Pimpinan Muhammadiyah Diwanti-wanti Jauhi Perilaku Pamer dan Kikir
MAGELANG, muhammadiyahsemarangkota.org– Sikap “pamer dan medit” (membanggakan diri dan kikir) di kalangan pimpinan Muhammadiyah dan kadernya disebut sebagai ancaman serius yang berpotensi memicu kerawanan sosial internal persyarikatan.
Peringatan keras ini disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Drs. KH. Jumari Al Ngluwari, dalam acara capacity building Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang yang berlangsung di Aula kantor PDM Kabupaten Magelang, Sabtu (29/11/2025).
KH. Jumari menekankan bahwa pemimpin yang menunjukkan kehebatan diri namun kikir justru akan merusak kondusivitas organisasi.
Kerawanan Sosial Akibat Egoisme
KH. Jumari Al Ngluwari menjelaskan bahwa kombinasi antara ‘pamer’ (menampilkan kemewahan atau kehebatan diri) dan ‘medit’ (kikir atau pelit) pada diri seorang pemimpin akan menciptakan jurang pemisah. Kesenjangan ini akan menimbulkan gejolak dan disharmoni di akar rumput.
Dampak buruknya, gejala ini secara langsung berpotensi merusak kondusivitas dan integritas internal organisasi, memicu kerawanan sosial di tubuh persyarikatan.
Dalam paparannya, tokoh Muhammadiyah dari Magelang ini juga mewanti-wanti para pimpinan Muhammadiyah agar tidak membalikkan niat dasar dalam berorganisasi. Sikap mencari keuntungan pribadi adalah praktik yang harus dihindari.
“Jangan dibalik. Kalau dibalik itu justru kita mencari keuntungan dari berorganisasi,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa organisasi Muhammadiyah harus diposisikan sebagai medan pengorbanan dan pengabdian. Idealnya, pemimpin harus menjadikan persyarikatan sebagai tempat untuk memberi dan berjuang, bukan alat untuk kepentingan atau keuntungan pribadi.
Menjaga Keteladanan
Oleh karena itu, setiap pemimpin dituntut untuk menyadari tanggung jawab besar yang diemban. Sikap ideal yang harus dimiliki adalah menjamin diri tidak terjebak dalam pusaran pamer atau kikir.
Keteladanan ini sangat penting demi menjaga kepercayaan publik dan menjamin kondusivitas organisasi secara berkelanjutan.
Peringatan ini disampaikan di hadapan lebih dari 100 peserta yang terdiri dari perwakilan unsur Pembantu Pimpinan (UPP) majelis dan lembaga PDM Kota Semarang, beserta organisasi otonom (ortom).
Kegiatan ini juga diisi pemapaan materi oleh Ketua PDM Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi, M.Ag, dan Ketua PDM Kabupaten Magelang, KH. Muhammad Nasirudin, M.A.
Majelis dan Lembaga PDM yang ‘Tertidur’ Diminta Bangkit Lewat Capacity Buiding ke Magelang
Belajar dari PDM Magelang: Tolak Mentalitas Ketergantungan Dana