
MUHAMMADIYAHSEMARANGKOTA.ORG, GAYAMSARI – Hidup ini akan terasa berat jika hati tidak ikhlas dalam beramal. Meski amal yang dilakukan yang ringan, namun jika tidak ikhlas maka akan terasa sangat memberatkan. Diantara keutamaan orang yang ikhlas selalu merasa ringan dalam menjalani hidup ini, karena besar atau kecil amalan yang ia lakukan, senantiasa menikmatinya sebab yakin bahwa Allah Swt Maha Mengetahui dan Maha Menepati Janji.
Ustadz Atmo Nurvianto ketika menjadi narasumber kajian tematik PRM Gayamsari menyampaikan bahwa ada empat bahaya akibat tidak ikhlas dalam beramal. Pertama, tidak akan masuk surga. Baginda Rasulullah saw menjelaskan perihal orang yang menuntut ilmu agama untuk dunia dan untuk mendapatkan pujian orang dalam sebuah hadist dari sahabat Abu Hurairah r.a, “Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (ilmu agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah Swt, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud , Ibnu Majah, dan Ahmad). Menuntut ilmu merupakan suatu ibadah yang sangat mulia jika diikuti dengan ikhlas karena Allah Swt, namun menuntut ilmu akan menjadi sia-sia dan bahkan Allah Swt tidak menempatkan penuntut ilmu agama tersebut dalam surgaNya ketika dilakukan tanpa keikhlasan. Begitu juga dengan ibadah yang lainnya seperti shalat, zakat, puasa, haji, sedekah dan lainnya akan bernilai sama jika dilakukan tanpa keikhlasan.
Kedua, penyebab masuk neraka. Hakekatnya orang beramal dan beribadah adalah untuk mendapatkan ridha Allah Swt, ampunanNya, rahmatNya dan di tempatkan di surgaNya. Namun tatkala semua amalan dan ibadah dilaksanakan tanpa keikhlasan akan menjadi penyebab masuk neraka. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist Rasulullah saw dari sahabat Abu Hurairah r.a, “Orang yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid di jalan Allah. Lalu dia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-Nya, maka dia pun mengenalinya. Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah dilontarkan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, maka dia diseret dengan wajahnya (terjerembab di tanah), sampai dia pun dilemparkan di neraka.”
Ketiga, amalan tertolak. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah r.a, beliau berkata,“Datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw dan bertanya, ”Bagaimana menurut engkau (ya Rasulullah) jika ada seorang yang berperang untuk mengharapkan pahala dan sekaligus ingin disebut namanya (sebagai pahlawan), apa yang ia dapatkan? Rasulullah saw bersabda, “Ia tidak mendapatkan apa-apa”. Lelaki tadi mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Rasulullah saw tetap bersabda, “Ia tidak mendapatkan apa-apa”. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas mengharapkan wajah-Nya‘”. Hadits ini dan hadits-hadits semisalnya menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak akan diterima amalannya jika ia tidak mengharapkan wajah Allah swt dari amalannya tersebut.
Keempat, hilangnya pahala amalan. Lawan kata dari ikhlas adalah riya yang ditiupkan oleh syaitan untuk memalingkan manusia dari Allah Swt dan menjauhkan mereka dari keikhlasan. Riya adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya. Termasuk ke dalam riya’ yaitu sum’ah, yakni melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan, sehinga pujian dan ketenaran pun datang tenar. Ketika amalan dilakukan dengan riya atau tidak ikhlas, maka pahala amalan itu menjadi hilang. Sebagaimana Rasulullah saw sampaikan dalam hadist qudsi, “Allah Swt berkata kepada mereka (beramal tidak ikhlas) tatkala Allah Swt membalas amalan manusia dengan balasan, pergilah kalian kepada mereka yang dahulu kalian cari muka terhadap mereka. Perhatikanlah, apakah kalian akan mendapati balasan dari mereka?.
Sebagai penutup, ustadz Atmo Nurvianto mungatakan semoga Allah Swt senantiasa memberi petunjukNya kepada kita semua, sehingga kita dimudahkan menempuh jalan menuju keihklasan, dan menjauhkan dari perasaan ingin dipuji makhluk serta dimasukkan dalam golongan hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Editor : Muhammad Huzein Perwiranagara