Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Waktunya Introspeksi, Ketika Algoritma Gawai ‘Merebut’Peran Kita Sebagai Orang Tua

5 September 2026, 12:35 WIB • 3 menit baca
Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. mengenakan pakaian hitam dan peci/kupluk biru dengan kacamata di atasnya sedang menyampaikan materi di depan laptop pada meja bertaplak hijau lambang Muhammadiyah.
Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., membedah pentingnya keteladanan orang tua dalam pendidikan anak era digital pada kajian di Masjid Baitul Huda, Sabtu (5/9/2026).

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Orang tua kerap merasa tenang ketika sudah memenuhi kebutuhan materi dan mendaftarkan anak ke sekolah terbaik. Padahal, realitas era digital menunjukkan bahwa anak-anak hari ini menghabiskan waktu lebih lama bersama tontonan layar ketimbang berinteraksi dengan keluarga.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mendalam mengenai arah tumbuh kembang karakter generasi muda. Dosen sekaligus akademisi agama, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., membedah fenomena perebutan pengaruh pendidikan ini dalam kajian ilmu di Masjid Baitul Huda pada Sabtu (5/9/2026).

Penulis buku dan pencerah ini menegaskan bahwa anak-anak masa kini menerima serbuan nilai dari berbagai arah sekaligus. Rumah, sekolah, dan internet kerap memberikan pesan moral yang saling bertolak belakang sehingga memicu kebingungan karakter pada diri anak.

“Anak kita tidak cukup hanya dibuat pintar. Ia harus dibentuk menjadi manusia yang benar. Tidak cukup menjadi generasi yang mampu menggunakan teknologi, ia harus mampu mengendalikan teknologi agar tidak dikendalikan olehnya,” tutur Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang tersebut.

Saat Internet Menjadi Guru Tanpa Jam Kerja

Selanjutnya, pencerah agama ini menyoroti kehadiran internet sebagai ‘guru baru’ yang tidak pernah mengenal kata libur. Media sosial, gim online, dan algoritma platform digital terus menyusupkan gaya hidup, bahasa, serta tolok ukur kesuksesan yang belum tentu sejalan dengan nilai agama.

Bahkan, pengawasan fisik semata tidak lagi cukup untuk membentengi benteng pertahanan moral anak. Orang tua perlu membangun dialog yang hangat serta menanamkan budaya tabayyun agar anak mampu menyaring setiap informasi yang masuk secara mandiri.

Di samping itu, keteladanan nyata di dalam rumah tetap menjadi pondasi paling utama yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi apa pun. Nasihat lisan bakal kehilangan kesaktiannya jika anak menyaksikan ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan orang tua sehari-hari.

“Pendidikan paling kuat di rumah bukan hanya nasihat, melainkan keteladanan. Anak lebih banyak belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang diperintahkan,” tegas Penasihat Korps Mubaligh PWM Jawa Tengah tersebut.

Membangun Benteng Moral

Sementara itu, pembahasan mengenai integrasi pendidikan ini memantik kesadaran para peserta yang hadir. Rumah tangga harus kembali mengambil alih peran utamanya sebagai ruang pendidikan karakter pertama dan paling aman bagi anak.

Selain itu, sekolah dan lingkungan keluarga wajib mempererat komunikasi agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Sinergi yang kuat antara guru dan orang tua bakal menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang konsisten bagi anak.

Dengan demikian, pemahaman mendalam mengenai pendidikan anak era digital ini menjadi pengingat penting bagi setiap keluarga. Langkah menghadirkan rumah yang ramah dan penuh keteladanan bakal mencegah anak mencari pelarian di dunia maya.

Pada akhirnya, perjuangan mendidik anak merupakan investasi moral jangka panjang yang membutuhkan kesungguhan. Penguasaan teknologi yang berpadu dengan keteguhan akhlak akan melahirkan generasi yang cerdas sekaligus bijaksana menghadapi perubahan zaman.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: