Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 5 menit baca

Langkah Senyap Muhammadiyah dalam Kebudayaan

Gunoto Saparie

Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah

Langkah Senyap Muhammadiyah dalam Kebudayaan

Di sebuah sore yang tenang di Kauman, Yogyakarta, suara adzan terdengar bersahut-sahutan. Di lorong sempit yang masih menyimpan bayang masa lalu, seorang lelaki tua membaca surat kabar yang telah kusut di tangannya. Di halaman belakang masjid itu, sejarah Muhammadiyah tertera dalam diam. Tetapi adakah sejarah itu bicara tentang kebudayaan?

Kita tahu, sejak awalnya, Muhammadiyah dibentuk bukan untuk menjadi gerakan kebudayaan. Tetapi ia juga tidak dibentuk untuk menolak kebudayaan. K.H. Ahmad Dahlan, sang pendiri, bukan seorang penghancur tradisi, tetapi ia pun bukan pemelihara tradisi semata. Ia lebih menyerupai seorang penafsir. Tafsir atas zaman, tafsir atas iman.

Kebudayaan, seperti juga waktu, bergerak dan berubah. Tetapi iman, kata sebagian orang bijak, ingin bertahan. Di situlah kadang terjadi ketegangan. Namun, Muhammadiyah, sejak awal abad ke-20, tidak memilih menjadi penonton dari dinamika itu. Ia masuk ke arus, sambil membawa sesuatu yang tetap: tauhid.

Goethe pernah berkata, “Tradition ist nicht die Anbetung der Asche, sondern die Weitergabe des Feuers.” Tradisi bukan penyembahan terhadap abu, melainkan penyampaian api. Saya kira KH Ahmad Dahlan akan setuju. Dalam pidato-pidatonya, dalam gerakan-gerakannya, dia tidak mengajak kita menyembah bentuk, tetapi menangkap semangat. Maka tak mengherankan jika Muhammadiyah menolak sebagian bentuk-bentuk budaya yang dianggap bertentangan dengan nilai Islam, namun tidak lantas menutup diri dari seni: musik, film, tari, teater, seni rupa, sastra, atau pemikiran.

Yang sering dilupakan adalah ini: dalam Muhammadiyah, terdapat semacam semangat puritan, tetapi juga semacam kerinduan pada pembaruan. Ia memurnikan sekaligus memodernkan. Maka kita bisa melihat sekolah-sekolah berdiri, rumah sakit dibangun, dan anak-anak diajari ilmu astronomi. Tetapi pada saat yang sama, sesajen dibuang dari halaman rumah.

Bagi Muhammadiyah, budaya adalah arena, bukan kuil. Ia bisa ditawar, disusun ulang, bahkan ditinggalkan. Tetapi bukan untuk dihina. Karena sesungguhnya, kebudayaan adalah cara manusia mengelola kenyataan. Dan iman, barangkali, adalah cara manusia mengelola harapan.

Tentu saja, ada ketegangan. Di antara wayang dan wahyu, di antara gamelan dan ghirah. Namun, bukankah dalam ketegangan itulah hidup memperoleh bentuk? Di titik ini saya teringat kata-kata Albert Camus: “Art and revolt will die only with the last man.” Mungkin juga: kebudayaan dan iman akan terus bertarung serta saling menghidupkan.

Muhammadiyah tidak membakar panggung kesenian. Tetapi ia bertanya: Untuk apa panggung ini dibuat? Ia tak serta-merta menolak tradisi. Namun ia mengajukan pertanyaan mendasar: Apakah tradisi ini membawa cahaya atau hanya bayang-bayang?

Dan mungkin memang di situlah letaknya: Muhammadiyah lebih suka cahaya daripada bayang-bayang. Karena itu, ia bersedia kehilangan sebagian bentuk untuk mempertahankan makna. Dalam dunia yang sering menjadikan simbol sebagai segalanya, sikap ini terasa asing. Tetapi barangkali juga terasa jernih.

Maka ada yang luput, seringkali, jika kita berbicara perkara Muhammadiyah dan kebudayaan. Barangkali karena kata “kebudayaan” lebih akrab terdengar dalam ruang-ruang teater atau galeri seni rupa. Di tempat di mana puisi dinyanyikan seperti doa, atau sebaliknya; doa dipuisikan seperti lagu yang gugur dari pohon-pohon tua. Muhammadiyah, di mata banyak orang, lebih lekat dengan madrasah, masjid, rumah sakit. Institusi, bukan imajinasi.

Akan tetapi, justru di sanalah kekeliruan kita bermula.

Muhammadiyah, sejak awal, bukan hanya organisasi keagamaan. Ia adalah laku budaya. Ketika Ahmad Dahlan mengajarkan surat Al-Ma’un dan menggerakkan murid-muridnya merawat fakir miskin, ia sedang mengikis tembok antara ibadah dan praksis sosial. Tetapi bukankah itu pula yang dilakukan kebudayaan? Membumikan nilai, menjadikannya hidup, bahkan banal, dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam senyap, Muhammadiyah membangun sebuah etika publik yang tak rewel. Ia jarang mengangkat suara di panggung seni, tetapi ia membangun panggungnya sendiri: sekolah-sekolah tempat anak-anak belajar berpikir, bukan sekadar menghafal; rumah-rumah sakit yang melayani manusia sebelum bertanya agama. Itu adalah kebudayaan, di mana menurut Clifford Geertz lebih dari sekadar artefak: ia adalah sistem makna.

Kita bisa menengok Teater Kauman. Bukan sekadar kelompok drama, tetapi cermin dari keberanian Muhammadiyah menjangkau ekspresi yang sering kali dianggap asing bagi gerakan keagamaan. Atau Sanggar Alif di Surabaya, yang menyatukan jalan sunyi sufistik dan panggung kreatif dalam tubuh kader muda Muhammadiyah. Bahkan di Padang, sekelompok aktivis muda Muhammadiyah menerbitkan zine dan menyelenggarakan diskusi sastra; dalam sunyi, dalam tekad.

Komitmen kebudayaan Muhammadiyah tidak meledak, tetapi meresap. Ia tidak hadir dalam euforia festival, tetapi menyusup dalam gerak-gerik pendidikan, dalam pembangunan literasi umat. Lihat perpustakaan-perpustakaan kecil yang dibangun di pelosok, bukan untuk prestise, tapi untuk menghidupkan bacaan. Atau kajian budaya yang dirintis Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, dari sejarah peradaban Islam hingga kritik atas budaya digital.

Kebudayaan, dalam tafsir Muhammadiyah, adalah medan amal. Ia bukan tontonan, tetapi tuntunan. Dan karena itu, ia kadang tidak terlihat. Seperti akar, yang terus bekerja meski tak memunculkan bunga.

Akan tetapi, bukankah itu pula hakikat dari sebuah peradaban? Ia tumbuh perlahan, mengendap dalam nilai, dan suatu hari nanti, kita sadar: yang kita sebut “Indonesia modern” tak lepas dari jejak langkah para penggerak yang memilih berjalan, bukan bersorak.
Di banyak ruang, terutama ruang yang disesaki suara keagamaan, kesenian telah lama dicurigai. Patung dianggap berhala. Lukisan dianggap meniru ciptaan Tuhan. Musik dianggap pintu syahwat. Ketika gema pengharaman menguat, yang pertama-tama jadi korban bukan hanya seniman, tetapi juga kemungkinan.

Namun Muhammadiyah, dalam diam, memilih jalan yang lebih sepi, dan ternyata lebih rumit.

Ahmad Dahlan, guru besar pembaharu itu, dikenal sebagai sosok yang tak gentar menabrak kemapanan. Akan tetapi ia tidak datang dengan palu, melainkan dengan tafsir. Dan tafsir adalah kebudayaan. Maka ketika sebagian ulama mengharamkan lagu, Muhammadiyah membentuk kelompok kasidah. Ketika patung dianggap tabu, Muhammadiyah mengajarkan ilmu anatomi di sekolah-sekolahnya. Ketika gambar manusia dikutuk, Muhammadiyah mencetak buku pelajaran dengan ilustrasi wajah dan tangan.

Sebab dunia tidak dibangun dari ayat saja, tetapi juga dari tanggapan atas kenyataan. Sebab seni, seperti juga doa, bisa menjadi jalan pulang. Dan Muhammadiyah, dalam tafsirnya yang panjang, membiarkan pintu itu tetap terbuka.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: