Wisatawan Tak Lagi Tersesat! Mahasiswa Unimus Pasang Navigasi Visual di Desa Wisata Mangunsari
GROBOGAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Daplang Raya Sari kini tidak perlu takut tersesat atau kebingungan mencari titik fasilitas umum. Langkah pembaharuan ini lahir dari gagasan taktis Mahasiswa KKN-POM Kelompok 15 Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) di Desa Mangunsari, Kecamatan Tegowanu, Grobogan.
Para mahasiswa menghadirkan pemetaan navigasi visual lengkap beserta plang penunjuk arah di sepanjang kawasan wisata. Langkah nyata ini menjadi jawaban atas kebutuhan riil pengunjung yang selama ini kesulitan mengenali potensi tersembunyi di Desa Mangunsari.
Ketua KKN-POM Kelompok 15 UNIMUS, Muhammad Daffa Dwi Febrilyan, menegaskan bahwa penataan navigasi ini bertujuan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga setempat. Pembuatan peta lokasi dirancang presisi agar orientasi pengunjung menjadi lebih mudah dan nyaman.
“Kami ingin program kerja yang dilaksanakan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kami berusaha melihat apa yang dibutuhkan desa, kemudian menghadirkan fasilitas yang dapat digunakan masyarakat dan pengunjung secara berkelanjutan,” tegas Muhammad Daffa Dwi Febrilyan.
Jawaban Atas Kebutuhan Riil Pengunjung dan Pengelola
Apresiasi tinggi mengalir langsung dari Pemerintah Desa Mangunsari atas inisiatif solutif para mahasiswa. Kehadiran fasilitas petunjuk jalan ini dinilai sanggup mendongkrak daya tarik kunjungan wisatawan secara signifikan.
Kepala Desa Mangunsari, Musono, menilai bahwa sentuhan mahasiswa membawa energi baru bagi tata kelola desa wisata daerahnya. Fasilitas sederhana ini terbukti memberi dampak langsung bagi kenyamanan pengunjung harian.
“Peta desa wisata dan petunjuk arah ini sangat bermanfaat karena dapat membantu masyarakat maupun pengunjung memperoleh informasi mengenai kawasan wisata dengan lebih mudah,” puji Musono.
Bukti Inovasi Sederhana Mampu Beri Dampak Besar
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UNIMUS, Prima Trisna Aji, menekankan pentingnya program pengabdian yang berangkat dari masalah nyata di lapangan. KKN idealnya tidak hanya berfokus pada seberapa banyak acara yang terlaksana.
Sejumlah fasilitas navigasi ini menjadi bukti bahwa sebuah inovasi tidak harus selalu rumit. Kehadiran peta kawasan sanggup memperkuat identitas desa wisata secara profesional.
“KKN bukan sekadar mahasiswa datang, melaksanakan kegiatan, kemudian pulang. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kehadiran mahasiswa meninggalkan dampak dan manfaat yang dapat terus dirasakan masyarakat,” ungkap Prima Trisna Aji.
Dengan demikian, kolaborasi antara UNIMUS dan Pemerintah Desa Mangunsari berhasil menciptakan ekosistem wisata yang ramah pengunjung. Fasilitas navigasi ini siap menjadi penanda bangkitnya pariwisata lokal yang berkelanjutan.