Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Apakah Gerakan Muhammadiyah Membosankan atau Kadernya yang Kehilangan Ruh Inovasi?

Dr. H. KRAT. AM Jumai, S.E., M.M.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Apakah Gerakan Muhammadiyah Membosankan atau Kadernya yang Kehilangan Ruh Inovasi?
Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Masyarakat mengenal gerakan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang menempatkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar sebagai ruh perjuangan. Sejak berdiri pada tahun 1912, KH Ahmad Dahlan merancang organisasi ini sebagai motor pembaruan.

Gerakan ini konsisten mendorong kemajuan umat melalui jalur pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pencerahan keagamaan. Namun, di tengah dinamika zaman yang serbacepat, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang menarik. Apakah gerakan ini mulai membosankan, atau justru kader Muhammadiyah sendiri yang terjebak dalam rutinitas tanpa makna?

Pertanyaan ini hadir bukan untuk merendahkan organisasi yang telah berjasa besar bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya, otokritik ini menjadi bentuk refleksi agar organisasi tetap relevan menjawab tantangan zaman. Organisasi sebesar apa pun bisa mengalami titik jenuh jika para penggeraknya kehilangan semangat inovasi dan kemampuan beradaptasi.

Ruh Tajdid Muhammadiyah Menolak Kebosanan

Pada hakikatnya, gerakan Muhammadiyah tidak pernah mengajarkan kebosanan kepada para pengikutnya. Prinsip tajdid Muhammadiyah atau pembaruan justru menjadi salah satu identitas utama yang melekat kuat.

Makna tajdid tidak hanya terbatas pada pemurnian akidah dan ibadah semata. Konsep ini juga mencakup pengembangan pemikiran, metodologi dakwah, dan cara menghadirkan Islam berkemajuan dalam kehidupan modern. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa Muhammadiyah sebagai ide dan gerakan adalah sesuatu yang menjemukan.

Tantangan Kader Muhammadiyah di Era Dakwah Digital

Gejala kejenuhan ini tampaknya muncul karena sebagian pengurus menjalankan aktivitas organisasi sebatas rutinitas formalitas. Pertemuan-pertemuan rutin berlangsung kaku dan kehilangan ruh transformasi.

Pengajian pun sering kali hanya menjadi pengulangan materi lama tanpa ada upaya kontekstualisasi yang mendalam. Selain itu, beberapa orang memahami jabatan organisasi sebagai simbol kehormatan, bukan amanah untuk melahirkan karya nyata. Akibatnya, generasi muda kehilangan minat karena tidak menemukan ruang kreativitas dan aktualisasi diri.

Padahal, sejarah mencatat rekam jejak yang sangat kontras. Pendiri organisasi, KH Ahmad Dahlan, merupakan sosok progresif yang berani keluar dari zona nyaman pada masanya. Ia mengajarkan agama dengan pendekatan yang segar, mendirikan sekolah modern, dan membangun panti asuhan. Semangat mendobrak zaman inilah yang seharusnya mengalir dalam darah setiap kader Muhammadiyah masa kini.

Relevansi Islam Berkemajuan Menghadapi Masa Depan

Menjadi bagian dari organisasi ini bukan sekadar menghadiri rapat, mengenakan atribut, atau menghafal struktur kepemimpinan. Identitas ini menuntut kepekaan sosial, cara berpikir maju, kegemaran belajar, keterbukaan, dan kesiapan bekerja demi kemaslahatan umat. Ketika nilai-nilai proaktif tersebut hidup, gerakan ini akan selalu tampak segar dan memikat.

Di sisi lain, seluruh elemen organisasi harus menerima kritik terhadap budaya internal dengan lapang dada. Pengurus perlu mengevaluasi pola komunikasi, sistem kaderisasi, hingga model dakwah digital secara berkala.

Dunia bergerak sangat cepat dan generasi muda hidup di ekosistem digital dengan pola pikir yang berbeda. Model komunikasi satu arah tanpa dialog akan semakin ditinggalkan oleh zaman. Muhammadiyah wajib hadir dengan bahasa yang responsif dan relevan bagi setiap generasi tanpa kehilangan prinsip dasarnya.

Editor: Adib Abyan Alb
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: