Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

Dibalik Muktamar NU, Ada Toleransi Otentik Muhammadiyah

Dr. Aji Sofanudin, M.Si.

Peneliti BRIN

Dibalik Muktamar NU, Ada Toleransi Otentik Muhammadiyah
Aji Sofanudin, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengulas fenomena toleransi otentik serta keunikan diksi pada perhelatan Muktamar NU ke-35 di Jombang.

Muktamar NU ke-35 yang berlangsung dari 27 sd 31 Agustus 2026 yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang mengisahkan banyak cerita. Diantaranya dihadiri Presiden, Presiden minta KartaNU, otak atik gatuk muktamar 35 (muktamar angka 8), acara meriah, dan sebagainya.

Di antara cerita lain adalah ”diksi unik” yang muncul dan meramaikan perhelatan muktamar. Beberapa diksi dan ungkapan yang muncul misalnya: muktamirin, romli, la miftaha wala yahya, ber NU ala bashiroh bukan bisyaroh, NU saklawase dan seterusnya.

Pertama, istilah muktamir in dan muktamir out. Istilah muktamirin (muktamir in) ini untuk menyebut peserta resmi atau memiliki hak suara, sementara muktamir out untuk peserta tambahan atau penggembira, biasa dikenal juga dengan sebutan romli.

Muktamirin adalah peserta muktamar (delegasi atau orang yang hadir dan memiliki hak suara dalam forum muktamar NU). Secara keseluruhan jumlah muktamirin sebanyak 2.232 delegasi yang berasal dari 38 Pimpinan Wilayah NU (tingkat provinsi), 523 Pimpinan Cabang NU (tingkat kab/kota), dan 33 Pimpinan Cabang Istimewa NU (luar negeri).

Kedua, istilah romli yang biasa diterjemahkan menjadi rombongan lillahi ta’ala, ada juga yang mengartikan rombongan liar. Artinya bukan peserta muktamar resmi. Istilah romli lebih merujuk kepada peserta penggembira dari warga NU.

Kabarnya  warga NU sebanyak 57 % penduduk muslim di Indonesia berafiliasi ke NU yang berjumlah sekitar 250 juta (87 % dari jumlah penduduk Indonesia 290 juta). Sehingga, jumlah warga NU di Indonesia kira-kira sebanyak 140 juta. Belum diketahui berapa yang telah ”resmi” atau memiliki kartaNU (kartu tanda anggota NU; identitas digital resmi anggota NU).

Ketiga, La miftaha, wala yahya; bukan Miftah (Rais Am, Miftahul Akhyar) dan bukan pula Yahya (Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Tsaquf). Istilah ini sebagai ungkapan: semua boleh ikut, tapi yang bermasalah jangan. Ini diksi politis dari pihak yang tidak menghendaki incumbent untuk maju lagi.

Kabarnya, kandidat kuat Ketua Umum PBNU adalah Gus Yahya (KH Yahya Cholil Tsaquf, incumbent) dan Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh PP Tebuireng, Ketua Tanfidziyah PW NU Jawa Timur). Selain itu, muncul juga nama Gus Rozin (KH Dr Abdul Ghafar Rozin, Ketua PW NU Jawa Tengah, Ketua Majelis Masyayih); Gus Yusuf (KH Muhammad Yusuf Chudhori, Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, Magelang); ada juga nama Gus Zulfa (KH Zulfa Mustofa, Wakil Ketua Umum PBNU), mencuat juga nama Prof Dr KH Nasarudin Umar (Menteri Agama RI).

Menurut sebuah sumber, yang menguat adalah Gus Yahya (GY) dan Gus Kikin (GK). Kubu luar Jawa (Makassar) yang diwakili oleh Menteri Agama RI, Nasarudin Umar (NU) kabarnya tidak jadi maju, meskipun didukung penuh oleh istana. Kubu Jawa Barat yang diwakili GZ, yang didukung oleh Nusron Wahid kabarnya tidak menguat. Sementara itu, Gus Yusuf akan merapat ke GY, dan Gus Rozin akan merapat ke GK. Ini hanya obrolan warung kopi di sekitaran arena Muktamar.

Dengan diterima Laporan Pertanggujawaban petahanan, peluang GY untuk melanjutkan kepemimpinan di NU terbuka lebar. Meskipun, peluang GK sebagai shohibul bait, tuan rumah tentu juga akan mengoptimalkan berbagai sumber daya.

Keempat, ada juga istilah ber NU ala bashiroh buka bisyaroh, Maksudnya gabung dengan NU karena bashiroh, yang berarti kejernihan mata batin, ilmu, pemahaman dan argumen yang kuat bukan berorientasi pada bisyaroh (imbalan materi atau amplop). Ini pesan yang disampaikan oleh Wakil Presiden ke-13, KH Ma’ruf Amin. Dalam konteks ini, ada juga yang mewacanakan pembentukan KPK di NU.

Kelima, PBNU sak cukupe, NU salawase. Ungkapan ini disampaikan oleh Ketua Panitia OC, yang juga Sekretaris Jenderal PBNU Syaifullah Yusuf pada pembukaan Muktamar yang maksudnya ”menjadi pengurus PBNU secukupnya atau ada batasnya, sementara mengabdi dan menjadi warga Nahdlatul Ulama berlaku selamanya’. Ungkapan ini menunjukkan pentingnya menjaga kerukunan dan kedamaian selama pelaksanaan muktamar NU.

Toleransi Otentik

Selain keunikan diksi, ada juga cerita keunikan lain yakni satu cerita unik Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jombang yang turut menyemarakkan agenda Muktamar NU ke-35 di Jombang dengan membuka Posko Muhammadyah untuk Muktamar Nahdlatul Ulama.

Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang juga adalah Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, pembukaan Posko Muhammadiyah pada momentum Muktamar NU Jombang memiliki makna penting yang menunjukan sikap terbuka Muhammadiyah dan kesungguhan muhammadiyah dalam membangun dan meningkatkan Ukhuwah Islamiyah. Semoga pembukaan posko ini tidak berhenti hanya pada pelayanan muktamar NU tetapi menjadi tradisi dan kegiatan yang terus dilaksanakan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh umat (27/8/2026).

Hemat saya, pembukaan Posko Muhammadiyah pada perhelatan Muktamar NU menujukkan bentuk Toleransi otentik Muhammadiyah. Muhammadiyah tidak pandai merangkai kata untuk menunjukkan sikap toleransi. Muhammadiyah tidak berbusa-busa menjelaskan teori toleransi. Pembukaan posko Muhammadiyah pada Muktamar NU merupakan bukti bahwa toleransi Muhammadiyah merupakan toleransi aksi, toleransi perbuatan, toleransi asli bukan basa-basi sekaligus menunjukkan toleransi otentik Muhammadiyah.

Posko Muhamamdiyah pada Muktamar NU ke-35 menyiapkan pelayanan kesehatan gratis, 10.000 porsi bakso gratis, 10.000 telur gratis dan 9 ambulance yang berlokasi di utara PP Bahrul Ulum sekitar 500 meter berlokasi Jl Wahab Hasbullah No 174 Tambakberas Krapak Mojokrapak, Jombang. Wallahu’alam.

Baca juga:

Ada Muhammadiyah di Muktamar NU Jombang

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: