Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Melafalkan Bacaan “Sayyidina” dalam Shalawat: Pro Kontra dan Dalilnya (Bagian 1)

Drs. H. Danusiri, M.Ag

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Melafalkan Bacaan “Sayyidina” dalam Shalawat: Pro Kontra dan Dalilnya (Bagian 1)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa umat Islam hanya memiliki tiga pilar kesatuan yang tak terbantahkan: Allah sebagai Tuhan, Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi yang diyakini, dan Al-Qur’ânul Karîm sebagai kitab suci. Di luar ketiga hal fundamental tersebut, wilayah yang terbentang luas adalah wilayah khilafiah, sebuah ladang perbedaan yang—selama masih berada dalam batas penalaran ajaran dan tidak dicemari kepentingan individu, golongan, atau mazhab, melainkan murni Lillahi Ta’ala—sesungguhnya merupakan rahmat.

Namun, perbedaan yang melampaui batas ini, dikhawatirkan hanya akan mendatangkan laknat. Kali ini, sebuah polemik abadi yang sering memicu ketidaknyamanan psikologis di antara dua kelompok Muslim diangkat, yaitu perdebatan mengenai penambahan lafal sayyidina dalam bacaan shalawat.

Polemik tiada henti tentang sayyidina dalam shalawat memang sulit untuk dikompromikan dan diakhiri secara tuntas. Solusi terbaik yang sering dicapai adalah tawaqquf, yang berarti ‘kami begini, kamu begitu’. Walau demikian, secara psikologis, suasana toleransi yang bertolak dari khilafiah ini sering kali tetap menyisakan rasa kurang nyaman di masing-masing pihak.

Secara umum, terdapat dua golongan utama dalam melafalkan sayyidina dalam shalawat: pertama, golongan yang tidak menggunakan sayyidina, dan kedua, golongan yang menggunakannya. Perbedaan ini terjadi, antara lain, karena adanya kekurangan dalam menelaah hadis-hadis tentang shalawat secara komprehensif, sehingga kurang proporsional dalam mendudukkan bagaimana seharusnya bershalawat.

Sebagai gambaran, berikut daftar jumlah hadis tentang shalawat yang termaktub dalam sembilan kitab hadis induk:

  1. Kitab Bukhari ditemukan 11 Hadis
  2. Kitab Muslim ditemukan 9 Hadis
  3. Kitab Abudaud ditemukan 19 Hadis
  4. Kitab Tirmidzi ditemukan 18 Hadis
  5. Kitab Nasai ditemukan 24 Hadis
  6. Kitab Ibnumajah ditemukan 17 Hadis
  7. Kitab Ahmad ditemukan 72 Hadis
  8. Kitab Malik ditemukan 8 Hadis
  9. Kitab Darimi ditemukan 19 Hadis
    Jumlah 189 Hadis

Golongan Ber-sayyidina

Golongan yang menggunakan sayyidina merujuk pada beberapa dalil, termasuk pemahaman dari dua hadis yang secara implisit dapat dipahami sebagai anjuran bershalawat atas Nabi Muhammad, meskipun lafal eksplisitnya tidak menyebutkan sayyidina. Misalnya, penggunaan lafal sayyidil mursalîn yang merujuk kepada beliau, sementara lafal eksplisit yang menunjuk Muhammad tanpa sayyidina.

Berikut adalah salah satu hadis tersebut:

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ لَا تَددْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ قَالَ فَقَالُوا لَهُ فَعَلِّمْنَا قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِدِكَ وَرَسُولِكَ إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِرِ وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya:

Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah). Al-Aswad berkata; Orang-orang pun berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, “Ajarkanlah kepada kami,” Abdullah bin Mas’ud berkata (artinya: Ya Allah, jadikanlah shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada pemimpin para Nabi yang diutus (sayyidil mursalīn), imam orang-orang yang bertakwa dan penutup para Nabi, Muhammad, hamba dan rasul-Mu. Seorang imam dan pemimpin kebaikan, serta rasul pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji, kedudukan yang menjadikan iri orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung) (HR Ibnu Majah: 896. Nashiruddin al-Albani dan Abu Tahahir Zubair Ali Zai mengatakan bahwa hadis ini lemah).

Karena hadis ini secara sanad dinilai lemah, maka dianggap kurang bijak jika dijadikan dasar dalam ibadah maḩḍah, khususnya dalam posisi tahiyat salat. Memang terdapat teori, jika Ibnu Majah meriwayatkan hadis sendirian, sementara empat imam lainnya (Abu Dawud, Turmuzi, Nasa’i, yang sama-sama menyusun kitab Sunan) tidak meriwayatkan, hadis tersebut dipastikan lemah. Demikian kritik al-Mizi tentang Sunan Ibnu Majah.

Secara matan (isi teks), hadis ini juga tampak ta’aruḍ (pertentangan) atau istilah filosofisnya contradictio-in-termini, yaitu pertentangan dari dalam. Maksudnya, satu unit teks maknanya bertentangan. Teks pertama berbunyi:

قُولُوا اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ

Secara eksplisit disebutkan sayyidil mursalîn, yang penjelasannya menunjuk Muhammad. Sementara itu, teks selanjutnya berbunyi:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Pemahaman atas teks pertama, yang menyebutkan sayyidil mursalīn dan seterusnya, adalah kata-kata Abdullah bin Mas’ud ketika memberi penjelasan kepada para penanya tentang bagaimana bershalawat atas Nabi Muhammad. Selanjutnya, teks shalawat yang dicontohkan Abdullah bin Mas’ud adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

Alasan Penghormatan

Namun, ada alasan lain yang lebih kuat yang melandasi penggunaan sayyidina dalam bershalawat, yaitu ta’zhîm (pengagungan) kepada pemimpin yang paling agung, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dengan demikian, menyeru atau memanggil beliau harus dilakukan dengan penghormatan yang lebih tinggi dibandingkan kepada pemimpin siapapun dan dalam ranah apapun.

Dianggap sangat tidak sopan jika menyapa beliau langsung dengan namanya saja, atau dalam bahasa Jawa disebut jangkar. Padahal, kepada ulama saja disematkan sederet kata penghormatan.

Penghormatan dengan memakai sayyidina dalam shalawat mengacu pada hadis ṣaḩîḩ yang secara eksplisit menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah sayyidu waladi adama (penghulu anak Adam):

قَا لَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

(Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak Adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at – HR Muslim: 4223),

dan:

أَنَا سَيِّدُ الْقَوْمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

(HR Bukhari: 3092).

Secara tekstual, menurut kedua hadis di atas, posisi Nabi Muhammad adalah sebagai sayyid seluruh manusia di akhirat. Selanjutnya, dipahami bahwa jika di akhirat saja beliau berkedudukan sebagai sayyid, apalagi di dunia bagi orang yang mengaku sebagai umatnya!

Soal orang kafir yang tidak mengaku Muhammad sebagai pemimpinnya, itu adalah persoalan lain. Itulah sebabnya, atas dasar penghormatan kepada penghulunya, baik di dalam tahiyat salat maupun di luar salat, lafal sayyidina dianggap perlu digunakan di dalam bershalawat.

Wallâhu a’lamu bisahawâb

(bersambung)

Baca juga:

Melafalkan Bacaan “Sayyidina” dalam Shalawat: Pro Kontra dan Dalilnya (Bagian 2)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: