Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia membutuhkan petunjuk agar tidak salah arah. Allah Swt. Yang Maha Bijaksana tidak membiarkan kita berjalan tanpa panduan. Karena itulah, Dia mengutus para nabi dan rasul sebagai pembawa risalah-Nya. Namun, sering kali kita masih bingung, apa sebenarnya perbedaan antara Nabi dan Rasul? Dan mengapa mempercayai mereka menjadi bagian fundamental dari Rukun Iman?
Berikut penjelasan mengenai iman kepada para nabi dan rasul, yang kami sarikan dari buku Tanfidz Musyawarah Wilayah Tarjih II-III Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah No 105/KEP/III.0/H/2025.
Memahami Perbedaan Mendasar Nabi dan Rasul
Meski kita sering menyebutnya bersamaan, istilah “Nabi” dan “Rasul” memiliki makna spesifik.
• Rasul: Berasal dari kata Arab ‘rasala’ yang berarti utusan atau penyampai. Seorang Rasul adalah manusia pilihan Allah Swt. yang Allah angkat untuk menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia. Status ini murni pilihan Allah. Manusia tidak bisa mendapatkan status ini dengan usaha atau amalan.
• Nabi: Juga merupakan seorang yang Allah Swt. pilih untuk menerima wahyu. Kita sering menggambarkan peran utama Nabi sebagai Basyir (pembawa berita gembira) dan Nadzir (pembawa peringatan).
Lalu, di mana letak perbedaan utamanya?
Kunci perbedaannya adalah syariat. Allah mengutus seorang Rasul dengan membawa syari’at yang baru. Sedangkan, Allah mengutus seorang Nabi namun tidak membawa syari’at baru, melainkan menjalankan dan mendakwahkan syariat yang Rasul sebelumnya bawa.
Allah Swt. menegaskan keberadaan nabi dan rasul ini dalam firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi”. (QS. Al-Haj: 52)
Mengapa Kita Wajib Beriman Kepada Mereka?
Iman kepada para nabi dan rasul adalah sebuah kewajiban mutlak bagi seorang Muslim. Kita wajib percaya bahwa Allah Yang Maha Bijaksana telah mengutus mereka untuk memberi petunjuk ke jalan yang lurus.
Tujuan utama Allah mengutus mereka adalah:
1. Sebagai Pembawa Kabar: Mereka membawa berita gembira (surga bagi yang taat) dan peringatan (neraka bagi yang ingkar).
2. Menegakkan Hujjah: Agar manusia tidak memiliki alasan untuk membantah Allah di akhirat kelak, karena para utusan telah menyampaikan petunjuk.
3. Menegakkan Keadilan: Allah membekali para utusan dengan bukti, kitab, dan “timbangan” (prinsip keadilan) agar manusia dapat hidup adil.
Hal ini seperti yang Allah Swt. firmankan:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Artinya: “Sungguh Kami telah Mengutus Utusan-utusan-Ku dengan membawa bukti dan beserta mereka itu aku berikan Kitab dan Neraca (timbangan) agar orang-orang menegakkan keadilan”. (QS. Al-Hadid: 25)
Saking pentingnya kedudukan iman ini, mengingkari salah satu saja nabi atau rasul yang Allah sebutkan namanya di dalam Al-Quran, dapat menjadikan seseorang keluar dari Islam (kafir).
Inti Keyakinan: Fondasi Iman Kepada Utusan Allah
Iman kepada nabi dan rasul bukan sekadar pengakuan lisan. Ini adalah keyakinan utuh bahwa Allah Swt. telah memilih manusia-manusia terbaik (Nabi) untuk menerima wahyu-Nya, dan di antara mereka ada yang Allah tugaskan untuk membawa syariat baru (Rasul). Mereka semua membawa misi yang sama: menyampaikan petunjuk, memberi peringatan, dan menjadi teladan untuk menegakkan keadilan di muka bumi, demi keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
Baca juga : Panduan Tasawuf Warga Muhammadiyah