Mencari Husnul Khatimah di Tepian kota Semarang : Kisah Inspiratif Pesantren Lansia At-Taqwa
NGALIYAN, muhammadiyahkotasemarang.org – Menanggapi kebutuhan spiritual dan kesehatan kaum lanjut usia (lansia) yang semakin meningkat, sebuah inisiatif luar biasa bernama Pesantren Lansia lahir dari Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates, Semarang. Program ini menarik perhatian publik dan diulas tuntas dalam siaran RRI PRO4 Semarang pada Sabtu (9/8/25).
Acara tersebut menghadirkan para tokoh kunci, termasuk Drs. M. Solikulhadi, MPA, selaku Koordinator Program, Drs. Hardjanto NB sebagai Pengurus PPLKS, serta dipandu oleh Host RRI PRO4, Titis Sambodo. Mereka berbagi cerita inspiratif tentang bagaimana pesantren ini dirancang khusus untuk membina dan mendampingi para lansia agar dapat menjalani masa tua dengan lebih bermakna, baik secara fisik maupun spiritual.
Ide ini lahir dari kesadaran bahwa jumlah lansia di Indonesia terus melonjak seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup. Berbeda dengan program penekanan angka kelahiran, pertambahan populasi lansia adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan justru menjadi cerminan bahwa masyarakat hidup lebih sehat.
Maka, alih-alih menganggap ini sebagai beban, takmir Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates sebagai bagian dari Muhammadiyah Kota Semarang melihatnya sebagai peluang. Mereka ingin menciptakan ruang yang tidak hanya sekadar tempat pengajian biasa, melainkan sebuah wadah berkelanjutan untuk para kakek dan nenek.
Dalam siaran di RRI, Drs. M Solikulhadi, MPA, selaku Koordinator Program Lansia di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, menyampaikan pandangannya. “Tujuan utama kami, bukan hanya sekadar memberi mereka pembelajaran sesaat.
Kami ingin menuntun para lansia ini menuju akhir kehidupan yang baik, atau husnul khatimah,” ujarnya.
“Oleh karena itu, pendampingan kami lakukan secara berkelanjutan, bahkan sampai ke rumah-rumah melalui pengajian daring via Zoom,” tambahnya, menegaskan komitmen program ini dalam menemani perjalanan spiritual para lansia.
Pembelajaran Agama dan Kesehatan dalam Satu Paket

Program Pesantren Lansia ini dirancang seperti sekolah kilat, namun dengan fokus pada pengisian ulang semangat dan spiritualitas. Pesertanya yang diibaratkan sedang di-recharge diajak untuk memahami bagaimana menjalani masa tua yang baik, baik dari sisi fisik maupun spiritual.
Kegiatan rutin ini diadakan dua hari setiap bulan di pekan pertama, dengan lokasi masjid baru di daerah Wates, Ngaliyan, tepian barat Semarang yang jauh dari kebisingan kota. Suasana alam yang tenang ini dipilih sengaja untuk membantu menenangkan batin para peserta, mendukung momen-momen refleksi dan kontemplasi.
Salah satu kegiatan utamanya adalah perbaikan bacaan Al-Qur’an dan tajwid. Program ini sangat relevan mengingat banyak lansia zaman dulu yang memiliki keterbatasan sarana belajar agama.
Selain itu, ada juga sesi muhasabah, yaitu kontemplasi mendalam yang biasanya dilakukan pada malam hari dengan salat tahajud dan zikir panjang. *Momen introspeksi ini sering kali membuat hati para peserta tersentuh.Bahkan tak jarang diiringi tangis haru, seolah-olah batin mereka terbuka,” ujar Solikhul.
Tak hanya spiritualitas, kesehatan para peserta pun jadi prioritas utama. Setiap santri lansia akan mendapatkan pemeriksaan medis rutin berkat kerja sama dengan rumah sakit Roemani milik Muhammadiyah.
Jadwal kegiatan diawali dengan senam lansia, dilanjutkan dengan sarapan bersama, dan tausiah di lapangan masjid. Untuk mempermudah mobilitas para peserta yang sudah tidak lagi prima, panitia juga menyediakan layanan antar-jemput ke titik-titik tertentu.
Pendampingan Berkelanjutan untuk Raih Husnul Khatimah

Tujuan utama dari Pesantren Lansia ini terang Solikhuhadi, bukanlah sekadar memberikan pelajaran sesaat, melainkan menuntun para lansia agar dapat mengakhiri hidupnya dengan baik, atau husnul khatimah.
Oleh karena itu, pendampingan terus dilakukan secara berkesinambungan, bahkan setelah kegiatan selesai. Ada pengajian daring melalui Zoom setiap Senin malam yang memastikan para peserta tetap terhubung dan terjaga semangatnya.
Di dalam pesantren ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai tingkat kemahirannya. Mereka yang sudah ahli bahkan ikut membantu peserta lain yang masih belajar, menciptakan suasana gotong royong yang hangat. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk para civitas akademika dari UIN Walisongo yang secara sukarela ikut mendampingi.
Solikhul mengakui, konsep pesantren lansia memang sudah ada di beberapa tempat lain, tapi Pesantren Lansia At-Taqwa Ngaliyan, Wates, memiliki keunikan tersendiri. Berlokasi di masjid tepian kota yang menyatu dengan kampung, tempatnya bukan hanya sekadar tempat ibadah, melainkan juga pusat pelayanan masyarakat. Masjid At-Taqwa ini juga aktif dalam pembinaan remaja, pelatihan bercocok tanam, dan pemberdayaan UMKM, menunjukkan perannya yang sangat vital di komunitas.
Harapan dari program ini sangat sederhana namun mendalam: para lansia dapat terurus dengan baik, baik secara fisik maupun spiritual.
“Program ini juga menjadi pengingat bagi generasi muda untuk lebih peduli pada orang tua di sekitarnya. Ketika fisik, relasi sosial, dan penghasilan mulai menurun, dukungan dari keluarga dan masyarakat menjadi sangat penting,” tandasnya.
Dengan bekal spiritualitas dan kesehatan yang prima, para lansia tidak akan menjadi beban, melainkan menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa usia senja adalah waktu yang tepat untuk mengoptimalkan persiapan menuju kehidupan abadi.