Di berbagai mimbar pidato formal—dari panggung nasional hingga podium daerah—fenomena yang kini menjadi kelaziman adalah ritual pembuka sapaan yang panjang. Sebelum memasuki inti pembicaraan, para pejabat dan tokoh struktural dari kalangan muslimin kerap merangkai salam multiagama yang komplit, mulai dari Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh, lalu disambung dengan Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, hingga Salam Kebajikan.
Pelafalan salam multiagama yang mencakup Kristiani, Hindu, Buddha, Konghucu, dan kaum penghayat ini, telah mengakar sebagai simbol moderasi beragama dan loyalitas terhadap ideologi Pancasila. Namun, praktik yang dianggap sebagai penanda bijak dalam negara multikultural ini justru menjadi bibit perpecahan di kalangan umat Islam.
Saat ini, kaum muslimin terpolarisasi menjadi empat kelompok teologis: Salam Multiagama, Salam Tekstualis Sunnah, Salam Sunnah Gabungan Tekstualis-Kontekstualis, dan Salam Esensialis, . Polarisasi ini cukup potensial memecah keutuhan kaum muslimin dan ini tidak perlu dimantrai dengan shalawat haibah, yaitu shalawat berpola wirid (magical power) yang bertujuan memecah keutuhan dan kekuatan yang dianggap sebagai musuh.
1. Salam Multiagama
Dengan dalih moderasi beragama dan Pancasila harga mati, sebagian kaum muslimin, terutama para tokoh struktural, sangat fasih mengucapkan salam dari berbagai agama dan kepercayaan—Kristen-Katolik, Hinduisme, Budhisme, Konghucuisme, maupun kaum penghayat (aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau aliran kebatinan)—saat berpidato di hadapan audiens. Semua salam dari agama dan kepercayaan diucapkan, tanpa ada yang tertinggal.
Kelompok ini mengucapkan salam multiagama tanpa rasa dosa sedikit pun dan justru merasa bijak di tengah negara Pancasila yang memang terdiri atas rakyat multikultural, multiagama, multitradisi, multisuku dan bahasa, serta multipolitik praktis.
Ketika tokoh dari kaum muslimin hanya mengucapkan salam menurut sunnah saja, kelompok ini kadang melontarkan klaim—meskipun secara kasak-kusuk—seperti fanatik sempit, fundamentalisme, radikalisme, dan diskriminatif. Klaim ini datang baik dari saudara muslimnya sendiri yang tidak sepaham, maupun dari lintas agama. Loyalitas terhadap pemerintah yang sedang berkuasa kerap menjadi landasannya.
2. Salam Tekstualis Sunnah
Kelompok ini memahami salam termasuk ibadah mahdhah karena isinya adalah doa yang mencakup keselamatan, berkah, dan rahmat dunia-akhirat. Oleh karena itu, salam harus diucapkan secara tekstual apa adanya.
Banyak hadis sahih yang diajukan, salah satunya yang menunjukkan lafal salam:
Teks lafal salam:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: عَشْرٌ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: عِشْرُونَ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: ثَلاَثُونَ. رواه أبو داود والترمذي.
Artinya:
Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. Dia berkata, Assalâmu’alaikum. Beliau menjawab salamnya. Kemudian ia duduk, lalu Nabi saw. bersabda, Sepuluh. Kemudian datang lagi seorang laki-laki lain dan berkata, Assalâmua’alaikum warahmatullâh. Lalu beliau menjawab salamnya. Kemudian ia duduk, beliau pun bersabda, Dua puluh. Kemudian datang lagi orang lain dan berkata, Assâlamu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh. Beliau menjawab salamnya, ia pun duduk, lalu beliau bersabda, Tiga puluh (H.R. Turmuzi: 2613, Abu Daud: 4521, Darimi: 2526, Ahmad: 19101).
Dari teks ini, dapat dipahami bahwa:
- Salam minimalis-tekstualis adalah Assalâmu’alaikum.
- Salam medium adalah Assalâmua’alaikum warahmatullâh.
- Salam sempurna adalah Assâlamu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtu.
Berdasarkan Surat an-Nasa’:86, jawaban salam harus seimbang terhadap pemberinya. Petunjuk lain mengenai jawaban salam ditunjukkan oleh hadis berikut:
قَالَ هَا هُنَا وُصِفَ لِي قَالَ فَذَهَبَ يَلْتَمِسُ فَإِذَا هُوَ بِالْخَضِرِ مُسَجًّى ثَوْبًا مُسْتَلْقِيًا عَلَى الْقَفَا أَوْ قَالَ عَلَى حَلَاوَةِ الْقَفَا قَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَكَشَفَ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ قَالَ وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ
Artinya:
Musa berkata: Inilah tempat yang telah digambarkan kepadaku. Lalu dia mencari kemudian bertemulah dengan seseorang yang memakai kain penutup kepala, sambil berbaring. Musa mengucapkan salam kepadanya dan ia membalas sambil membuka kain yang menutupi wajahnya: Wa ‘alaikumus-salâm (HR. Muslim: 4386).
Dari teks ini dan spirit ayat di atas, dapat dipahami bahwa:
- Jika salamnya minimalis, maka jawabnya وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ.
- Jika salamnya medium, maka jawabnya وَعَلَيْكُمُ السَّلَام وَرَحْمَةُ اللهِ
- Jika salamnya komplit, maka jawabnya وَعَلَيْكُمُ السَّلَام وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Menjawab Salam Titipan
Jika menjawab titipan salam yang dinisbahkan kepada laki-laki tunggal, maka jawabnya seperti hadis ini:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا يَا عَائِشَةَ هَذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكِ السَّلَامَ فَقُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
(Rasulullah saw bersabda: Wahai ‘Aisyah, ini ada malaikat Jibril datang untuk menyampaikan salam kepadamu. Aku katakan: Wa ‘alaihis-salâm wa rahmatullâhi wabarakâtuh (HR Bukhari: 3484, 5733, (5783 hanya sampai waraḩmatullâh), Ahmad: 23671, 24564), Turmuzi: 2617, Ahmad: 23978).
Jika salam merupakan titipan dari seseorang, maka jawabnya adalah salam untuk yang menyampaikan dan yang menitipkan:
إِنَّ أَبِي يُقْرِئُكَ السَّلَامَ فَقَالَ عَلَيْكَ السَّلَامَ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلَاُم
“Sesungguhnya bapakku menitipkan salam untukmu.” Beliau lalu bersabda: Alaikassalam wa ‘Ala Abiikassalam (semoga keselamatan tercurahkan kepada kamu dan bapakmu) (HR Turmuzi: 4554).
- Kalau yang menyampaikan titipan seorang perempuan, tinggal menyesuaikan kata gantinya (tunggal ta’nis, yaitu ki), jadinya: عَلَيْكِ السَّلَامَ وَعَلَى أَبِيْكِ السَّلَاُم
- Jika baik penitip maupun penyampai salam perempuan, maka jawabnya: عَلَيْكِ السَّلَامَ وَعَلَيْهَا السَّلَامُ.
- Jika penitip maupun penyampai salam laki-laki, maka jawabnya: عَلَيْكً السَّلَامَ وَعَلَيْكَ السَّلَاُم.
Jadi, tuntunan menyampaikan maupun menjawab salam, untuk orang hidup, orang mati, dan berapa pun orang yang menyampaikannya, dibuat begitu standar dan seimbang, baik dari dimensi gender maupun terhadap orang mati.
Khusus kepada orang mati, salamnya sekaligus doa:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
(Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian (HR. Muslim: 1620, Nasa’i: 1020, 2013, Ibnu Majah: 1036, Ahmad: 21907, 21967) .
Salam di luar standar tentu disalahkan oleh Rasulullah sekaligus diberi solusinya. Hadis berikut buktinya:
فَقُلْتُ عَلَيْكَ السَّلَامُ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ إِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامَ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى إِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامَ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى إِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامَ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى سَلَامٌ عَلَيْكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا
“Untukmu salam, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw menjawab: Sesungguhnya ‘alaikas-salâm adalah doa keselamatan untuk orang yang telah meninggal. (diulang tiga kali) Semoga keselamatan atas kalian, semoga keselamatan atas kalian, dua kali atau tiga kali (HR Abu Dawud: 4533, Ahmad: 15389).
Kelompok tekstualis sunnah sering menganggap kaum salam multiagama sebagai kaum liberalisme yang “ngomong sak kepenake dewe” (berbicara sesuka hatinya).
Wallâhu a’lamu bi ṣawâb.
(Bersambung)
Baca juga:
FIQIH SALAM (2): Meninjau Salam Sunnah Kontekstualis dan Salam Esensialis
Melafalkan Bacaan “Sayyidina” dalam Shalawat: Pro Kontra dan Dalilnya (Bagian 1)