Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Ustadz H. Nur Malik S.Ag. ketika menjadi narasumber kajian tematik PRM Gayamsari


MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, GAYAMSARI – Allah SWT telah menjanjikan rezeki yang banyak bagi kita yang mau berhijrah di jalan Allah dan menjadikan Hijrah di jalan-Nya sebagai terapi ampuh untuk mendatangkan rezeki. Berhijrahlah di jalan Allah dengan sungguh-sungguh sebab dengan begitu pasti akan engkau peroleh rezeki yang banyak.


Ustadz H. Nur Malik S.Ag. didalam tausiahnya ketika menjadi narasumber kajian tematik Pimpinan Ranting Muhammadiyah Gayamsari menjelaskan tentang kata hijrah memiliki banyak arti. Antara lain, meninggalkan, pergi di bumi, berpindah dari sesuatu dan berpisah darinya dengan jasmani atau ucapan atau hati, dan keluar dari satu daratan menuju daratan lainnya. Sementara itu, kata hijrah juga memiliki makna ruhiyah, yaitu seseorang meninggalkan perbuatan maksiat dan tidak menoleh kepada hal-hal yang menyebabkan Allah SWT murka.



SEJARAH SINGKAT HIJRAH

Sejatinya hijrah adalah “saudara kembar” dari kerasulan. Hijrah yang disebut sebagai perjalanan penuh berkah karena Rasulullah SAW dan para sahabatnya akhirnya terlepas dari kesewenang-wenangan dan penyiksaan kaum musyrik di Makkah. Di Madinah, mereka pun mulai mengamalkan syiar-syiar agama dan menjauhi kezaliman. Disebutkan bahwa setelah hijrah, jiwa kemanusiaan benar-benar terbebas dari segala belenggu nafsu. Islam menjadi sebuah akidah bagi nilai-nilai kemanusiaan dan tempat berlindung dari segala marabahaya.

Adapun hijrah juga dilakukan oleh nabi-nabi yang lainnya. Para nabi terdahulu juga melakukan hijrah untuk menegakkan dakwah, contohnya Nabi Yaqub AS yang berhijrah dari bumi Irak untuk menghindari kedengkian saudaranya. Nabi Ibrahim AS pun hijrah ke Babil, sebuah daratan di Irak sebelum berhijrah lagi bersama istrinya, Sarah, menuju tanah suci Makkah. Selain itu, Nabi Luth AS juga berhijrah ke negeri Syam, lalu menetap di kota Nabulus, sebuah kota di Palestina yang terletak di tepi pantai barat Yordania dan dahulu dikenal dengan sebutan kota Samirah.

Bahkan, Allah menganjurkan hamba-Nya untuk melakukan perjalanan di atas bumi. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al Ankabut ayat 60 :

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَاَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللّٰهُ يُنْشِئُ النَّشْاَةَ الْاٰخِرَةَ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۚ

Artinya: Katakanlah, “Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Beberapa peristiwa hijrahnya para nabi tersebut menegaskan bahwa selama perjalanan mereka, mereka juga akan menemui hal-hal yang di luar perkiraan dan pertolongan Allah menjadi hal yang membuat mereka semakin beriman dan mencintai Allah.



MAKNA HIJRAH DI ERA MODERN

Terdapat golongan yang mendefinisikan hijrah secara global, tetapi ada pula golongan yang mendefinisikannya secara detail. Adapun ustadz Nur Malik didalam tausiahnya saat menjadi narasumber kajian tematik PRM Gayamsari menyebutkan bahwa hijrah terdiri dari dua bagian. Pertama adalah hijrah fisik yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya (baik ke Habasyah maupun ke Madinah) yang merupakan suatu kewajiban dan berakhir setelah berakhirnya peristiwa fath Al-Makkah. Sementara yang kedua adalah hijrah akhlak yang dilakukan oleh setiap muslim dengan cara meninggalkan perbuatan buruk dan beralih pada perbuatan baik sepanjang zaman. Hijrah akhlak inilah yang lebih familier dan juga sering dilaksanakan oleh umat muslim di masa kini.


Sebagai penutup, ustadz Nur Malik menjelaskan bahwa hijrah tidak mengharuskan perpindahan secara fisik dari suatu tempat ke tempat lain. Hijrah bisa dilakukan dengan meninggalkan akhlak yang buruk atau kebiasaan yang rendah dan menjerumuskan manusia pada kehinaan, syahwat, dan nafsu. Hijrah juga dapat diartikan meninggalkan pembicaraan yang menuju pada kemewah-mewahan duniawi. Dapat disimpulkan bahwa hijrah dapat dilakukan oleh siapa saja karena Allah menyukai hamba-Nya yang berlomba-lomba dalam kebaikan.





Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara