Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Gandeng Muhammadiyah, Kementerian Kebudayaan Tancap Gas Jaga Eksistensi Seni Budaya Nusantara

11 Juli 2026, 13:14 WIB 3 menit baca
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenakan batik cokelat-kuning dan peci hitam sedang memukul gong besar sebagai simbol pembukaan Rakernas Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah untuk menjaga eksistensi seni budaya nusantara. Di sebelah kirinya, jajaran pimpinan organisasi termasuk Haedar Nashir menyaksikan prosesi dengan bertepuk tangan di atas panggung.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat memukul gong ornamen ukir khas Jawa sebagai tanda peresmian pembukaan Rakernas LSB PP Muhammadiyah di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, guna memperkuat sinergi pelestarian seni budaya nusantara.

Jakarta, muhammadiyahsemarangkota.org — Indonesia ternyata menyimpan akar sejarah peradaban dunia yang sangat luar biasa panjang. Fakta mengejutkan ini mencuat setelah jurnal ilmiah internasional, Nature, resmi mengumumkan temuan lukisan gua purba tertua di dunia yang berlokasi di Kepulauan Muna, Sulawesi Tenggara. Kabar segar ini menjadi pemantik semangat baru dalam upaya melestarikan kekayaan Seni Budaya Nusantara ke kancah global.

Dikutip langsung dari portal resmi Muhammadiyah.or.id, momentum berharga tersebut mengemuka saat Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat (LSB) PP Muhammadiyah. Agenda besar ini berlangsung dinamis di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Jumat (10/7/2026) kemarin. Dalam forum tersebut, pimpinan kementerian ini mengapresiasi konsistensi Muhammadiyah yang sudah lebih dari seabad ikut merawat kebudayaan bangsa.

“Mandat konstitusi pada Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945 berbunyi, ‘Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.’ Karena itu, penting bagi kita untuk merawat, melestarikan, serta mengembangkan bahasa dan warisan budaya daerah,” ujar Fadli Zon di hadapan para peserta Rakernas.

Menyingkap Misteri 67 Ribu Tahun

Dalam pidatonya yang memukau, sang menteri memaparkan status Indonesia sebagai negara berperadaban. Dasar argumen tersebut diperkuat oleh hasil riset terbaru menggunakan metode uranium series terhadap lukisan gua di Liang Metandung. Berdasarkan pengujian ilmiah yang dipublikasikan pada Januari 2026 kemarin, karya seni purba itu diperkirakan telah berusia sedikitnya 67.800 tahun.

Penemuan fantastis ini otomatis langsung menggeser rekor dunia sebelumnya yang berada di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Lukisan purba di wilayah Maros sendiri sebelumnya diestimasi memiliki usia sekitar 51.200 tahun. Data arkeologis berharga ini menjadi bukti otentik bahwa nenek moyang bangsa ini telah memiliki cita rasa seni yang tinggi sejak puluhan ribu tahun lalu.

“Karena itulah kita harus menghargai peradaban yang sangat panjang ini sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia,” imbuh tokoh publik ini penuh semangat. Keberadaan fakta sejarah tersebut sekaligus melecut kementerian baru ini untuk mempercepat inventarisasi cagar budaya di seluruh pelosok negeri.

Sinergi Tiga Agenda Utama

Guna memaksimalkan potensi tersebut, Kementerian Kebudayaan kini tengah memprioritaskan akselerasi pelestarian terhadap berbagai objek warisan budaya benda maupun takbenda. Tanah air tercatat telah memiliki 2.727 Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional. Menariknya, sebanyak 16 di antaranya bahkan telah diakui resmi oleh UNESCO, termasuk seni bela diri Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Oleh karena itu, penguatan kolaborasi lintas sektor menjadi langkah krusial berikutnya yang wajib ditempuh pemerintah. Kehadiran infrastruktur kebudayaan seperti Museum Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan dipandang sebagai langkah konkret yang sangat strategis. Melalui pendekatan akademis, organisasi ini memiliki modal besar untuk ikut mengkaji ulang narasi sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Menutup arahannya, pimpinan kementerian ini mengingatkan bahwa ekspresi estetika dalam bermusik, film, maupun sastra harus senantiasa bersandar pada nilai kemuliaan. Seni tidak boleh berdiri hampa, melainkan harus tumbuh subur di atas fondasi tauhid, ilmu pengetahuan, serta kemaslahatan masyarakat luas.

“Kebudayaan harus hadir dan tumbuh di atas nilai-nilai tauhid, akhlak, ilmu pengetahuan, serta kemaslahatan. Film, musik, sastra, maupun berbagai bentuk seni budaya dapat menjadi media dakwah kita,” tegas Fadli Zon mengakhiri sambutan.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: