Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Hati Selalu Gelisah? Tiga Cara Bersyukur Menurut Islam Agar Hidup Lebih Berkah

26 Juni 2026, 22:10 WIB • 3 menit baca
Foto dokumentasi suasana ibadah shalat Jumat di Masjid Roemani Semarang. Tampak khatib Ustaz HM Budi Hidayat, M.Pd.I. mengenakan jas abu-abu, kacamata, dan peci putih sedang menyampaikan khotbah dari atas mimbar kayu berukir di bawah lengkungan kayu bernuansa hangat. Di latar depan, tampak barisan jemaah pria berkopiah hitam sedang duduk tertib menyimak khotbah dari arah belakang. Di sisi kiri terdapat pilar bergaris hitam-putih dan di sisi kanan tampak sebuah kipas angin dinding.
Ustaz HM Budi Hidayat, M.Pd.I., saat menguraikan khotbah Jumat mengenai pentingnya mengamalkan cara bersyukur menurut islam di Masjid Roemani, Semarang, Jumat (26/6/2026). Momentum ini mengajak jemaah merefleksikan nikmat kesehatan dan ketenangan jiwa guna menyambut tahun baru Islam dengan batin yang bersih

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Momentum pergantian tahun baru Islam harus menjadi ajang refleksi spiritual yang mendalam bagi setiap muslim. Kesadaran untuk mengevaluasi diri menjadi modal utama dalam memperbaiki kualitas hidup di masa depan. Langkah awal ini sangat krusial agar manusia tidak terjebak dalam rutinitas duniawi yang melalaikan.

Pesan menyentuh hati inilah yang menggema kuat di dalam ruang utama Masjid Roemani Semarang pada Jumat (26/6/2026) siang. Ratusan jamaah tampak khusyuk mendengarkan untaian nasihat dalam agenda ibadah shalat Jumat di akhir bulan Juni tersebut. Mereka menyerap langsung petuah bijak dari mimbar suci mengenai pentingnya menjaga stabilitas iman.

Ustaz HM Budi Hidayat, M.Pd.I., hadir langsung sebagai khatib untuk menuntun jalannya khotbah. Dalam orasinya, Budi Hidayat mengajak seluruh hadirin untuk merenungkan kembali hakikat pemberian Tuhan yang tanpa batas. Ia mengimbau umat Islam untuk memperbanyak refleksi atas limpahan kesehatan dan ketenangan sosial yang selama ini ada.

Bedah Tiga Dimensi Utama

Masuk pada inti kajian, sang ustaz memaparkan secara gamblang mengenai panduan praktis dalam menghargai pemberian Allah. Pihaknya merujuk pada konsep Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 18 tentang jumlah nikmat yang tidak akan pernah bisa manusia hitung. Pendidik agama ini kemudian menguraikan tiga cara bersyukur menurut Islam secara runtut.

Dimensi pertama bermula dari gerakan hati yang tulus mengakui bahwa segala fasilitas hidup murni merupakan titipan Ilahi. Selanjutnya, langkah kedua harus mewujud melalui lisan yang bersih dari aktivitas mengeluh, mencaci, ataupun menyebarkan hoaks. Puncaknya, dimensi ketiga menuntut pembuktian nyata lewat tindakan fisik untuk membantu sesama dan menegakkan keadilan.

“Jika Allah memberi kita nikmat sehat, gunakan untuk melangkah ke masjid dan membantu sesama. Jika Allah memberi nikmat harta, tunaikan zakatnya, perbanyak infak dan sedekahnya,” tegas Budi Hidayat dari atas mimbar.

Ancam Ketenangan Jiwa

Khotbah Jumat ini juga mengupas tajam konsekuensi logis dari pilihan hidup manusia berdasarkan Surat Ibrahim ayat 7. Khatib mengingatkan bahwa sifat syukur secara otomatis akan mendatangkan tambahan rahmat dan memunculkan rasa cukup (qana’ah). Sebaliknya, mentalitas yang gemar mengingkari kebaikan justru akan mengundang azab batin yang sangat mengerikan.

Orang yang mengidap penyakit kufur nikmat cenderung memiliki hati yang selalu gelisah dan dikejar ketakutan meskipun hartanya melimpah. Budi Hidayat menegaskan bahwa Allah akan mencabut seluruh keberkahan hidup dari manusia yang tidak pernah merasa puas. Ia meminta momentum awal tahun 1448 Hijriah ini menjadi titik balik untuk menyembuhkan penyakit mental tersebut.

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih/bersyukur,” tutur Budi Hidayat saat mengutip Surat Saba’ ayat 13 sebagai penutup nasihatnya.

Ulasan mendalam mengenai cara bersyukur menurut Islam ini sukses memantik kesadaran baru bagi para jamaah yang hadir. Melalui penguatan karakter religius yang aplikatif, Masjid Roemani konsisten menjadi pusat syiar yang menyejukkan. Nasihat rohani dari Ustaz Budi Hidayat sekaligus menjadi bekal berharga untuk mengarungi tahun baru dengan jiwa yang lebih bersih.

Kontributor: Halim Junior
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: