Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Gaji Besar Tapi Selalu Kurang? Kenali Penyumbat Utama Pintu Rezeki

27 Oktober 2026, 16:10 WIB • 3 menit baca
Penceramah Ustadz Ra'ad Noor Fattah berkemeja oranye dan peci hitam berdiri di mimbar kayu Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang memberikan tausiah di depan mihrab masjid.
Suasana kultum ba'da Zuhur di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Selasa (27/10/2026). Penceramah Ustadz Ra'ad Noor Fattah, M.Ag. (Bina Rohani RS Roemani Semarang) memaparkan tausiah mengenai pentingnya rasa syukur, etika kejujuran dalam mencari nafkah, serta mewaspadai berbagai kebiasaan yang menjadi penyumbat rezeki dan penghilang ketenangan batin keluarga.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Keberkahan rezeki tidak pernah bersumber dari seberapa menumpuk nominal harta di dalam rekening perbankan. Padahal, banyak orang terjebak bekerja keras siang dan malam, namun justru kehilangan ketenangan batin akibat mengabaikan etika kejujuran.

Oleh karena itu, pesan reflektif ini mengemuka dalam kultum setelah salat Zuhur di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Selasa (27/10/2026). Penceramah Ustadz Ra’ad Noor Fattah, M.Ag., yang bertugas sebagai Bina Rohani RS Roemani Semarang, membedah rahasia menjemput rezeki halal sekaligus menjaga kedisiplinan ibadah harian.

Sebab, penceramah mengingatkan bahwa rasa syukur menjadi kunci utama yang membuka pintu kelapangan hidup. Mengutip Surah Ibrahim ayat 7, manusia kerap berfokus pada apa yang belum ia miliki hingga keliru melupakan karunia kesehatan dan kesempatan bekerja.

“Rezeki yang berkah tidak semata-mata diukur dari besarnya penghasilan. Keberkahan itu justru tercermin dari ketenteraman hati, kecukupan kebutuhan keluarga, serta manfaat yang dapat kita bagikan kepada orang lain,” tegas Ustadz Raad di hadapan para jamaah.

Menghindari Perilaku Penghambat dan Mengawal Kejujuran

Selain itu, kebiasaan mengeluh, bermalas-malasan, serta menghalalkan berbagai cara menjadi penyumbat utama mengalirnya keberkahan. Akibatnya, ikhtiar mencari nafkah yang tidak diiringi kejujuran hanya akan menyisakan kegelisahan dalam rumah tangga.

Oleh sebab itu, umat Islam wajib menjauhi tindakan curang dan keberanian mengambil hak orang lain secara tidak sah. Di sisi lain, etos kerja profesional dan amanah justru mengubah aktivitas pekerjaan sehari-hari bernilai ibadah yang mulia.

Perbaikan kualitas hidup harus bermula dari kesadaran untuk terus mengoreksi akhlak dan memperbanyak istigfar. Pada akhirnya, manusia perlu menyelaraskan antara ikhtiar duniawi dan ketakwaan spiritual secara seimbang.

“Kita harus memastikan rezeki diperoleh dengan cara yang benar. Bekerja harus diiringi doa dan rasa tanggung jawab agar memberi kedamaian,” tutur penceramah kultum tersebut.

Keutamaan Salat Subuh dan Isya Sebagai Benteng Diri

Selanjutnya, Ustaz Raad menyoroti pentingnya menjaga istiqamah dalam melaksanakan salat Subuh dan Isya secara berjamaah. Kedua waktu ibadah ini memang menuntut perjuangan fisik yang berat karena harus melawan rasa kantuk serta kelelahan aktivitas.

Namun, merujuk hadis riwayat Muslim, pahala salat Isya berjamaah setara dengan salat separuh malam, sedangkan salat Subuh berjamaah bernilai seperti salat sepanjang malam. Akibatnya, kedisiplinan waktu salat membentuk karakter muslim yang tangguh dan bijaksana.

Dengan demikian, Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang terus menghadirkan ruang penguatan spiritual agar jamaah mampu menyeimbangkan etos kerja dan ketaatan. Kehidupan yang bahagia senantiasa lahir dari hati yang pandai bersyukur atas segala ketentuan Allah SWT.

“Mari kita jaga salat tepat waktu di masjid. Kebiasaan ini akan memperkuat keimanan sekaligus membentuk pribadi yang lebih sabar dan bertanggung jawab,” pimpin Ustaz Raad menutup tausiahnya.

Kontributor: Halim Junior
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: