Bukan Bulan Sial, Sudut Pandang Islam yang Sebenarnya Soal Mitos Bulan Suro
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Larangan menggelar hajatan pernikahan atau membangun rumah saat memasuki pergantian tahun Jawa saat ini masih melekat kuat di tengah masyarakat. Fenomena budaya tersebut lahir akibat adanya keyakinan turun-temurun mengenai datangnya kesialan atau malapetaka. Menanggapi hal itu, Dosen FTIK UIN Walisongo Semarang, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., secara khusus mengupas tuntas bahaya mitos bulan suro tersebut.
Aang Kunaepi membedah polemik tersebut dalam acara Pengajian Umum PRM Kaliwungu pada Jumat (12/6/2026) kemarin. Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang ini secara tegas menyatakan bahwa Islam menolak anggapan adanya hari atau bulan sial. Sebaliknya, umat Islam justru wajib memandang momen pergantian tahun ini secara positif sebagai ruang terbuka untuk memperbanyak amal ibadah.
Secara waktu penanggalan, momen awal tahun Jawa memang berjalan beriringan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Namun, sudut pandang hukum fikih dan tradisi kebudayaan antara keduanya memiliki perbedaan mendasar yang sangat kontras. Aang Kunaepi mengingatkan ratusan jemaah agar senantiasa menjaga kemurnian tauhid dan berserah diri secara penuh hanya kepada ketetapan Allah SWT.
“Thiyarah (merasa sial) adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan. Dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal dalam hati,” ujar Dr. Aang Kunaepi saat mengutip hadis riwayat Abu Daud.
Benturan Budaya dan Syariat
Sesi kajian ilmiah ini berjalan semakin menarik saat pembicara membeberkan akar sejarah penanggalan Jawa sejak zaman pemerintahan Sultan Agung. Masyarakat tradisional kerap mengisi malam sakral ini dengan aktivitas mawas diri, meditasi, tirakat, hingga membersihkan benda pusaka. Langkah kebudayaan tersebut sebenarnya boleh berjalan selama tidak melanggar batas syariat Islam dan tidak memicu keyakinan syirik.
Namun, jemaah wajib menghentikan praktik pemberian sesajen atau persembahan mistis kepada makhluk halus dan roh leluhur. Tindakan mengaitkan nasib keberuntungan dengan fenomena kedutan mata, gelas pecah, atau suara burung gagak merupakan bentuk salah kaprah. Rasa takut yang berlebihan terhadap mitos bulan suro ini justru masuk dalam kategori ath-thiyarah atau syirik kecil yang mengotori iman.
Pihak penyelenggara mengarahkan jemaah untuk menyerap nilai luhur kebudayaan yang sejalan dengan agama seperti agenda gotong royong. Islam membimbing umatnya untuk mengisi awal tahun dengan kegiatan yang produktif seperti silaturahmi dan mempelajari ilmu agama. Pemahaman yang lurus ini menjadi benteng kokoh agar masyarakat tidak lagi terjebak pada spekulasi mistis yang menyesatkan.
Langkah Konkret Hijrah Hakiki
Selanjutnya, Aang Kunaepi menjelaskan keutamaan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan haram yang sangat Allah muliakan. Berbeda terbalik dengan narasi menakutkan dalam mitos bulan suro, kalender Hijriah justru menawarkan ladang pahala yang melimpah. Umat Islam dapat memanfaatkan momentum emas ini sebagai ruang muhasabah untuk mengevaluasi kualitas ibadah pada masa lalu.
Gerakan pembaruan diri atau hijrah hakiki ini dapat berjalan melalui penyusunan target resolusi kebaikan yang nyata di lingkungan rumah. Jemaah bisa memulainya dari pembiasaan shalat tepat waktu, menjaga lisan dari ghibah, hingga memperbanyak sedekah. Selain itu, umat Islam juga mendapatkan anjuran kuat untuk melaksanakan ibadah puasa sunnah sepanjang bulan mulia ini.
Institusi keagamaan sangat merekomendasikan pelaksanaan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram karena memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang lalu. Agar tidak menyerupai kebiasaan kaum Yahudi, jemaah sebaiknya mendampingi ibadah tersebut dengan puasa Tasyu’ pada tanggal 9 dan 11 Muharram. Aktivitas ibadah yang padat ini sekaligus mematahkan segala bentuk mitos bulan suro yang tidak berdasar.