Fachrur Rozi Ingatkan Alumni Sekolah Tabligh Muhammadiyah: Wisuda Bukan Garis Akhir, Saatnya Buktikan Diri!
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Sertifikat kelulusan tidak akan pernah cukup menghidupkan musala kampung yang sunyi tanpa kehadiran nyata seorang dai di tengah umat.
Pesan menohok itu bergema lantang ketika Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag., menyampaikan pembekalan kepada para wisudawan Sekolah Tabligh PDM Kota Semarang. Bertempat di Hotel Muria pada Sabtu, 17 Oktober 2026, acara tersebut berubah menjadi ruang refleksi mendalam bagi para mubaligh Muhammadiyah.
Bagi Fachrur, popularitas di luar daerah tidak ada artinya jika rumah sendiri gelap tanpa pencerahan. Ia menyentil fenomena penceramah yang kerap wara-wiri di mimbar megah, namun justru asing di hadapan tetangga sendiri.
“Jangan menjadi mubaligh Muhammadiyah yang dikenal di luar, tetapi di kampungnya tidak dipakai. Moncer di mana-mana, tetapi di kampungnya tidak dikenal,” serunya di hadapan puluhan peserta yang menyimak dengan seksama.
Menghidupkan Masjid di Akar Rumput
Tamparan kalimat itu terasa kian relevan tatkala ditarik ke dalam realitas sosial sehari-hari. Selama ini, sebagian dai kerap berlomba memenuhi undangan jauh, sementara peran masjid di perkampungan justru meredup akibat ketiadaan pembina harian.
Fachrur menegaskan bahwa esensi perjuangan seorang dai bukan terletak pada seberapa riuh tepuk tangan penonton di gedung mewah. Ukuran sejati seorang keteladanan penceramah diuji dari kesanggupannya membersamai umat yang paling dekat di lingkungan sekitarnya.
“Jangan sampai dai sibuk memenuhi undangan ke berbagai tempat, tetapi masjid di lingkungannya sendiri terbahayakan dan terabaikan,” tegasnya mengingatkan pentingnya prioritas umat di tingkat lokal.
Tantangan Dakwah dan Filosofi Genteng
Selain itu, ia juga mendorong para lulusan agar tidak alergi terhadap pekerjaan kecil demi kemaslahatan bersama. Mulai dari merapikan saf salat, menjadi imam, hingga mengelola kegiatan harian masjid merupakan bagian utuh dari perjuangan dakwah akar rumput.
Sebagai penutup, ia memberikan perumpamaan tajam tentang pengabdian melalui filosofi genteng yang rela melindungi rumah dari panas dan hujan. Di sisi lain, ia mengingatkan agar para dai senantiasa menjaga kreativitas komunikasi agar pesan agama tidak terasa kaku di tengah masyarakat modern.
“Kebenaran harus disampaikan dengan cara yang tepat agar bukan sekadar terdengar, tetapi juga dipahami dan diamalkan oleh jamaah,” pungkasnya.