Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Cara Mengatasi Overthinking dan Quarter-Life Crisis dengan Kacamata Al-Qur’an

Lukman Al Hakim

Ketua Umum Komisariat IMM Al-Faruqi UIN Walisongo Semarang Periode 2024/2025, Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Arab

Cara Mengatasi Overthinking dan Quarter-Life Crisis dengan Kacamata Al-Qur’an

Fenomena gangguan kesehatan mental di kalangan Gen Z kini mencapai titik krusial. Banyak anak muda merasa mudah lelah dan mengalami burnout hebat setiap harinya.

Kelelahan ini bukan disebabkan oleh aktivitas fisik, melainkan karena pikiran yang tidak pernah beristirahat. Kondisi ini sering memicu quarter-life crisis, sebuah fase kecemasan massal tentang masa depan.

Salah satu fokus utama bagi anak muda saat ini adalah mencari cara mengatasi overthinking. Secara substansi, kondisi ini adalah saat seseorang terjebak dalam penyesalan masa lalu dan kecemasan masa depan..

Di dunia digital yang sangat kompetitif, Gen Z sering merasa takut hanya menjadi NPC (Non-Player Character) dalam skenario kehidupan ini. Mereka khawatir hanya menjadi karakter figuran yang tidak dianggap, tidak memiliki kendali, dan hanya menonton kesuksesan orang lain di layar ponsel.

Ketakutan akan gagal, tertinggal (FOMO), dan perasaan bahwa hidupnya hanya akan menjadi “catatan kaki” membuat pikiran mereka menjadi sangat bising dan melelahkan.

Padahal, hidup tidak berjalan di dua waktu itu sekaligus. Ia hanya berjalan di satu waktu: hari ini. Sekarang.

Al-Qur’an telah lama memberikan protokol self-improvement untuk menjaga kesehatan mental kita. Dalam Surat Al-Hadid, Allah mengingatkan: Kaila ta’sau ‘ala ma fatakum.

Artinya, supaya kamu tidak bersedih berlebihan atas apa yang telah luput darimu. Ini adalah salah satu kunci utama cara mengatasi overthinking dari sisi spiritual.

Para mufasir, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa ini bukan larangan bersedih, melainkan larangan meratapi. Karena ratapan biasanya membuat orang stagnan dan lupa berjalan ke depan.

Lucunya, banyak dari kita yang menuntut masa depan harus pasti. Semua harus jelas: karier, pasangan, hingga pencapaian finansial. Kita ingin mengendalikan hasil, seolah ingin menjadi “saingan” Tuhan dalam mengatur segalanya. Lalu, kita hancur ketika hidup tidak patuh pada kehendak kita.

Cara Mengatasi Overthinking: Mengingat Allah

Padahal Allah sudah menegaskan dalam Surat Luqman: Wa ma tadri nafsun madza taksibu ghada. Tidak ada satu jiwa pun yang tahu apa yang akan ia kerjakan besok.

Menurut Fakhruddin ar-Razi, ayat ini justru merupakan bentuk pelepasan beban: masa depan bukan urusan manusia sepenuhnya. Di situlah letak ketenangan; bukan pada sempurnanya strategi, tapi pada kuatnya sandaran. Mengingat Allah adalah cara mengatasi overthinking yang paling sederhana dan efektif.

Al-Qur’an menyebutkannya dengan sederhana: Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub. Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Namun, tenang di sini bukan berarti masalah otomatis hilang. Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa tenang artinya tidak panik dan tetap stabil meski badai masalah masih ada di depan mata.

Sering kali kita panik duluan sebelum berpikir matang. Kita lupa satu ayat yang seharusnya menjadi fondasi mental health kita: Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.

At-Thabari menegaskan, tidak ada ujian yang salah alamat. Semua sudah ditakar dengan presisi. Jika hari ini kita masih bisa berdiri, berarti kita memang cukup kuat untuk menjalaninya.

Overthinking muncul bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena kita merasa harus memikul beban itu sendirian. Iman tidak membuat hidup tanpa masalah, tapi membuat masalah tidak terasa menindih.

Masa lalu sudah selesai. Masa depan belum dimulai. Yang sering kita lupakan adalah hari ini sedang berlangsung dan membutuhkan kehadiran kita sepenuhnya.

Al-Qur’an tidak menyuruh kita berhenti berpikir, ia hanya mengingatkan: jangan berpikir tanpa melibatkan Allah. Karena pikiran yang kehilangan arah akan lelah, tapi pikiran yang bersandar kepada-Nya akan menemukan dermaga.

Mungkin bukan hidup kita yang salah. Mungkin kita hanya terlalu lama berdialog dengan diri sendiri (monolog), dan lupa berbincang dengan-Nya (dialog).

Dan itu manusiawi, karena Al-insan makanul khoto’ wan nisyan—manusia tempatnya salah dan lupa. Namun, kembali pulang ke pelukan takdir-Nya adalah satu-satunya jalan keluar dari kebisingan pikiran.

Baca juga:

Qolbun Salim: Solusi Mengatasi Kegelisahan di Era Digital

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: