Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Diberi Rompi dan ID Card Media, Kakek 70 Tahun Ini Resmi Jadi ‘Wartawan Muhammadiyah’

23 November 2025, 19:16 WIB 4 menit baca
Diberi Rompi dan ID Card Media, Kakek 70 Tahun Ini Resmi Jadi ‘Wartawan Muhammadiyah’

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Sebuah pemandangan mengharukan sekaligus inspiratif tersaji dalam pembukaan Workshop Reputasi Digital dan Rapat Koordinasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Se-Kota Semarang, Sabtu (22/11/2025) kemarin. Di antara puluhan wajah muda para relawan media Muhammadiyah yang antusias, langkah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Drs. Nurbini, M.S.I., terhenti di hadapan seorang kakek berusia 70 tahun.

Dengan senyum ramah, Nurbini dengan hati-hati memakaikan rompi biru dongker bertuliskan “Relawan Media Muhammadiyah” serta mengalungkan ID card peliputan resmi yang dikeluarkan MPI PDM Kota Semarang itu.

Momen tersebut menjadi penanda bahwa adaptasi dakwah Muhammadiyah di era digital merangkul semua kalangan, bahkan yang telah melintasi dua generasi.

Tokoh senior yang juga merupakan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PDM Kota Semarang, adalah salah satu dari 90 peserta yang diresmikan sebagai relawan media Muhammadiyah. Kehadiran dan semangatnya menunjukkan bahwa geliat jurnalisme warga ala Muhammadiyah ini merangkul semua kalangan demi mengokohkan syiar Islam Berkemajuan.

Berkiprah di Media Sejak Kuliah

Sosok di balik rompi biru itu adalah Pudjo Koeswhoro. Lahir pada 13 Mei 1955, ia bukanlah sosok biasa di Persyarikatan. Pudjo merupakan alumni Magister (S2) Arsitektur ITB (1990) dan memiliki latar belakang keluarga yang kental dengan pelayanan publik. Istrinya, Dokter Hj. Rihadini, SpKJ (Psikiater), aktif di RS Roemani Muhammadiyah serta mengajar di FK UNIMUS & UNDIP. Sementara dua putranya berkarir di bidang HI dan Arsitektur Urban dan kini tinggal di Sharjah, Dubai, UEA.

Minat Pudjo pada dokumentasi media sudah terbangun sejak masa kuliah. “Motivasi diawali sejak mahasiswa arsitektur, minat pada bidang fotografi dan video untuk merekam, mendokumentasi objek keindahan alam ciptaan Allah SWT, dan meningkat pada obyek arsitektur, lanskap, dan perkotaan khusus objek heritage sebagai hasil pusaka budaya (cultural heritage),” ungkap kakek dengan dua cucu ini.

Pengalaman liputannya bahkan mengantarkannya ke ranah kebencanaan. Ia pernah mendokumentasikan Paska Gempa Bumi di Jogja tahun 2006 saat menjadi Tim Ahli Urban & Heritage Kotagede DIY. Dokumentasi reportase ini digunakan untuk Rekonstruksi Pemberdayaan berbasis Komunitas dan dilaporkan untuk dipublikasikan kepada sepuluh negara donor seperti Java Reconstruction Fund (JRF) & Bank Dunia.

Motivasi Pudjo: Membangun Brand Image Dakwah

Pengalaman panjang Pudjo dalam reportase visual dan narasi inilah yang membuatnya tertarik bergabung menjadi bagian dari Tim Relawan Media Muhammadiyah Kota Semarang.

“Saya tertarik ikut Workshop Reputasi Digital karena memahami pentingnya dalam berdakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, memerlukan belajar untuk memahami metode, konsep, serta teknik peliputan sejenis jurnalistik reportase melalui dokumentasi foto, video serta narasi tertulis dan visual,” jelas Pudjo.

Menurutnya, pemberitaan digital dapat membangun persepsi positif tentang brand image dakwah, kegiatan sosial-budaya, maupun kegiatan pemberdayaan umat di Persyarikatan Muhammadiyah.

Selama ini, ia aktif mendokumentasikan kegiatan dakwah Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah Kota Semarang, yang dipublikasikan melalui akun resmi Instagram LDK @ldkpdm_semarang.

Mata dan Telinga Organisasi

“Momen Pak Pudjo menerima rompi ini adalah cerminan semangat Muhammadiyah yang tak pernah berhenti belajar dan beradaptasi,” ujar Ketua Majelis Pustaka Infomasi (MPI) PDM Kota Semarang, Hadi Santoso, S.T. M.Si.

Hadi Santoso menegaskan bahwa para “Wartawan Muhammadiyah” ini memiliki tugas dan fungsi yang sangat penting. Tugas pokok mereka bukan hanya sekadar membuat dan mempublikasikan konten. Lebih dari itu, mereka adalah garda terdepan dalam menjalankan Brand Proofing Muhammadiyah.

“Mereka harus menjadi mata dan telinga organisasi untuk mendokumentasikan setiap kiprah dan dampak nyata yang telah dilakukan Muhammadiyah, serta menyampaikannya secara transparan dan akuntabel kepada publik,” tegas Hadi.

Branding Digital dengan Bantuan AI

Workshop yang diikuti oleh 90 peserta ini memberikan bekal komprehensif. Materi yang disampaikan oleh Raka Manggala dari Kolamide.id menekankan pentingnya membangun branding yang dimulai dari solusi nyata (Problem Solving) atas masalah publik.

Sementara Abduh Immanulhaq, Digital Manager Tribun Jateng, membekali peserta dengan taktik operasional media sosial, termasuk efektivitas video pendek.

Adapun Agung S Bakti, Kordinator Media Center MPI PDM Kota Semarang, membawakan materi dengan tema “Pembuatan Konten Berita dan Copywriting dengan Bantuan AI,” menunjukkan kesiapan Muhammadiyah beradaptasi dengan teknologi terbaru.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Drs. Nurbini, M.S.I., dalam sambutannya, berharap sinergi media dan pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (AI) dapat membuat Muhammadiyah semakin dikenal luas dan mendapatkan reputasi yang baik.

Kini, dengan rompi dan ID card resmi media, serta bekal ilmu jurnalistik maupun media sosial berbasis AI, 90 “Wartawan Muhammadiyah” ini siap menjadi duta informasi.

baca juga:

Reputasi Digital Bukan Hanya Soal “Gencar Posting”, Tapi Bukti Nyata di Publik!

Kontributor: Agung S Bakti
Editor: Tim MPI PDM
Bagikan: