
MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, GAYAMSARI – Islam menghendaki hidup rukun. Kerukunan umat beragama dalam Islam yakni Ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah dan Islamiyah akan berarti persaudaraan Islam atau pergaulan menurut Islam. Demikian penjelasan singkat mengenai Ukhuwah Islamiah oleh ustadzah Ranum Ester S.TP. pada kajian PENA Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Gayamsari di taman citra satwa, Jl. Unta Raya, kelurahan Pandean Lamper, kecamatan Gayamsari.
Menurut ustadzah Ranum, Ukhuwah Islamiyah adalah gambaran tentang hubungan antara orang-orang Islam sebagai satu persaudaraan, dimana antara yang satu dengan yang lain seakan akan berada dalam satu ikatan.Pelaksanaan Ukhuwah Islamiyah menjadi aktual, bila dihubungkan dengan masalah solidaritas sosial. Bagi umat Islam, Kata persatuan, kesatuan, dan solidaritas akan terasa lebih tinggi bobotnya bila disebut dengan Ukhuwah. Apalagi bila kata Ukhuwah dirangkaikan dengan kata Islamiyah, maka ia akan menggambarkan satu bentuk dasar yakni Persaudaraan Islam merupakan potensi yang obyektif.

PENTINGNYA MEMILIH SAHABAT YANG TEPAT
Bagi generasi muda, orang yang paling sering ditemui bukan lain adalah teman-teman, baik di kampus, kost, atau di tempat nongkrong. Meski dianjurkan berteman dengan siapapun, namun perihal memilih sahabat adalah hal yang berbeda. Terlebih bagi kita, seorang Muslim yang memiliki panduan dari Al-Quran dan teladan dari Rasulullah SAW.
Bagi sebagian orang, sahabat dapat menjadi alasan untuk masuk surga. Namun, bagi sebagian lain, sahabat dapat mendorong perbuatan-perbuatan yang dilarang agama. Maka dari itu, perlu bagi kita menyediakan filter yang tepat agar sahabat yang selalu menjadi tempat berbagi baik ketika senang maupun susah dapat mendorong kita untuk selalu mengingat Allah.
Sahabat juga menjadi faktor penting bagi kita dalam pengumpulan “informasi”. Informasi yang dimaksud dapat berupa kebiasaan yang dilakukan, ilmu yang dibagikan, maupun pemilihan kata-kata yang digunakan. Telah menjadi rahasia umum bahwa banyak sekali lingkup pertemanan yang menggunakan kata-kata kasar sebagai kebiasaan yang lumrah, sehingga orang-orang yang tergabung di dalamnya akan memaklumkan penggunaan kata-kata tersebut.
Selain dalam perkumpulan yang sifatnya bertemu secara fisik, pemilihan “sahabat” disini juga dapat diperluaskan konteksnya sebagaimana memilih mengikuti akun media sosial. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, komentar yang tidak sopan, atau mengunggah postingan yang tidak bermanfaat bisa jadi disebabkan oleh akun-akun media sosial yang kita ikuti. Akun tersebut secara tidak langsung membentuk cara berpikir dan cara bertindak kita di kemudian hari. Maka, tidak salah untuk kembali melihat apakah akun-akun yang kita ikuti akan memberikan dampak buruk bagi kita di masa depan. Gunakan fitur mute postingan jika memang tidak ingin memilih opsi berhenti mengikuti di media sosial.
Sebagai penutup, ustadzah Ranum menjelaskan bahwa seluruh pilihan-pilihan yang kita ambil saat ini pada akhirnya akan membentuk diri kita di masa depan. Bijak memilih teman tak hanya dilakukan dalam kehidupan sosial, namun juga di di dunia maya, yang mana membentuk sebuah lingkaran persahabatan yang tak hanya bisa memahami satu sama lain, namun juga mengingat Allah dalam setiap kesempatan.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara