Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

Jaringan Sunyi Muhammadiyah Global

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.

Ketua PWM Sumatera Barat 2015–2022; 2000–2005 , Dosen Pascasarjana Univeritas Muhammadiyah Sumbar

Jaringan Sunyi Muhammadiyah Global
Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A., Ketua PWM Sumatera Barat (2000–2005 & 2015–2022) dan Rektor UM Sumbar (2006–2013), membagikan refleksinya mengenai sejarah dan kiprah Muhammadiyah di Eropa.

“Jalan yang benar sering kali sepi; ia tidak mencari tepuk tangan, melainkan menuntun jiwa pada kedalaman makna.” — Jalaluddin Rumi

Muhammadiyah tampil sebagai salah satu organisasi yang mampu menembus batas geografis dan kultural melalui simpul Muhammadiyah Global. Dalam sejarah panjang gerakan Islam modern, jalan yang ditempuhnya bukanlah jalan riuh penuh sorak, melainkan jalan sunyi. Sebuah lintasan yang menekankan kerja senyap, konsistensi dakwah, dan pengabdian sosial.

Jalan sunyi itu kini menjelma menjadi jaringan Muhammadiyah Global. Sebuah jaringan yang berakar di 31 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di berbagai belahan dunia—Asia, Timur Tengah, Australia, Amerika, Eropa, hingga Timor Leste.

PCIM bukan sekadar cabang administratif, melainkan wadah penguatan identitas diaspora Indonesia sekaligus laboratorium dakwah Islam Berkemajuan. Di sana, Muhammadiyah hadir sebagai penghubung antara tradisi keislaman Nusantara dan lanskap sosial-budaya negara penempatan. Fungsi cabang ini meliputi dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan penguatan jejaring intelektual. Dengan demikian, gerakan Muhammadiyah Global tidak hanya menanamkan akar di tanah air, tetapi juga menumbuhkan cabang di ranah internasional.

PCIM Britania Raya dan Pengakuan Global Islam Wasathiyah

Salah satu tonggak penting dari kiprah Muhammadiyah Global adalah kehadiran PCIM Britania Raya dan Irlandia yang berhasil bergabung dengan Muslim Council of Britain (MCB). Langkah ini menandai pengakuan internasional terhadap prinsip Islam Wasathiyah yang diusung Muhammadiyah.

Menjadi satu-satunya organisasi asal Indonesia yang masuk dalam jaringan MCB, PCIM Britania Raya tampil sebagai representasi diaspora yang membawa wajah Islam moderat ke panggung Eropa. Keanggotaan ini membuka akses lintas iman, memperluas ruang dialog antaragama, sekaligus memperkuat eksistensi nilai Islam Berkemajuan di tingkat global.

Muslim Council of Britain sendiri adalah organisasi payung Islam terbesar di Inggris yang mewakili lebih dari 500 lembaga, masjid, sekolah, dan jaringan profesional. Sejak berdiri pada 1997, MCB berperan sebagai representasi publik umat Muslim. Ia melawan rasisme dan Islamofobia, serta menginisiasi proyek sosial seperti Visit My Mosque dan Online Mental Health Hub. Bergabungnya PCIM Britania Raya ke dalam struktur demokratis MCB menjadikan diaspora Indonesia bagian dari arus besar advokasi Islam di Eropa.

Aksi Nyata Diaspora: Advokasi Kesehatan Mental dan Kolaborasi Strategis

Namun, jalan sunyi Muhammadiyah Global di Inggris tidak berhenti pada pengakuan formal. PCIM Britania Raya dan Irlandia aktif mengembangkan program strategis yang menyentuh isu-isu mendasar.

Pertama, advokasi isu kesehatan mental komunitas Muslim. Kehadiran PCIM sebagai delegasi tunggal Indonesia dalam National Muslim Mental Health Summit di University of East London menunjukkan komitmen diaspora terhadap isu kemanusiaan global. Forum ini mengungkap kesenjangan akses layanan kesehatan mental bagi umat Muslim di Inggris. Forum ini juga sekaligus meluncurkan direktori daring pertama yang menghimpun penyedia layanan ramah budaya.

Kedua, kemitraan strategis dengan East London Mosque (ELM). Melalui kolaborasi dengan KIBAR, PCIM Britania Raya menjajaki kerja sama jangka panjang yang mencakup layanan sosial bagi lansia, pertukaran akademik, dan pengembangan kurikulum pendidikan berbasis nilai keislaman. Kemitraan ini memperlihatkan bagaimana Muhammadiyah Global mampu menjalin simpul strategis dengan institusi Islam terbesar di Eropa. Dengan demikian dakwah tidak berhenti pada retorika, melainkan menjelma menjadi pelayanan nyata.

Ketiga, penguatan ideologi dan diaspora. Kegiatan Baitul Arqam yang digelar di London menjadi wadah kaderisasi sekaligus penguatan visi kebangsaan. Kehadiran Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan kembali bahwa pendidikan dan dakwah adalah pilar utama gerakan ini. Diskusi lintas generasi, dari akademisi hingga dai diaspora ini memperkaya perspektif tentang kepemimpinan dan spiritualitas. Acara ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai kota di Inggris, menandakan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan telah berakar dalam komunitas diaspora yang beragam.

Selain itu, PCIM Britania Raya juga mengelola Ziswaf (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf) dari diaspora untuk disalurkan ke tanah air melalui Lazismu. Inisiatif ini memperlihatkan bahwa jalan sunyi Muhammadiyah Global tidak hanya menguatkan komunitas lokal di luar negeri, tetapi juga tetap terhubung dengan tanah air. Diaspora menjadi jembatan solidaritas yang mengalirkan energi sosial dari Eropa ke Indonesia.

Adaptasi Layanan Kesehatan Mental dan Refleksi Muhammadiyah Global

Menariknya, pengalaman PCIM dalam forum kesehatan mental di Inggris membuka peluang adopsi model serupa di Indonesia. Data menunjukkan sekitar 20% populasi Indonesia berpotensi mengalami masalah kesehatan mental. Namun mayoritas tidak tahu harus mencari bantuan ke mana.

Direktori daring seperti yang diluncurkan di Inggris dapat diintegrasikan dengan ekosistem digital Kementerian Kesehatan, misalnya melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile. Dengan filter berbasis sensitivitas budaya dan validasi Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, layanan ini dapat mengikis stigma sekaligus memperluas akses kesehatan jiwa.

Tentu, tantangan besar menanti: kesenjangan geografis tenaga medis, stigma sosial yang kuat, serta keterbatasan fasilitas di daerah. Namun, sebagaimana jalan sunyi gerakan Muhammadiyah Global di ranah internasional, langkah kecil yang konsisten akan melahirkan perubahan besar. Jalan sunyi bukan berarti jalan sepi, melainkan jalan yang menolak hingar-bingar demi ketekunan dalam kerja nyata.

Di sinilah filosofi Muhammadiyah menemukan relevansinya. Jalan sunyi Muhammadiyah Global bukan sekadar ekspansi organisasi, melainkan ekspresi dari etika dakwah Islam Wasathiyah yang berakar pada kesederhanaan, keberlanjutan, dan keberpihakan kepada kemanusiaan. Diaspora Muhammadiyah di Inggris Raya menjadi cermin bahwa Islam berkemajuan mampu berdialog dengan dunia, menyumbang solusi atas isu-isu universal, dan tetap menjaga akar kebangsaan.

“Barang siapa berjalan di jalan sunyi, ia akan menemukan dirinya dalam cahaya yang tidak tampak oleh mata, tetapi terasa oleh hati.”

Refleksi sufistik ini menegaskan bahwa langkah Muhammadiyah Global bukan sekadar strategi organisasi, melainkan perjalanan spiritual. Muhammadiyah di panggung internasional hadir sebagai saksi bahwa iman, ilmu, dan amal dapat berpadu dalam satu tarikan napas, menuntun umat menuju masa depan kemanusiaan yang lebih terang.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: