kelestarian lingkungan.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: