Sering Lupa Bersyukur, Ini Rahasia Ketenangan Jiwa Melalui Surah Quraisy
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Manusia modern sering kali terjebak dalam ambisi mengejar tambahan materi hingga melupakan esensi keamanan dan kecukupan pangan yang sudah ada di genggaman. Rasa tidak pernah puas tersebut lambat laun akan mengikis ketenangan batin dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Untaian nasihat menohok inilah yang mendominasi jalannya kultum shalat zuhur di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang pada Kamis (2/7/2026) siang.
Ustadz Mukri hadir langsung sebagai penceramah untuk menuntun jalannya kajian spiritual di hadapan ratusan jamaah kota. Mukri mengajak seluruh hadirin untuk mendalami lembaran Tafsir Surah Quraisy sebagai cermin besar dalam mengoreksi kualitas ketakwaan batin. Pembahasan surah ke-106 dalam Al-Qur’an ini mengupas tuntas mengenai dua modal utama kebahagiaan manusia, yakni ketersediaan pangan dan jaminan rasa aman.
Penceramah ini menjelaskan bahwa Allah memberikan kemudahan luar biasa bagi suku Quraisy untuk mendominasi jalur perdagangan dari Syam hingga Yaman. Namun, titik krusial dari segala kemudahan ekonomi tersebut adalah perintah mutlak untuk merunduk dan menyembah Pemilik Ka’bah. Pihaknya mengingatkan bahwa segala kenyamanan hidup murni merupakan bentuk pertolongan Tuhan, bukan karena kehebatan strategi manusia.
Sindiran Keras Panggung Sehari-hari
Masuk pada dinamika kehidupan kontemporer, sang ustadz melemparkan kritik reflektif mengenai kecenderungan sifat manusia yang kufur nikmat. Masyarakat umum sering kali menganggap remeh kehadiran keluarga yang harmonis, kesehatan fisik, serta kesempatan beribadah secara tenang. Padahal, lembaran Surat Ibrahim ayat 7 sudah mengunci formula bahwa syukur merupakan satu-satunya kunci pembuka kran tambahan rahmat.
“Allah mengingatkan kaum Quraisy bahwa semua kenikmatan yang mereka rasakan bukanlah hasil kekuatan atau kehebatan mereka semata, melainkan karena pertolongan dan karunia Allah SWT. Oleh sebab itu, mereka diperintahkan untuk menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun,” jelas Ustadz Mukri dari balik mimbar masjid.
Membiasakan lisan untuk berhenti mengeluh atas ujian yang sedikit menjadi fondasi utama dalam merawat stabilitas iman. Sifat serakah hanya akan melahirkan kegelisahan tanpa akhir meskipun tumpukan harta sudah memenuhi ruang penyimpanan. Melalui keteladan kaum terdahulu, umat Islam hari ini mendapat tuntutan untuk mengalihkan fokus pada pengelolaan rasa cukup (qana’ah).
Nilai Mahal Sebuah Keamanan
Kultum zuhur ini juga menyentuh sisi empati kemanusiaan jamaah dengan memperlihatkan potret kelam saudara muslim di belahan dunia lain. Banyak masyarakat di negara konflik yang harus menjalankan sisa hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan dentuman bom. Oleh karena itu, warga Indonesia wajib melipatgandakan rasa terima kasih karena masih menghirup udara kemerdekaan secara gratis.
Pihak pembicara menyitir sebuah hadis riwayat Tirmidzi mengenai parameter kekayaan hakiki seorang manusia di pagi hari. Seseorang yang memiliki tubuh yang sehat, lingkungan yang aman, serta kecukupan pangan untuk hari itu sejatinya telah menggenggam seluruh isi dunia. Mukri mendesak jamaah untuk mengubah energi syukur tersebut menjadi bensin utama dalam meningkatkan intensitas ibadah sosial.
Kajian mendalam seputar Tafsir Surah Quraisy ini sukses memantik kesadaran baru bagi para pekerja dan warga yang hadir memadati area utama masjid. Melalui pendekatan narasi yang humanis, Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang konsisten menyuplai energi positif penyejuk jiwa di tengah terik siang. Bekal spiritual ini menjadi pengingat berharga agar manusia senantiasa menggunakan sisa usia untuk kemaslahatan umat.