Sejak didirikan, Muhammadiyah telah memilih jalur dakwah aksi—menyentuh langsung urat nadi masyarakat lewat pendidikan dan kesehatan. Kehadirannya di lapisan sosial yang luput dari perhatian negara sudah tak terhitung. Ironisnya, di tengah gempuran informasi dan media sosial, kerja-kerja mulia ini justru kurang tergaungkan. Syiar Muhammadiyah di publik dinilai lemah.
Maka, tantangan terbesar bagi Persyarikatan hari ini bukanlah membangun amal usaha baru, melainkan mendesain ulang strategi komunikasi publik yang profesional agar kerja nyata mereka tidak tenggelam dalam kebisingan era digital. Inilah tesis utama yang harus disadari semua elemen persyarikatan.
Kekuatan Aset dan Urgensi Digital
Pertumbuhan Muhammadiyah yang begitu pesat menempatkannya sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar dan paling mandiri. Berdasarkan sejumlah kajian, total aset Muhammadiyah diperkirakan mencapai Rp 450 hingga Rp 464 triliun, menjadikannya salah satu organisasi keagamaan terkemuka di dunia.
Kekayaan ini bukan sekadar angka materi. Ia adalah kekayaan nilai, amal usaha yang masif, etos kerja, dan kemandirian yang telah menggerakkan jutaan kader di seluruh nusantara selama 113 tahun. Kekuatan ini harus menjadi modal, bukan rahasia.
Namun, aset fisik yang besar ini tidak akan maksimal dampaknya jika tidak dikomunikasikan secara strategis kepada publik luas di era digital. Era digital ini menuntut organisasi sebesar Muhammadiyah untuk tampil, berbicara, dan menunjukkan kiprahnya secara lebih luas melalui media sosial dan kanal-kanal publik lainnya.
Menggaungkan capaian Muhammadiyah ini bukan berarti riya atau kesombongan. Justru sebaliknya, keterbukaan informasi tentang kemajuan dan tata kelola persyarikatan adalah pelajaran berharga bagi bangsa.
Ormas-ormas lain dapat belajar bagaimana membangun kemandirian finansial, tata kelola modern, dan integritas lembaga yang berdiri di atas nilai-nilai keikhlasan dan profesionalitas. Muhammadiyah adalah bukti bahwa organisasi itu dibantu karena maju, bukan maju karena dibantu. Kemandirian adalah kunci keberlanjutan.
Syiar di Jari Jemari Umat
Kegiatan Muhammadiyah yang langsung menyentuh masyarakat—seperti pendidikan, kesehatan, tanggap bencana, dan pemberdayaan ekonomi—semuanya layak mendapatkan sorotan. Publikasi ini penting bukan untuk penghargaan, tetapi agar masyarakat lebih mengenal dan merasakan manfaatnya.
Laporan di berbagai daerah menunjukkan, tidak sedikit masyarakat yang baru menyadari besarnya kontribusi Muhammadiyah di lingkungannya setelah membaca berita, menonton dokumentasi, atau melihat postingan di media sosial. Syiar Muhammadiyah dan gebyar gerakan harus hadir sebagai bentuk dakwah bil-hal di jari jemari umat.
Oleh karena itu, pendekatan digital dan strategi komunikasi publik harus menjadi prioritas besar bagi Persyarikatan. Pimpinan, kader, dan amal usaha perlu memiliki kesadaran baru bahwa syiar hari ini tidak cukup dilakukan secara konvensional.
Perlu ada narasi besar yang terukur, dokumentasi yang rapi, dan manajemen komunikasi yang profesional. Tujuannya jelas: agar syiar Muhammadiyah semakin membumi, dicintai, dan diakui oleh masyarakat luas.
Pada akhirnya, menggaungkan Muhammadiyah adalah bentuk mujahadah—upaya memaksimalkan kebaikan agar semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya. Dengan menguat di ranah publik, Muhammadiyah tidak hanya memperkokoh jati dirinya, tetapi juga memperluas cahaya pencerahan bagi umat dan bangsa.
Kini saatnya semua elemen persyarikatan bergerak bersama mendesain ulang syiar ini, menguatkan, dan memajukan Muhammadiyah menuju peradaban utama.
Baca juga:
Dakwah Era Digital: Muhammadiyah Berkemajuan, Tapi Ketinggalan?