Menebar Sehat Lintas Iman, Wujud Nyata Kemanusiaan Universitas Muhammadiyah Semarang di Bandar Lampung
BANDAR LAMPUNG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pengabdian tidak pernah menanyakan latar belakang keyakinan. Melangkah dari kampus Islam, mahasiswa keperawatan Unimus merangkul warga lintas agama di Lampung lewat aksi kesehatan inklusif.
Suasana hangat terasa di sudut Gereja HKBP Ress Tanjung Karang, Bandar Lampung, pada Jumat, 27 November 2026. Puluhan warga berkumpul bukan sekadar beribadah, melainkan antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis. Di tengah ruangan, sekelompok mahasiswa berjas putih tampak cekatan melayani siapa saja yang datang tanpa memandang perbedaan.
Ratusan kilometer perjalanan dari ruang kuliah Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) terbayar tuntas saat mereka melebur bersama denyut nadi masyarakat setempat. Kolaborasi erat bersama rsud dadi tjokrodipo lampung ini menjelma menjadi simbol hidup dari toleransi beragama. Bagi sivitas akademika Unimus, kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan motor penggerak kebaikan universal bagi seluruh umat manusia.
Satu per satu warga menjalani pemeriksaan menggunakan perangkat point-of-care testing. Jarum kecil menusuk jemari, sementara angka pada layar monitor merekam kadar gula darah sewaktu, kolesterol, hingga asam urat. Tekanan darah pun diukur cermat guna mendeteksi dini ancaman hipertensi yang kerap bersembunyi.
Banyak warga datang dengan keyakinan penuh bahwa tubuh mereka baik-baik saja. Namun, lembar demi lembar hasil skrining sering kali memunculkan kejutan kecil yang membuka mata. Di sinilah peran perawat spesialis KMB mulai bekerja menembus sekat-sekat sosial, merawat sesama atas nama kemanusiaan.
Merawat Sesama Tanpa Batas Sekat
Ketua Program Studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah UNIMUS, Ns. Yunie Armiyati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menegaskan bahwa misi kesehatan yang diemban institusinya bersifat terbuka dan merangkul semua kalangan. Menurutnya, kepedulian sosial harus hadir tanpa sekat primordial.
“Pengabdian kepada masyarakat merupakan ruang bagi mahasiswa spesialis untuk membawa kompetensi keperawatan lebih dekat kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Perawat spesialis tidak hanya dituntut mampu menangani pasien ketika penyakit sudah terjadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam promosi kesehatan, deteksi dini, dan pemberdayaan masyarakat agar mampu menjaga kesehatannya secara mandiri,” ungkap Yunie.
Nilai inklusivitas tersebut dirasakan langsung oleh para peserta di lokasi kegiatan. Pandangan senada disampaikan oleh Arief selaku perwakilan tim mahasiswa. Bagi dirinya, esensi pelayanan kesehatan terletak pada ketulusan tangan yang merangkul setiap insan yang membutuhkan pertolongan.
“Deteksi dini akan lebih bermakna ketika diikuti dengan pemahaman dan perubahan perilaku. Karena itu, kami tidak sekadar melakukan pemeriksaan, tetapi juga berdialog dengan peserta mengenai faktor risiko dan kebiasaan sehari-hari yang dapat dimodifikasi untuk menjaga kesehatan,” tutur Arief.
Menjalin Harmoni Lewat Aksi Nyata
Di sudut ruangan, sesi konseling personal berlangsung penuh keakraban. Mahasiswa telaten mendengarkan keluh kesah warga lintas usia, membedah pola makan harian, hingga memberikan panduan praktis pengendalian faktor risiko. Warga yang mendapati hasil di atas batas normal pun langsung diarahkan menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Melalui langkah nyata pengabdian masyarakat kesehatan Unimus ini, batas-batas kultural dan institusional lebur menjadi satu kepedulian kolektif. Kehadiran kampus berbasis Islam yang merangkul jemaat gereja membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan universal mampu merajut kerukunan yang kokoh di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, aksi nyata hari itu mengajarkan kita satu pelajaran berharga tentang indahnya kebersamaan. Kesehatan sejati bukan sekadar urusan fisik, melainkan buah dari ketulusan hati untuk saling merawat dan mencintai sesama umat manusia.